“That’s how dad did it! That’s how America does it! And it worked pretty well so far.”


Saya pertama kali menonton Iron Man (2008) di TV waktu itu, jelas bukan di waktu premier nya di bioskop. Mungkin itu sekitar tahun 2010an di akhir saya SMP atau awal SMA. Padahal filmnya sendiri rilis waktu saya masih SD. Saya juga tidak peduli apa itu MCU dan segala tetek bengek interconnected universenya waktu itu. Yang saya ingat; Iron Man bagus, bahkan mungkin film superhero terbaik waktu itu, menurut saya.

Tentu saja 11 tahun kemudian rekor ‘film superhero terbaik’ dapat dengan mudah dikalahkan oleh, sebut saja, Avengers (2012) dan sekuelnya (bukan yang kedua, katanya), atau film yang digadang-gadang sebagai film MCU terbaik: Captain America: The Winter Soldier (2014). Atau dari saudara tiri MCU, Deadpool (2014)? Kalau kamu DC Fanboy, tentu beda lagi ceritanya.

Tapi menonton kembali semua film MCU secara maraton sebagai bekal Avengers: Endgame (2019) nanti, Iron Man tidak menunjukkan diri sebagai film usang. Ibarat pakaian yang lama disimpan di lemari dan suatu saat kita bongkar lemari nya karena mau pindah kamar, baju ini ternyata masih layak dipakai. Sangat layak. Bahkan untuk disumbangkan saja kita tidak tega. Saya bahkan setengah tidak percaya kalau film ini rilis pada 2008.

CGI nya jelas bagus, bahkan banyak yang bilang Iron Man suit lebih nampak nyata di sini dibanding ketika Tony baku hantam dengan Thanos. Soal cerita, film ini menyuguhkan origin story yang kemudian jadi formula di MCU: tokoh utama mengalami life-changing moment di awal film, redemption di tengah film, lalu muncul sebagai seseorang yang telah berkembang hingga kemudian dapat mengalahkan musuh di akhir film. Sangat klise, dan dipakai berulang-ulang di kemudian film, misal di Captain America: The First Avenger (2011), Thor (2011), Ant-Man (2015), dan Doctor Strange (2016).

Yang membuat film ini tidak nampak usang adalah isu nya. 2008 merupakan era Post 9-11, masa hangat-hangat nya perang melawan terorisme. Stark Industries tampil sebagai pemain utama dalam Global War on Terror pemerintah AS. Iron Man sejatinya menggambarkan bagaimana relasi industri senjata dan pemerintah AS, terutama dalam menghadapi perang melawan terorisme.

Suatu isu yang bahkan masih menjadi perbincangan hangat lebih dari satu dekade kemudian.


Sejarah Amerika yang penuh dengan perang membuatnya tidak dapat terlepas dari persenjataan. Pasca Perang Kemerdekaan Amerika, negara baru ini merasa bahwa mengimpor senjata tidak lagi cukup untuk modal pertahanan di kemudian hari; bahwa industri senjata harus dibuat dalam negeri. Hal ini terbukti dengan banyaknya perang yang melibatkan Amerika, misal Perang 1812, Perang Spanyol-Amerika, Perang Meksiko-Amerika, Perang Dunia I dan II, Perang Korea, Perang Vietnam, dan ‘Global War on Terror’ ini. Makin banyak perang, makin banyak senjata yang diperlukan.

Industri persenjataan di Amerika kemudian berkembang pesat. Stark Industries diceritakan sebagai manufaktur senjata terbesar di AS. Secara global, AS merupakan produsen dan pengimpor senjata terbesar di dunia. Praktis, Stark Industries merajai persenjataan baik di Amerika maupun bagi sekutu dan pelanggannya yang lain di luar negeri. Di dunia nyata, perusahaan ini misalnya Lockheed Martin, Raytheon, Boeing, dan Northrop Grumman. Tentu saja jumlah perusahaan produsen senjata di AS lebih banyak dari ini.

Iron Man mengambil latar pada 2008, era pasca 9-11. Adegan film dimulai di Afghanistan saat Tony Stark selesai mempresentasikan model senjata baru yang akan digunakan tentara AS di Afghanistan. Di masa-masa pasca 9-11 ini memang penjualan senjata produksi AS meningkat, terutama dalam upayanya menghadapi teroris dalam perang agung Global War on Terror cetusan pemerintahan Bush. Peningkatan penjualan senjata tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan Bush menyongsong perang kontra terorisme.

Rachel Stoh memaparkan tiga perubahan kebijakan yang diambil Bush sebagai bekal perang melawan terorisme (yang menjurus ke meningkatnya kebutuhan senjata). Pertama, pencabutan sanksi. Negara-negara yang dahulu tidak boleh mengimpor senjata dari AS (akibat pelanggaran HAM, tidak demokratis, melanggar norma internasional, maupun mengadakan uji senjata nuklir) kemudian diperbolehkan mengimpor senjata dari AS untuk membantu melawan terorisme. Kedua, peningkatan penjualan senjata dan pelatihan militer ke negara-negara sekutu dan negara yang berpotensi membantu melawan terorisme. Ketiga, membuat kerjasama dan program baru dengan negara-negara lain untuk melawan terorisme.

Tentu saja tidak ada yang bebas dari efek samping. Implikasi kebijakan Bush dianggap grusa-grusu; banyak negara yang sebenarnya tidak layak secara keamanan, strategis, maupun kemampuan teknis untuk mendapatkan senjata dari AS. Di masa depan, mungkin saja negara-negara yang mengimpor senjata dan mendapat asistensi militer dari AS kemudian berbalik memusuhi AS karena berbeda kepentingan, atau bahkan melawan dengan cara-cara terorisme yang serupa.

Setelah presentasi briliannya, Tony Stark kemudian disandera oleh kelompok teroris Ten Rings di Afghanistan. Penyanderaannya membuka beberapa pencerahan; teroris ini rupanya memiliki senjata dari Stark Industries dan mereka ingin Stark membuat senjata untuk mereka secara langsung. Stark pun sadar bahwa selama ini senjata yang ia jual tidak selalu tepat sasaran: bukan untuk melindungi Amerika dan kepentingannya, namun malah jatuh ke pihak lawan.

Walaupun–di film–musabab kepemilikan senjata Stark Industries oleh Ten Rings akibat perdagangan ilegal rekan Stark, namun di dunia nyata hal serupa juga kerap terjadi. Dalam beberapa kasus, senjata AS yang awalnya digunakan untuk melawan terorisme malah dimanfaatkan teroris untuk berbalik melawan AS. Misalnya, senjata yang disirkulasikan kepada Mujahidin di Afghanistan untuk melawan Soviet di era Perang Dingin kini digunakan Taliban. Senjata yang diekspor untuk pemerintahan Saddam Hussein pada 1980an kemudian jatuh ke tangan pemberontak dan berbagai faksi di Irak, yang tentu saja termasuk teroris, pasca Saddam Hussein secara ironis digulingkan oleh AS. Hal yang sama kerap pula terjadi di Suriah, Yaman, dan lain-lain.

Sadar akan resiko jatuhnya senjata ke tangan terorisme, Stark–setelah kabur dari penyanderaan–kemudian memutuskan untuk menghentikan produksi senjata Stark Industries. Terdorong niat untuk memperbaiki kesalahan masa lalunya sebagai kapitalis picik dan war profiteer, Stark kemudian merancang suit untuk melawan teroris tersebut sendirian, serta memastikan bahwa suit Iron Man tersebut tidak jatuh ke tangan orang lain namun selalu di bawah pengawasannya.

11 tahun kemudian, Stark telah menjelma menjadi pahlawan super agung yang bahkan dapat toe-to-toe melawan alien ungu gembul buruk rupa pengoleksi kerikil aneka warna. Di sisi lain, 11 tahun kemudian, ancaman terorisme memang tidak semenakutkan dan seheboh dahulu. ISIS telah kehilangan kendalinya. Begitu pula dengan Al-Qaeda, yang–walaupun masih hidup–namun kembang kempis dalam bentuk gerakan sporadis di berbagai negara di Timur Tengah. Meskipun begitu, ancaman tetap ada. Perang yang berkecamuk di Suriah dan Yaman masih terus mengerikan dan berpotensi melahirkan teroris-teroris baru yang dapat menjadi ancaman bagi AS dan dunia.

Tentu saja, AS bukanlah Tony Stark, a genius, billionaire, playboy, philanthropist yang rupanya memiliki keinginan mulia untuk keselamatan pihak banyak. Mustahil industri senjata akan berhenti atau tutup warung hanya karena mengetahui satu atau dua kasus senjata mereka jatuh ke pihak yang salah. Perang tidaklah sederhana, dan industri penopang perang jauh lebih pelik lagi. Kepentingan materi, kebutuhan akan power, serta urgensi keamanan merupakan beberapa aspek yang mempengaruhi tumbuh suburnya industri senjata. Semakin banyak perang, semakin banyak pula kebutuhan akan senjata yang diproduksi.

Produksi dan sirkulasi senjata api terus menjadi persoalan. Selain banyak senjata api AS kemudian jatuh ke tangan teroris, di dalam negerinya sendiri masifnya penjualan dan legalitas kepemilikan senjata api di AS berbuntut pada penembakan-penembakan dengan korban jiwa penduduk lokal, apapun motif yang mendasarinya. Berbagai pihak menuntut pemerintah merombak UU tentang senjata, baik penjualan dalam maupun luar negeri. Sebagai instrumen keamanan di dunia yang realis, senjata api memang memiliki andil dan bermanfaat. Namun, apakah manfaatnya sepadan dengan resikonya?