Yang Sempat Tertulis

Mengubah TV Jadi Media Pendidikan di Indonesia

Senin malam yang melelahkan. Saya makan malam sambil memindah-mindah channel TV, berharap menemukan sesuatu yang menarik. Nihil. TV analog saya hanya diisi reality show yang menjual rasa iba, kontes dangdut abadi, dan sinteron yang itu-itu saja.

Ujung-ujungnya, setiap menonton TV, pilihan saya cuma dua: berita atau tayangan murah macam On The Spot atau Top Banget. Saya sebut “murah” karena menurut saya produksinya tidak menelan biaya besar; cukup comot video dari YouTube, diulang-ulang, diberi sedikit narasi dan animasi alay, siap tayang.

Tentu, acara “edukatif” semacam itu tidak hanya yang gemar comot dari YouTube. Acara-acara sejenis Jejak Si Gundul atau Laptop Si Unyil lebih menarik karena melakukan reportase langsung. Tapi tetap saja, acara-acara semacam ini jumlahnya sedikit dan tidak disiarkan di prime time.

Saya jadi heran, mengapa memperbanyak acara-acara pendidikan ini susahnya minta ampun?

Televisi Kini

Dahulu TV jadi sarana utama informasi dan hiburan yang interaktif. Sekarang, karena internet, TV makin ditinggalkan. Acara TV hanya tersisa untuk segmen tertentu (baca: emak-emak dan nenek-nenek).

Ini jadi seperti lingkaran setan. Acara TV tinggal yang digandrungi ibu-ibu saja, jadinya yang menonton tinggal ibu-ibu. Sehingga, saat disurvey, ya jelas acara TV yang ditonton ibu-ibu lah yang dianggap laku, sehingga stasiun TV malah makin menambah acara-acara sejenis dan enggan menampilkan yang lainnya.

Padahal, TV adalah sarana informasi dan edukasi termurah dan termasif. TV dimiliki hampir seluruh masyarakat (dibanding internet yang tidak semua punya akses). Akses TV juga murah; tingal beli, colokkan, lalu menonton, biaya yang dikenakan hanya biaya listrik.

Keunggulan TV ini sejatinya dapat dimanfaatkan pemerintah, kalau serius ingin meningkatkan program pendidikan di Indonesia. Tapi, entahlah, pemerintah dan korporasi media seakan tidak mampu melihat bahwa ini dapat jadi alternatif peningkatan kecerdasan bangsa.

Pendidikan Indonesia di TV

Kalau saya jadi pemimpin, ada beberapa hal yang ingin saya rombak soal pertelevisian agar menjadi sarana edukasi yang gratis dan masif. Saya akan merombak dari segi kebijakan dan kreatif.

1. Pilih Menteri yang Mengerti

Tentu, menteri yang mengurusi bidang telekomunikasi dan informasi lah yang jadi perpanjangan tangan pemerintah untuk mengatur pertelevisian. Sayangnya, sejauh ini menteri di bidang ini tidak memuaskan publik. Hutang politik atau apa, saya tak tahu. Yang jelas, seharusnya memilih menteri yang mengerti bidangnya.

Saya tak paham banyak soal TV, penyiaran, produksi kreatif, dan sebagainya. Itulah tugas menteri; ia yang paham harus berbuat apa. Yang penting tujuannya satu: membuat TV menjadi sarana edukasi yang murah dan menjangkau semua.

2. Program Edukasi = WAJIB

Saya akan menerapkan kebijakan agar tiap stasiun televisi WAJIB punya program edukasi yang ditayangkan di prime time. Hal ini agar tayangan tersebut ditonton oleh keluarga saat berkumpul atau makan malam, sehingga ketika muncul pertanyaan dari anak, orangtua dapat ikut dalam proses edukasi dengan memberikan jawaban dan diskusi.

Alternatifnya, stasiun milik negara (TVRI) dapat diubah menjadi TV edukasi. Tentu saja, kritik terhadap TVRI selama jelas: kurang menarik. Poin-poin di bawah dapat jadi jawaban bagaimana konten edukasi yang ditayangkan di TV tetap dapat jadi menarik.

3. Ajak Content Creator

Channel edukatif / pendidikan di YouTube sangat bejibun, tak terkecuali yang berbahasa Indonesia (misal Kok Bisa?, Hujan Tanda Tanya, Kamu Harus Tahu, dan banyak lagi). Hal ini adalah bukti bahwa peran generasi muda Indonesia di YouTube tidak melulu soal konten-konten clickbait dan prank. Artinya, sumber dayanya sudah ada, tinggal bagaimana mengelolanya.

Bagi saya, tentu tidak akan saya sia-siakan. Saya akan mengajak para content creator itu untuk membuat program yang ditayangkan di TV, baik di TV nasional maupun swasta. Jika dirasa sulit, alternatifnya, pemerintah dapat membeli lisensi channel mereka untuk ditayangkan di TV.

Sampai Saat Itu Tiba…

Menulis singkat seperti ini tentu relatif mudah dibanding terjun ke lapangan. Saya tidak tahu banyak soal peraturan penyiaran, kemelut pertelevisian dan tim kreatif, serta bargaining politik dan ekonomi apa yang terjadi di balik ini semua.

Yang jelas, saya mengakhiri makan malam saya dengan cepat. Saya jengah berlama-lama di depan TV, toh tidak ada yang menarik buat ditonton. Saya lebih baik makan cepat, lalu bersantai di kamar sambil menonton YouTube.

Dan saya yakin, inilah pula yang diiyakan oleh banyak masyarakat Indonesia lainnya.

Jadi, sampai televisi dapat memberikan tayangan yang edukatif dan menarik, saya rasa, ia hanya bertindak sebagai pengisi kesunyian makan malam saya. Menjadi background noise menemani suara kunyahan nasi dan tempe saya. Tidak lebih.

#Kabarhutanku #GolonganHutan #GolHutXBPN #BlogCompetitionSeries

« »