Kalau kalian lapar, jangan ke angkringan ini. Soalnya di sini nggak ada gorengan, sate usus, atau susu jahe, apalagi nasi kucing.


​Sore itu saya mampir ke Upstate (memangnya New York aja yang boleh punya Upstate?) Yogyakarta, tepatnya di Jalan Kaliurang persis sebelum kampus birunya Mahfud MD. Di tempat kawan saya, Mas Imam, seorang mahasiswa pengelola angkringan buku Angkringan Uyee.

Entah kenapa namanya Uyee, mungkin typo. Atau mungkin biar berkesan bahagia gitu, soalnya apa yang ia tawarkan di angkringan kadang dikonotasikan tidak bahagia oleh orang-orang. Apa itu? Membaca. Ya, bagi masyarakat dengan minat baca rendah, membaca kadang jadi momok, apalagi membaca buku. Jangan kan buku, tulisan dilarang buang sampah saja kadang dicuekin. Buat masyarakat negeri kita ini, yang dibaca itu cuma 3: status mantan, hoax, dan materi ujian 12 jam sebelum ujian dimulai.

Tapi untung nya ada orang macam Mas Imam ini yang tergerak untuk mencari solusi permasalahan umat. “Saya lelah mengkritik terus; di organisasi saya sudah sering saya mengkritik ini itu. Terus saya pikir, solusi apa yang bisa saya tawarkan? Ya sederhananya ini,” kata Mas Imam sambil membuka kaleng biskuit (yang saya harap-harap cemas semoga isinya bukan peyek). By the way, ngapunten ya mas kalau kalimatnya saya parafrase stadium 4, soalnya nggak sempat saya rekam.

“Coba, menurut sampeyan, apa permasalahan mendasar orang Indonesia?” tanya Mas Imam ke saya.

Berusaha kelihatan cerdas dan arif bijaksana, saya menjawab sambil menyeruput teh suguhan, “Hm, kurang nya informasi, sehingga banyak hoax. Sehingga banyak langkah-langkah atau tindakan yang salah.” 

“Nah, itu bisa juga karena kurang nya pendidikan. Pendidikan itu luas, ya. Salah satunya juga karena kurang membaca, sehingga kurang mendapat informasi. Makanya, kita gagas angkringan buku ini.” timpal Mas Imam. “Angkringannya saya dapat dari kawan yang dulu berjualan, karena nggak dipakai terus saya alih-fungsikan seperti ini,” tambahnya.

Ketika saya tanya apa motivasinya, Mas Imam secara sederhana bilang kalau ini sebenarnya keinginan pribadi. “Saya cuma ingin banyak membaca dan mengajak yang lain banyak membaca, terutama anak-anak di desa. Beda sama kamu, to, yang mengenyam ini sudah lebih lama. Sudah suka baca lebih lama. Lha, aku waktu SMA mana ada suka baca. Telat, baru sadar sekarang.” Uniknya, bagi saya, ini pertama kalinya saya mendengar kata “mengenyam” setelah bertahun-tahun. 

Angkringan ini digagas oleh Mas Imam dan kawan-kawan kosnya. Maksudnya, kawan-kawan kampus yang ngekos di rumahnya. Selain itu, dia juga sempat membuka open recruitment untuk menjadi pengurus Angkringan Uyee ini. Total pengurus ada 13 orang. Selain pengurus, ternyata orang-orang yang peduli dan tertarik dengan angkringan ini juga bejibun. Banyak yg memberi sumbangan buku, donasi dana, bahkan menjalin kerjasama misal bikin agenda dan, buat Mas Imam, menambah link.

Kita kemudian ngobrol ngalur-ngidul-ngetan-ngulon sambil saya pesan nasi goreng di burjo warmindo sebelah. Sesekali Mas Imam memetik jambu air di depan angkringan. Ngobrolnya macam-macam, mulai dari Israel-Palestina sampai KPK. (Lain kali saya share, makanya baca terus blog ini ya hehe!) Sesekali saya lihat-lihat juga bukunya, ternyata banyak juga. Mulai dari Kisah 25 Nabi dan Rosul, buku modul kuliah, Al Quran, buku motivasi macam Gen Halilintar, sampai Me Before You. “Kalau yang itu dari dosen HI kampus (saya),” ujar Mas Imam sambil menunjukkan koleksi buku berbahasa Inggris yang kelihatannya berat. Sebelum berkunjung ke angkringan buku ini, dulu saya pernah memberi Mas Imam link ebook saya di Google Drive berharap Mas Imam bisa mencetak bukunya dan menambah koleksi. “Tapi nanti dibilang nggak menghargai penulis, jadi saya beli aja. Hahaha. Termasuk Dilan ini saya beli,”. 

Wah liat novel Dilan jadi ingat kamu, ya, Milea-ku.

Hampir 3 jam di angkringan itu saya kemudian pamit karena Mas Imam harus datang ke acara kampus. Sebelum pulang, saya tanyakan apa rencana mas Imam untuk angkringan ini ke depannya. “Kalau saya, bukan soal angkringan ini mau punya acara atau agenda seperti apa. Kalau kita berpatokan pada agenda, nanti kalau nggak ada agenda yang jalan ya kita mati. Buat saya, ini soal inspirasi. Kesuksesan angkringan ini terletak pada seberapa besar inspirasi yang diberikan ke orang lain. Misalnya, angkringan ini dapat menginspirasi tiap-tiap desa agar punya taman bacaan sendiri yang aktif. Nah itu suksesnya saya.”

“Juga untuk meningkatkan minat baca, ya kan?” tanya saya.

“Minat itu kalau ada akses dan aset. Misalnya, orang miskin punya ide menciptakan sesuatu. Dia punya aset berupa ide, tapi nggak punya akses untuk mewujudkannya. Sementara, ada orang kaya yg punya akses berupa relasi maupun dana, tapi kadang nggak ada ide atau pemikiran apa-apa. Nggak punya aset. Kalau ini aset saya, punya angkringan buku.”

“Jadi, angkringan ini bisa sebagai aset sampeyan, tapi di sisi lain akses buat anak-anak biar gampang baca buku?” tanya saya lagi.

“Bisa jadi.”

Lalu saya pamit, sementara Mas Imam membawa masuk kaleng biskuit dan gelas teh. [.]