Sebelum 1492, kita tidak benar-benar dapat menulis sebuah sejarah dunia; dunia yang kita kenal sekarang masih terpisah satu sama lain hingga Colombus menjejakkan kaki di San Salvador dan mengubah relasi antar dua belahan bumi. Namun, apakah dampak sang penjelajah Italia ini hanya sebatas perkenalan antar dua dunia, ataukah ada warisan lain dari mendaratnya Colombus di Dunia Baru?


Sejarawan mencatat apa yang disebut sebagai Columbian Exchange, sebuah proses di mana terjadi pertukaran yang masif antara Dunia Lama (Afro-Eurasia) dan Dunia Baru (Amerika) pasca kedua belah dunia dipertemukan satu sama lain oleh Colombus. Pertukaran ini jelas berdampak bagi kedua belah benua, yang kemudian menentukan masa depan dunia secara keseluruhan. Umumnya Columbian Exchange dibagi menjadi empat kategori persebaran; penyakit, tumbuhan, hewan, dan manusia.

Penyakit, Tumbuhan, dan Hewan

Penyakit menjadi kategori tersendiri karena dampaknya yang bahkan lebih masif; sekitar 50%-90% penduduk asli Amerika tewas akibat berbagai jenis penyakit yang dibawa oleh manusia dari Eurasia dan Afrika. Evolusi yang berbeda selama ribuan tahun membuat lingkungan Dunia Lama dan Dunia Baru berbeda; virus cacar, campak, dan tifus yang berevolusi di ternak sudah menyebar sangat umum di Dunia Lama. Sehingga, ketika virus tersebut menjangkiti manusia Dunia Baru yang belum pernah terpapar virus tersebut sehingga tidak memiliki immune yang sama, dampaknya menjadi sangat destruktif.

Meskipun begitu, transfer penyakit tidak hanya terjadi satu arah. Sifilis merupakan salah satu penyakit yang berasal dari Dunia Baru, disebarkan melalui kebiasaan seks bebas pelaut selama mengarungi Atlantik, dan kemudian menyebar ke seluruh Eropa serta Dunia Lama. Diperkirakan, penyakit-penyakit menjadi penyebab secara langsung maupun tidak langsung kematian penduduk asli Amerika selama eksplorasi Eropa ke Amerika. Selain membunuh secara langsung, penyakit melemahkan produktivitas kelompok masyarakat sehingga banyak terjadi kelaparan. Selain itu, kejatuhan dua bangsa besar di Amerika (Aztec dan Inca) disebabkan karena kematian pemimpin mereka akibat terjangkit virus sebelum akhirnya diluluhlantakkan oleh Spanyol.

Tumbuhan dan hewan menjadi komoditas penting pula, utamanya karena menjadi sumber makanan bagi kedua belah benua. Berbagai flora dan fauna seperti lele, jagung, tomat, cabai, tembakau, kentang, singkong, dan lainnya merupakan spesies asli Amerika yang dibawa oleh pelaut ke Eurasia dan kemudian menjadi makanan pokok negara-negara di Dunia Lama (kentang di Irlandia, singkong dan ketela di Asia Tenggara dan Afrika, jagung sebagai makanan ternak di Eropa, tomat menjadi bahan penting pizza Italia, cabai menjadi bahan utama kari India, dan sebagainya). Babi dan sapi yang dibawa dari Dunia Lama juga menjadi umum di Amerika karena perkembangbiakan mereka yang cepat dan dapat memenuhi kebutuhan kalori masyarakat.

Manusia

Selain penyakit, manusia menjadi aktor yang juga dominan dalam columbian exchange. Kedatangan penjelajah Eropa dan pendirian koloni-koloni di Dunia Baru tentu saja membuat populasi penduduk asli Amerika semakin terdesak. Benua Amerika kemudian menjadi wahana baru perebutan kekuasaan dan wilayah bagi entitas-entitas Eropa dan koloni-koloni mereka. Berbagai perang, pemberontakan, dan revolusi kemudian membentuk Dunia Baru menjadi negara-negara yang ada, yang sebagian besar penduduknya merupakan keturunan Eropa ataupun ras campuran.

Siapa Aktor yang Dominan?

Pertanyaan tersebut mengacu pada keempat pelaku sejarah dalam Columbian Exchange; penyakit, tumbuhan, manusia, dan hewan. Penyakit menjadi pembunuh utama, tumbuhan menjadi sumber pangan utama, hewan menjadi sumber pangan dan memberi pengaruh terhadap kebudayaan, dan manusia tak ayal lagi merupakan aktor yang dinamis dan yang menciptakan pertukaran ini terjadi. Lalu siapa yang dominan?

Sulit untuk menjawab bahkan menerka sekalipun; bahwa yang terpenting adalah, dalam sebuah peristiwa sejarah, aktor yang dapat membentuk sebuah peristiwa dan mempengaruhi kejadian-kejadian di masa depan tidak hanya manusia. Penyakit, tumbuhan, hewan, bencana alam, dan faktor non-manusia lain perlu diamati sebagai penentu kejadian sejarah. Sejarah bukan hegemoni milik manusia, manusia hanya pelaku yang terkadang figuran. [.]