Yang Sempat Tertulis

Telur

Kamu sedang dalam perjalanan pulang, tiba-tiba kamu mati. Kecelakaan. Tidak ada yang istimewa, sih. Tapi tetap saja fatal.

Kematianmu tidak menyakitkan, kok. Petugas medis telah berusaha semampu mereka… tapi sia-sia.

Tubuhmu hancur, miris, kamu lebih baik mati. Percayalah.

Dan saat itulah kamu bertemu denganku.

“Apa yang terjadi?”

“Di mana aku?”

Kamu mati, jawabku lugas. Tidak ada gunanya juga basa-basi.

“Ada.. truk. Dan aku tergelincir.”

Iya.

“A… aku mati?”

Iya.

Tapi janganlah bersedih. Semua orang bakal mati.

Kamu celingak-celinguk melihat sekeliling.

Hanya ada… ketiadaan.

Hanya kamu, dan aku.

“Tempat apa ini? Apakah ini, akhirat?”

Kurang lebih.

“Apakah kau.. Tuhan?”

Iya. Aku Tuhan.

“Anak-anakku… Istriku…”

Kenapa mereka?

“Apa mereka akan baik-baik saja?”

Ah, hebat, kataku.

Kamu baru saja mati, tapi yang kamu pikirkan malah keluargamu.

Baguslah.

Kamu terpukau menatapku. Karena dalam pandanganmu, aku tidak nampak macam Tuhan. Mungkin hanya seperti laki-laki, atau perempuan biasa.

Sedikit terlihat berkuasa, sih. Mungkin.

Jangan khawatir, kataku. Mereka akan baik-baik saja.

Anak-anakmu akan mengingatmu sebagai ayah terhebat di dunia. Mereka tidak akan sempat tumbuh besar untuk bertengkar dengamu.

Istrimu akan nampak selalu bersedih. Namun, diam-diam dia lega juga. Jujur saja, pernikahanmu kan memang sedang gonjang-ganjing. Meskipun begitu, dia akan merasa bersalah, sih, karena sudah merasa lega.

“Oh…”

“Lalu, apa sekarang? Apakah aku pergi ke Surga? Neraka? Atau?”

Tidak keduanya. Kamu akan dilahirkan kembali.

“Ah… Jadi yang benar itu Hindu!”

Semua agama benar dalam caranya masing-masing, kok.

Kemarilah, berjalanlah bersamaku.

Kamu mengikutiku berjalan dalam kehampaan.

“Kita mau ke mana?”

Tidak kemana-mana. Cuma kan, lebih enak berbincang sambil berjalan.

“Saat aku lahir kembali, aku akan jadi kanvas kosong lagi, kan? Seorang bayi?”

“Jadi, pengalamanku dan semuanya… semua yang sudah aku lakukan dalam hidup… Tidak ada gunanya…”

Tidak juga.

Dalam dirimu, tersimpan seluruh pengetahuan dan pengalaman dari semua kehidupanmu sebelumnya. Kamu tidak bisa mengingatnya saja sekarang.

Aku berhenti, lalu merangkul bahumu.

Jiwamu jauh lebih menakjubkan, indah, dan agung dari yang kamu bayangkan.

Pikiran manusia hanya mampu menggapai setitik dari itu semua, dari siapa kamu sesungguhnya.

Sama seperti mencelupkan jari ke dalam segelas air. Kamu ingin tahu, air itu dingin atau panas. Kamu hanya perlu mencelupkan sedikit bagian dari diri kamu ke sebuah wadah, lalu saat kamu menarik jarimu, kamu sudah bisa merasakannya.

Kamu sudah hidup selama 48 tahun. Baru sebentar, jadi sebenarnya kamu belum sepenuhnya merasakan semuanya.

Semakin lama kita di sini, lama-lama nanti kamu bisa mulai mengingat semuanya. Tapi buat apa, tidak ada gunanya berlama-lama menghabiskan waktu di antara kehidupan dengan cara seperti itu.

“Jadi, sudah berapa kali aku bereinkarnasi?”

Oh, banyak! Banyak sekali! Ke banyak kehidupan yang beraneka rupa. Kali ini, kamu akan dilahirkan menjadi gadis petani di Cina tahun 540 Masehi.

“Hah… maksudnya?! Kau mengirimku ke masa lalu?

Ya, secara teknis begitu, sih.

Waktu yang kamu rasakan itu, hanya ada di alam semestamu. Hal-hal agak sedikit berbeda di tempat asalku.

“Memangnya… dari mana kau berasal?”

Oh, aku datang dari suatu tempat. Tempat yang lain.

Dan banyak yang seperti aku.

Aku tahu kamu ingin tahu seperti apa, tapi percayalah, kamu toh tidak akan paham.

“Oh…,” jawabmu, sedikit kecewa.

“Tunggu dulu… Jika aku dilahirkan kembali ke tempat lain di zaman lain, aku bisa saja suatu saat bertemu dengan diriku sendiri.”

Tentu saja, sering terjadi, dan masing-masing kehidupan tentu hanya memikirkan kehidupan mereka sendiri-sendiri, sampai tidak sadar apa yang sebenarnya terjadi.

“Jadi, apa gunanya ini semua?”

Aku menatap matamu lekat-lekat.

Arti kehidupan, alasan aku menciptakan alam semesta ini, agar kamu tumbuh dewasa.

“Maksudmu, umat manusia? Kau ingin kami tumbuh dewasa, kan?”

Bukan, hanya kamu. Aku menciptakan seluruh alam semesta ini hanya untukmu. Di tiap kehidupan, kamu berkembang dan tumbuh dewasa, akal budimu jadi makin besar dan hebat.

“Hanya aku? Lalu yang lainnya bagaimana?”

Tidak ada yang lain. Di alam semesta ini, hanya ada kamu. Dan aku.

Kamu menatapku nanar.

“Tapi, orang-orang di bumi?”

Semuanya, kamu. Dalam wujud yang berbeda-beda.

“Tunggu, jadi, aku, semua orang?”

Nah, akhirnya kamu paham.

“Aku seluruh manusia yang pernah hidup?”

Ya, dan yang akan hidup.

“Aku Abraham Lincoln?”

Dan juga John Wilkes Booth.

“Aku Hitler!” katamu kaget.

Dan juga jutaan yang ia bunuh.

“Aku Yesus!”

Dan juga semua yang menjadi umatnya.

Kamu terdiam.

Tiap kali kamu menyakiti seseorang, kamu menyakitimu dirimu sendiri.

Tiap kali kamu berbuat baik, semua itu kamu lakukan juga untuk dirimu sendiri.

Segala kebahagiaan maupun kesedihan yang dirasakan siapapun, semuanya, sudah dan akan kau rasakan juga oleh dirimu sendiri.

Kamu berpikir cukup lama.

“Kenapa? Kenapa kau lakukan ini semua?”

Karena suatu hari, kamu akan jadi sepertiku. Karena itulah kamu.

Kamu sama sepertiku. Kamu anakku!

“Wow!” ujarmu takjub. “Maksud kau, aku Tuhan?”

Tidak, belum, masih terlalu dini untuk itu. Kamu masih berkembang.

Nanti, setelah kamu menjalani kehidupan seluruh umat manusia di sepanjang masa, kamu baru akan tumbuh dewasa. Cukup dewasa untuk siap dilahirkan, akhirnya.

“Jadi, seluruh alam semesta ini… hanya… sebuah telur!”

Jawabku, Sekarang, waktunya menuju ke kehidupanmu yang selanjutnya.

Aku mengantarkanmu, memandangmu pergi.


Sumber dari The Egg karya Andy Weir. Diceritakan kembali oleh Kurzgesagt di video di bawah.

Tulisan ini diterjemahkan dari versi Kurzgesagt. Terjemahan ini tidak berkaitan dengan caption bahasa Indonesia di video (saya malah baru tahu kalau ada CC yang bahasa Indonesia setelah selesai menerjemahkan ini).

[.]

Suka cerita ini? Yuk, klik tombol di bawah buat dukung penulis terus berkarya. Terima kasih banyak.

Nih buat jajan

« »