Muhammad Dito

Ide dan Coretan Sederhana

Shanum Tidak Suka Pindah

Shanum diam saja di kursi belakang. Papa berusaha memancingnya, memainkan lagu Baby Shark kesukaannya di music player. Shanum tetap tidak bergeming. Mama masih tetap mengajak Shanum ngobrol soal sapi yang tadi mereka salip, ‘mobil kodok’ warna hijau telur asin yang menggemaskan, gedung-gedung di seberang sungai yang seakan mengikuti laju mobil mereka, dan banyak lagi.

Shanum tetap diam saja.

Papa melirik Mama, Mama melirik Papa balik, Lalu Mama menengok ke Shanum, Shanum masih merengut. Diam saja. Sudah hampir satu jam naik mobil, tidak sepatah kata pun yang Shanum katakan. Tidak pula sama sekali Shanum bergerak. Ia masuk mobil, merosot bersandar di jok, lalu diam. Sampai sekarang.

Papa dan Mama menghela nafas. Mereka tidak habis pikir dengan kelakuan Shanum. Sejujurnya, mereka pun tidak siap menghadapi ini; Mama dan Papa kira, Shanum akan baik-baik saja. Bahwa pindah rumah tidak akan se-mengecewakan ini bagi putri mereka.

Sebaliknya, justru Shanum yang tidak habis pikir dengan Papa dan Mama. Buat apa sih pindah, batin Shanum. Ia sudah senang tinggal di rumah dua lantai cat putih tulang itu. Rumah sejak ia bayi. Rumah yang cukup besar dan luas (bagi anak kecil setinggi 97 cm), dengan taman belakang yang ditumbuhi bunga warna-warni. Halaman depannya juga luas; ada kolam koi kecil dengan air mancur. 

Shanum sering mengajak teman-temannya bermain di rumah. Toh, Mama lebih suka kalau Shanum mengundang mereka datang, alih-alih Shanum yang datang ke rumah kawannya. “Teman-teman suruh ke sini aja, sayang, nanti Mama masak spaghetti deh!” Shanum jadi sering mengajak kawannya duduk di ruang tamu beralas permadani beludru merah itu, bermain apa saja: boneka, masak-masak, ludo, sampai menonton YouTube.

Tapi, di antara semua kawannya, Shanum punya sahabat. Namanya Faysha. Ia seumuran dengan Shanum (tingginya pun hampir sama 97 cm). Faysha suka sekali dikepang, Shanum juga jadi ingin dikepang (padahal rambut Shanum pendek dan berponi). Kalau Faysha beli boneka, Shanum ingin beli yang sama, begitu juga sebaliknya. Faysha sangat suka Baby Shark, dan itu membuat Shanum menyukainya juga.

Tapi tidak untuk hari ini. Hari ini, tidak ada yang dapat membuat Shanum ceria.

“Shanum mau es krim?” tanya Papa. “Nanti kita beli es krim blueberry, ya?”

Papa masih tidak paham: tidak ada yang bakal membuat Shanum ceria pagi ini. Bahkan bukan pula es krim blueberry kesukaan Shanum (yang tentu saja ia sukai karena Faysha juga suka).

“Shanum, nanti kan di rumah baru pasti punya teman baru,” bujuk Mama. “Kata Pak RT, di sana nanti banyak anak-anak yang seumuran sama Shanum. Ada yang baru mau sekolah juga seperti Shanum.”

Shanum masih diam saja.

“Mau nonton Peppa Pig?”

Mama mencubit pundak Papa, Papa kesakitan tapi bingung. Shanum makin sebal. Bahkan Mama pun tahu kalau Shanum benci babi-babi itu. Waktu itu, Faysha dan Shanum sedang nonton YouTube di rumah ditemani Mama. Lalu Faysha menunjukkan video Peppa Pig (katanya kesukaannya). Shanum tidak menyukainya, dan sejak saat itu pun, Faysha jadi tidak suka Peppa Pig lagi.

Mobil sudah masuk ke halaman rumah barunya. Rumah ini sebenarnya tidak terlalu buruk; meskipun tidak besar dan hanya satu lantai, tapi rumah ini halamannya lebih luas. Kata Mama, kamarnya lebih besar dan lebih banyak. “Kan Shanum mau punya adik, jadi nanti Shanum jadi punya kamar yang lebih luas,” bujuk Mama waktu itu. Hari itu, saat pertama kali diberitahu kalau harus pindah, Shanum menangis. Ia tidak mau pindah, ia tidak mau berpisah dengan teman-temannya.

Ia tidak mau berpisah dengan Faysha.

Papa dan Mama sudah membujuknya dengan berbagai cara: mengajaknya ke bioskop, ke kebun binatang, ke pantai, nihil. Bahkan Mama memasak berbagai makanan yang Shanum suka, semua nihil. Papa membawa Shanum ke toko boneka, toko buku, tapi Shanum tidak ingin beli apa-apa. Ia tidak mau makan apa-apa, tidak pula mau ke mana-mana.

Ia mau di rumah itu, mau tetap bermain bersama teman-temannya, bersama Faysha.

Shanum lalu puasa bicara. Sudah empat hari.

Papa dan Mama sudah turun mobil. Shanum ikut turun, lalu berjalan lunglai dan duduk bawah pohon jambu samping mobil. Truk yang membawa barang-barang sudah datang. Papa dan Mama bersama pak tukang sibuk menurunkan dan memasukkan perabotan ke rumah. Shanum masih diam saja.

***

“Shanum, ayo bangun!”

Mama mengetuk pintu kamar Shanum. Tidak ada suara. Mama membukanya, Shanum masih berselimut, tapi sesenggukan.

“Shanum kenapa?”

Shanum lalu menangis sedu. Mama memeluknya. Shanum sesenggukan.

“Shanum nggak mau sekolah. Shanum nggak mau di sini, Shanum mau pulang…”

“Kan ini rumah Shanum. Sekarang Shanum tinggal di sini,” hibur Mama. Shanum makin menangis.

“Shanum mau main sama Faysha, sama Kiera, sama Nasyifa. Shanum mau duduk sambil liat ikan koi.”

Mama menjadi sangat iba. Dielusnya rambut Shanum pelan-pelan. Mama lalu menangis juga, mengetahui kalau ia tidak dapat berbuat apa-apa supaya anaknya tidak lagi bersedih.

“Shanum, dengerin Mama.” Mama melepas pelukannya lalu duduk berhadapan dengan Shanum. “Shanum jangan nangis lagi. Nanti Shanum pasti punya teman baru, apalagi Shanum mau masuk TK, pasti teman-temannya banyak.”

“Shanum jangan sedih terus. Toh, nanti kan kita bisa berkunjung ke rumah Faysha dan yang lain. Shanum jangan sedih, nanti Faysha juga sedih kalau Shanum sedih.”

Shanum masih sesenggukan. Air matanya membasahi seprei dan selimutnya, ingusnya menetes. Mama mengambil tisu di meja lalu mengelap semuanya.

“Nah, sekarang mandi, sarapan, terus sekolah, ya! Sama Mama,” ajak Mama. Shanum diam saja, tapi ia menurut saat Mama memandikannya, mengajaknya sarapan bareng Papa, lalu mengajaknya masuk ke mobil. Papa dan Mama akan mengantarkannya ke TK, hari ini hari pertama Shanum sekolah.

Shanum sudah tidak melawan. Ia sudah pasrah. Diam seminggu jujur saja membuatnya lelah. Sering menangis juga rupanya tidak membuatnya bisa kembali ke rumah awalnya dan bermain boneka atau bertukar kartu dengan Faysha. Shanum masih sedih, tapi karena kesedihannya tidak mengubah keadaan, ia mulai ikhlas.

Mereka sampai di TK. Sangat ramai anak-anak berlarian, sementara di beberapa bangku nampak ibu-ibu saling bercengkerama. Mama menggandeng Shanum masuk. Shanum tampak tidak tertarik. Matanya masih sembab. Mukanya masih murung. Ia menurut saja Mama menggandengnya kemana pun—ia tidak tahu dan tidak memperhatikan. 

“Shanum,” panggil Mama tiba-tiba. Shanum menoleh.

“Coba lihat itu siapa.”

Shanum melempar pandangan ke arah yang ditunjuk Mama. Seketika ia sumringah. Matanya berbinar, dadanya berdegup kencang. Ia melepas gandengan tangan Mamanya lalu berlari menghampiri perempuan kecil berkepang itu. “Fayshaaa!!!”


Cerpen ini adalah salah satu dari antologi cerpen Rampaian Memorabilia, karya Kelas Menulis Cerpen Online (KMCO) 28, tahun 2020.

«

© 2020 Muhammad Dito. Theme by Anders Norén.