Hari ini, 25 Agustus 2020, jadwal saya jadi host zoom meeting kantor. Jam 2 siang saya buat link, lalu saya share di grup. Kawan saya lalu join.

Kami berbincang sebentar, lalu ia menyeletuk, “Eh, To, subsidi gaji batal masuk hari ini tauk!”

Saya awalnya kurang paham, “Subsidi gaji yang mana?”

“Ya yang itu.”

Oh, saya tertawa kecil. Sebagai pegawai ibukota yang mepet dan pas-pasan, kami mendapat privilege untuk menerima bantuan Bantuan Subsidi Upah (BSU). Mendorong kegiatan konsumsi, kata pemerintah. Saya dan kawan-kawan untungnya sudah didaftarkan oleh Pak Bos.

“Memangnya jadwal keluarnya kapan?” tanya saya ke kawan saya.

“Hari ini.”

Saya lalu sibuk mengecek berita daring. Benar juga, seharusnya hari ini cair, tapi ditunda karena masih ada 2 juta rekening yang belum didata.

Sejujurnya saya malah lupa kalau kami didaftarkan. Bukan lupa sih, tapi lebih ke “yah, nanti juga bakal dapat”. Saya tidak ambil pusing sejak kemarin. Toh, saya tidak punya kebutuhan mendesak, batin saya.

Kawan-kawan saya yang lain di grup lalu berteriak minta di-admit agar masuk zoom meeting. Kami lalu “rapat” ala kadarnya, khas minggu-minggu lalu. Cerita, sharing, update perkembangan masing-masing. Rapat selesai, kami kembali kerja.

Saya lalu menghabiskan beberapa jam selanjutnya kembali menghadap laptop, meriset dan menulis. Mata lalu lelah, punggung pegal, tangan kram, lalu saya tiduran sambil membuka sosmed favorit saya Twitter. Scroll sana-sini, like sana-situ, lalu muncul berita tentang pembatalan pencairan BSU dari Tirto.

Saya cek reply nya. Ah, biasa. Kekecewaan ke pemerintah, menghina pemerintah, kesal ke pemerintah. Lagu-lagu lama.

Tapi tiba-tiba, saya sampai di salah satu reply yang mak jegagik membuat hati saya sedikit linu.

Komentar ini ditulis dengan nada ringan, guyon, dan bukan tipe komentar yang mengesalkan. Tapi, entah mengapa, 31 kata plus 3 emoticon itu menyenggol sensitivitas saya.

Jujur, bagi saya, keterlambatan BSU bukan masalah besar. Tidak dapat pun sebenarnya tidak banyak berpengaruh (tapi ya kalau bisa, dapat dong, hehehe). Saya belum berkeluarga, sekarang WFO di rumah (praktis biaya makan dan rumah tangga bukan tanggungan saya), dan tidak sedang punya cicilan monster iPhone 11 atau sejenisnya.

Bagi saya, subsidi gaji bukan problem. Bukan isu. Terlambat cair? Ya biasa, namanya juga pemerintah, mau berharap apa? Saya memang tidak puas dengan kinerja birokrasi, tapi saya juga tidak relate dengan komentar sinis dan caci maki di sosmed. Iya, pemerintah memang jelek, tapi tidak perlu dihina juga kan?

Iya, karena itu bagi saya. Tapi bagi ribuan (bahkan mungkin jutaan) calon penerima BSU, ini artinya satu: kiamat kecil. Bagi para suami yang sudah dikejar-kejar istrinya karena uangnya sudah direncanakan buat bayar ini-itu, bagi para istri yang sudah deg-deg-an karena uang sekolah anak belum dibayar, bagi para anak berbakti yang sudah berjanji ingin memberikan uang BSU untuk tambahan orangtua di desa.

Saya bukan mereka, jadi mungkin karena itulah saya tidak mengerti. Tapi setelah membaca reply tweet itu, saya jadi sadar, bahwa banyak kondisi yang memang tidak kita mengerti.

Ada alasan di balik semua kekesalan di kolom reply itu. Seperti dulu, saat saya sadar kenapa penjual beras kok galak dan sinis sekali saat saya mau beli beras 1 liter. Ada banyak hal yang kadang tidak dapat kita pahami, rasakan. Bagaimana sedihnya, bahagianya, cemasnya, takutnya, dan sebagainya.

Bahkan dalam satu peristiwa yang sama seperti ini.

Saya jadi ingat lagi, bahwa saya masih suka menghakimi dunia lewat cara pandang saya. Menganggap A “biasa”, karena bagi saya biasa saja. Menganggap B “jelek”, karena bagi saya juga jelek. Padahal, ada ribuan orang lain yang mengaggap A luar biasa dan B indah menawan.

Saya tidak punya solusi untuk kiamat kecil ini. Memangnya saya siapa, buzzer pemerintah? Tapi, saya dapat berbagi satu hal: marilah belajar untuk berhenti menghakimi serta menilai segala sesuatu berdasar pandangan dan pemikiran diri sendiri.

Untungnya, kiamat kecil ini hanya sampai akhir bulan. Kata pemerintah, sih. Bisa dipercaya? Ya, semoga.