Waktu bagai membeku ketika Covid-19 mengubah tatanan hidup kita semua. Saya pribadi masih dendam ke Tiongkok (yang saya percaya sebagai sumber virus ini berasal, sorry not sorry). Di awal-awal pandemi merebak, saya bingung, mencari apa yang dapat saya lakukan agar membuat saya merasa hidup.

Suatu hari saya membuka Instagram, lalu mendapati akun teman saya mengunggah sesuatu. Ia teman lama, sudah sekitar 6-7 tahun kami tidak pernah bertemu apalagi bercakap. Tapi yang ia unggah sangat menarik; ia bikin channel Podcast.

Saya melihat suatu kesempatan collab ala-ala. Selama ini, saya bermain Podcast sendirian, tidak tahu kalau ada kawan yang juga menggeluti hal yang sama. Saya ingin tahu dua hal: apa yang dia bicarakan, dan mengapa membicarakan itu.

Singkatnya, kami janjian, lalu saya menghampirinya di halaman kosnya yang rindang di tengah kota.

Namanya Sitta, sarjana di salah satu kampus negeri di kota kami. Channel yang ia buat namanya StoicastID, membahas tentang filsafat Stoa / Stoisisme.

Kami lalu berbincang banyak mengenai berbagai hal. Covid-19, utamanya. Bagaimana pandemi sinting ini mengubah semuanya.

“Iya nih memang gara-gara Corona.”

Lalu kami berbincang tentang filsafat Stoisisme.

“Sudah dari lumayan lama, sih. Kalau Podcastnya sudah dari bulan lalu,” ujar Sitta saat saya tanyakan kapan ia mulai menekuni Podcast. Ia lalu membawakan saya kue kering coklat kacang yang enak sekali. “Ayo, dimakan. Aku udah abis dua toples!”

Sambil mengunyah kue, saya mendengarkan Sitta membahas tentang Stoisisme. “Aku pribadi merasa terbantu sama ini,” ujarnya. Cerita-ceritanya membuat saya semakin ingin tahu.

“Sebenarnya, stoa ini mengajarkan apa sih?” tanya saya, masih mengunyah kue.

Sitta menjelaskan bahwa Stoisisme mengajarkan kita menjadi sederhana. Seimbang, secukupnya. Agar kita tidak bereaksi berlebihan terhadap sesuatu, baik berlebihan dalam konteks positif maupun negatif.

“Dan aku nggak menemukan hal yang bertentangan dengan kepercayaan kita. Bahkan, kitab suci pun menganjurkan kita menjadi jiwa yang tenang. Bukan senang, apalagi sedih. Tapi tenang.”

Saya mengangguk-angguk antusias. Angin semilir lalu berhembus melalui bukaan joglo di mana kami duduk. Seakan alam semesta setuju mengiyakan ketakjuban saya terhadap keserasian agama dan filsafat, membantah mentah-mentah pandangan tentang keharaman mempelajari filsafat.

Kami lalu berbincang banyak soal Stoisisme di Podcast Ngobrol di Luar. Menurut Sitta, mempelajari Stosisime penting, apalagi di masa pandemi ini.

“Karena pandemi, semuanya jadi online. Kita jadi sering buka media sosial, lihat teman kita sudah ini-itu, sudah apa-apa. Sementara kita cuma tiduran aja di kasur seharian.” Kami tertawa.

“Stoa mengajarkan kita agar sadar apa yang bisa kita kontrol dan apa yang nggak—dikotomi kendali. Kalau sudah tahu, kita bisa tenang. Jadi nggak perlu sedih akan sesuatu yang memang kita tidak punya kuasa atasnya,” tambah Sitta.

Saya mengangguk-angguk lagi. Saya hendak mengambil sekeping kue lagi, tapi saya urungkan. Kan tidak boleh berlebihan, seperti kata Stoa.

“Eh, nggak apa-apa, makan lagi aja!” ujar Sitta mencegah saya menutup toples.


Obrolan kami selengkapnya dapat didengarkan di Podcast Ngobrol di Luar. Klik tombol play di bawah ini atau kunjungi Podcast Ngobrol di Luar di Spotify. Kunjungi juga diskusi Sitta di Podcast StoicastID.