Pembelajaran utama yang dapat kita ambil dari penembakan di Christchurh: ‘Kita semua manusia’. Terdengar klise, namun makna pembelajaran ini sejatinya tidak seklise itu.


Serangan ke Masjid Linwood Islamic Center dan Masjid Al Noor di Christchurch, Canterbury, New Zealand pada tengah bulan ketiga tarikh 2019 dikecam seluruh dunia dan dikutuki sebagai serangan teroris. Hanya Anak Adam yang tidak mau tabayyun yang masih kekeuh bahwa dunia memandang remeh serangan ini dan—ujungnya—playing victim serta merengek kalau label teroris hanya disematkan kepada umat Islam saja.

Banyak peristiwa yang kemudian terjadi pasca serangan brutal ini: pernyataan penuh kontroversi si senator botak, aksi heroik si ‘eggboi’, sholat dan doa bersama cross-faith, hingga tarian Haka penghormatan bagi para korban. Jelas, serangan ini mengingatkan kembali dunia bahwa kita semua adalah manusia. Satu kesatuan, satu persamaan, dan—dengan begitu—terikat dalam satu kemirisan bersama bahwa apapun motifnya, pembunuhan bukanlah hal yang dapat dibenarkan.

Namun, menjadi satu ‘manusia’ sejatinya mengandung makna lain; bahwa si pelaku adalah manusia juga. Saya, kamu, bapak kamu, ibu kamu, tetangga belakang rumah kamu, gebetan kamu, sampai om-om penjaga toko di ujung gang pun juga manusia. Kita punya karakteristik yang sama. Lebih jauh, sejatinya pelaku dan kita semua sama; bahwa mungkin saja kita memiliki motif dan pemikiran yang sama dengan pelaku, namun saja kita tidak menyadarinya.

Saya tidak akan ndakik-ndakik membeberkan paham apa yang dianut pelaku karena terlalu kompleks. Manifesto yang terinspirari dari Perang Salib, perebutan Konstantinopel, paham ultra-kanan, hingga serangan serupa di AS dan Swedia dapat ditafsirkan berbagai arti. Tapi, intinya sama: Brenton Tarrant adalah seorang xenophobic, dan bahanya; pemikirannya dapat kita temui bahkan di warung sebelah rumah pak RT.

Bukan, ini bukan tentang tetangga kita yang tiba-tiba digruduk BNPT karena ternyata memiliki afiliasi dengan ISIS. Memang sih, Brenton adalah bukti nyata bahwa teroris dan ekstremis dapat berasal dari agama apa saja—kalau ekstremis Buddha di Myanmar, Ku Klux Klan, hingga kelompok ultra kanan Yahudi di Israel dirasa belum cukup sebagai pembuktian.

Brenton melakukan serangan itu setelah menghabiskan beberapa waktu berkeliling dunia, sehingga mungkin saja terpapar berbagai pemantik yang semakin menguatkan paham ultra kanannya. Hal yang sama berkali-kali menimpa saudara kita yang minggat ke Suriah dan Irak, menghamba ke ISIS, lalu pulang dan melakukan aksi yang tak kalah brutalnya. Iya, Brenton memang lebih cocok disejajarkan dengan teroris yang macam itu.

Tapi, ini bukan tentang pihak yang beraksi. Ini tentang pihak yang berpaham dan berpemikiran seperti Brenton. Kelompok-kelompok yang berpikiran bahwa kelompok lain adalah ancaman dan tindakan tidak bernorma terhadap mereka adalah hal yang wajar dan bahkan selalu didorong.

Pernahkah kita menemui, tetangga atau kerabat yang suka anti terhadap hal di luar kelompoknya? Anti terhadap Tiongkok (menghindari kata ‘Cina’ yang selalu diteriakkan secara peyoratif), misalnya? Atau anti terhadap—mengikuti saran NU—’non muslim’? Masih sangat jelas di ingatan kita bahwa isu kehadiran Tiongkok (dan ras Tionghoa) menjadi polemik di negara yang dahulu (entah sekarang) mengelukan kemajemukan ini. Isu tenaga kerja Tiongkok yang katanya menjadi strategi baru pemerintah kumunis untuk menginvasi Indonesia, misalnya? Atau ketika umat agama minoritas jadi bulan-bulanan diskriminasi sekelompok oknum yang mengatasnamakan agama mayoritas? Kasus biksu, keluhan adzan berujung pembakaran vihara, pemotongan nisan salib, dan lain sebagainya tentu saja masih lekat dalam ingatan kita hingga kini.

Atau, masih ingatkah ketika Ahok—simbol kaffah kawin silang ‘Cina’ dan ‘kafir’—menjadi isu nasional karena secara serampangan ia mengutip kitab suci umat mayoritas? Penistaan? Mungkin saja. Namun bukankah dengan turun ke jalan dengan atribut agama, membawa pemuka agama yang suka berteriak tak ubahnya Picollo, lalu meneriakkan nama Tuhan disusul ‘kafir’ dan ‘bunuh’ secara mengerikan termasuk penistaan juga?

Ternyata, Brenton menunjukkan kepada kita bahwa ia bukanlah alien. Ia sama seperti kita, seorang manusia, yang rupanya memiliki kemampuan membenci manusia lain. Bagi Brenton, ‘manusia lain’ itu Muslim. Bagi kita, ‘manusia lain’ itu bisa orang ‘Cina’ atau ‘non muslim’. Brenton, sebagai mayoritas di New Zealand, merasa bahwa kehadiran Muslim yang minoritas mengganggu tatanan ekonomi dan sosial New Zealand. Kita, sebagai mayoritas di Endonesa, merasa bahwa kehadiran Cina yang mayoritas mengganggu tatanan ekonomi dan sosial Endonesa.

Lantas, apa bedanya?

Brenton juga mengingatkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang penuh ironi. Ketika berbondong-bondong kita mengecam Brenton, dalam waktu yang bersamaan kita memiliki prasangka dan sikap anti terhadap kelompok di luar kita. Pagi hari sambil ngopi dan sebat kita mengutuk Brenton sambil misuh-misuh, sorenya sambil ngeteh dan nglethak slondhok kita share berita hoax tentara Tiongkok masuk RI, dengan harapan menumbuhkan sikap anti aseng di lingkungan perkawanan maya kita.

Brenton, seorang xenophobic, dikecam oleh kelompok xenophobic lain.

Brenton sendiri seorang warga kulit putih, yang tentu secara fakta sejarah terbukti merupakan keturunan bangsa Eropa yang datang dan menetap di Aotearoa. Lantas, bukankah Brenton sendiri seorang keturunan imigran yang datang ke tanah Maori ratusan tahun silam? Sekarang, Brenton berjuang agar “…mereka [Muslim] tidak akan pernah menaklukkan tanah kami dan mereka tidak akan pernah menggantikan kami.” Brenton lupa bahwa bangsa Eropa lah, moyangnya, yang ‘menaklukkan’ dan ‘menggantikan’ penduduk asli Selandia Baru.

Sebuah kemunafikan ironi yang hakiki.


Ketika Kemenkominfo menyatakan bahwa menyebarkan video penembakan di Christchurch dapat dikenai pasal UU ITE, sontak masyarakat gaduh. Apa pasal? Rupanya banyak yang tidak sepakat kalau video aksi Brenton yang ia siarkan secara langsung di Facebook itu dilarang disebarkan. Anehnya, ketidaksetujuan ini muncul dari kalangan Muslim sendiri.

Banyak yang bilang kalau video ini perlu disebarluaskan agar dunia tahu bahwa bukan cuma Muslim yang dapat menjadi teroris. Tugas yang mulia, namun sangat dungu (meminjam istilah Al Mukarrom Rocky Gerung). Mereka lupa kalau tersebarnya video tersebut adalah tujuan Brenton agar menginspirasi orang-orang seperti dirinya untuk mengambil tindakan serupa. Apakah umat Muslim sendiri yang ingin mendukung tujuan Brenton? Absurd.

Belum lagi jika membahas perihal empati; bagaimana jika korban yang terekam live tertembak itu ayah kamu, ibu kamu, adik-kakak kamu, orang-orang yang kamu sayang? Maukah orang-orang terdekat kita disaksikan oleh seluruh dunia tewas secara keji oleh seorang maniak, menciptakan trauma berat bagi keluarga dan dampaknya akan semakin sulit move on dan mengikhlaskan, bahkan sampai mau memaafkan?

Pemikiran dungu ini (saya pinjam lagi ya, prof) mengingatkan kita akan statement Tuan Botak Senator Anning segera setelah peristiwa penembakkan berlangsung. Simpati dengan korban, iya, namun malah secara dungu (pinjam lagi, prof) menyatakan bahwa tindakan ini akibat Islam, nggebyah uyah dengan santainya bahwa agama Islam ekuivalen dengan fasisme.

Tentu kita heran, alih-alih menghilangkan faktor-faktor penyulut konflik, kenapa malah menabur garam di luka? Bukan cuma menabur garam, tapi juga perasan lemon, cuka, dan irisan cabe, setelah sebelumnya luka tersebut dirobek makin dalam dengan silet.

Apakah yang hendak disampaikan oleh Yang Mulia Senator? Bahwa tindakan responsif kekerasan dan balas dendam dapat dibenarkan? Apa pula yang jadi jalan pikiran saudara kita yang malah marah-marah karena dilarang menyebar video penembakan? Apakah menjadi agen terorisme dan mencipta trauma itu diajarkan waktu ngaji?

Bertanya memang lebih mudah ketimbang memberi jawaban.


Brenton, Fraser Anning, dan kita semua sama-sama manusia yang memiliki potensi yang sama untuk dapat saling membenci kelompok di luar kita sendiri. Sekarang kita baru sampai pada tahap nggreneng sama tetangga, paling santer share konten-konten yang menjurus ke xenophobia dan diskriminasi kelompok lain di media sosial. Sementara bagi Anning, dia sudah menyatakan secara terbuka pemikiran xenophobicnya dalam kapasitasnya sebagai pejabat publik. Lebih jauh, Brenton telah sukses memanifestasikan kebencian tersebut dengan aksi nyata. Bukankah ini suatu tahapan evolusi pemikiran yang jelas berbahaya?

Saya yakin dan berharap korban yang meninggal dalam penembakan tersebut akan menjadi syuhada. Meninggal dalam niat beribadah, di hari Jumat, di dalam masjid, dan sedang menjadi musafir di negeri orang. Tulisan ini juga terinspirasi dari gugurnya para korban di Christchurch, dan jika menghasilkan suatu perenungan yang bermanfaat maka saya harap akan dihitung sebagai amal jariyah bagi para korban sehingga bertambahlah kebaikan para korban dalam menyongsong kehidupan alam barzah.

Died while praying, on a holy day, inside a holy place, then passed down an inspiration for our reflection.

What could be more holy?

[.]