Ide dan Coretan Sederhana

Selamat Natal, Bu | Selamat Natal, Dek

Jadi malam kala itu saya janjian bertemu kawan saya di GI. Mau berkeluh kesah, katanya, soal keluarga dan percintaan. Dia juga mau coba “The Halal Guys” yang diliatnya di YouTube tempo lalu dari vlog Gitasav. Ya sudah deh saya oke-in aja. Malam Sabtu pula, alih-alih saya membatu di kos.

Setelah dari GI kami pun pindah ke Sarinah. Rencana sih mau nonton di Djakarta XXI tapi sudah terlalu malam, jadilah kami hanya duduk di McD sambil melanjutkan obrolan keluarga dan percintaan. Kira-kira hingga lewat tengah malam sedikit, kami pulang.

Tiada alternatif murah lain bagi saya untuk balik ke kos di daerah Pejaten selain naik Transjakarta. Untungnya bus datang tanpa perlu lama menunggu. Masih ramai isi busnya. Mungkin karena ini malam Sabtu: semua orang berpesta merayakan akhir pekan, dan baru balik. Untungnya ada satu kursi kosong samping ibu-ibu paruh baya yang bisa saya duduki.

Saya mulai menancapkan earphone ketika bus tiba-tiba lewat stasiun Sudirman–sebuah rute yang janggal dilewati bus jalur ini. Ibu di sebelah saya juga berpikiran sama, bergumam lirih kebingungan kenapa bus lewat stasiun. Saya tak ambil pusing dan kembali play YouTube. Rupanya, ibu di samping saya melihat, lalu berkomentar, “Lagi denger musik, ya? Dari FB?”

Saya kaget karena dua hal. Pertama, di Jakarta, jarang sekali ada orang yang mengajak orang asing ngobrol, apalagi di kendaraan umum. Kedua, apakah generasi boomer se-tidak-familiar itu dengan YouTube?

“Awas lho, nanti kuotanya habis. Kalau saya sih pakai FB, jadi hemat.” Saya hanya tersenyum dan mengangguk, plus beberapa “iya” yang lirih. Saya taksir ibu ini pakai provider yang bisa free akses Facebook. Saya mau menimpali kalau provider saya ada kuota khusus YouTube, tapi buat apalah. Saya diam saja.

Merasa obrolannya ditanggapi, ibu itu melanjutkan. Ia mengeluh kenapa baru bisa pulang jam segini. Ya, mana saya tahu, Bu, batin saya. Keluhnya lagi, ia harus ke Riau keesokan sore. Kemudian ia mengeluh, sekali lagi, tentang mahalnya tiket pesawat sehingga harus naik bus ke Riau.

Lalu tanpa saya minta ia pun bercerita kenapa harus ke Riau. Bosan Natalan di Jakarta, katanya. Ia mengaku orang Batak, dan punya banyak saudara di Riau. Tahun ini, ia memutuskan bernatal di Riau. Kemudian ia mengeluh lagi soal harus bawa sepatu buat ke gereja dan harus bawa dua koper: satu miliknya, satu milik suaminya yang langsung ke Riau dari Tarakan. Kerja di sana, sepertinya.

Seperti biasa, sebagai jawaban generik, saya hanya tersenyum dan “iya” perlahan, beberapa kali. Ibu itu kemudian bertanya saya turun di mana. Saya jawab salah satu nama halte, rupanya Ibu ini turun di halte sebelum halte tempat saya turun. Ah, masih harus senyum dan ber”iya” sampai beberapa menit ke depan, keluh saya dalam hati.

Saya pun terkejut karena tiba-tiba Ibu itu minta permisi karena mau turun. Oh, rupanya sudah dekat. Saya tidak sadar. Lima detik kemudian, Ibu itu sudah berdiri di depan pintu, lalu keluar setelah bus berhenti beberapa menit kemudian.

Karena Ibu itu, saya jadi kepikiran Natal. Dulu di kota kelahiran saya yang relatif kecil, Natal tidak terlalu terasa. Yah, ada lah satu dua tetangga yang mengirimi kami roti atau bolu. Kalau kebetulan kami berkunjung, kami juga bisa melihat pohon natal yang dihias sedemikian rupa.

Tapi di Jakarta, suasananya lain. Tadi sebelum bertemu kawan di GI, saya mampir sejenak di paduan suara dekat Bundaran HI yang termasuk bagian program Christmas Carol tahun ini. Vibenya merasuk ke diri saya; tiba-tiba saya merasa terdampar di Manhattan, malam Natal. Saat banyak lalu-lalang orang yang terburu-buru pulang menyiapkan makan malam bersama keluarga, sementara jalanan dihiasi pernak-pernik pohon cemara, lonceng, Santa Claus, dan kereta kuda. Cuma, kalau di Jakarta ya tidak sedingin Manhattan. Jauh.

Di bus, berbincang dengan Ibu Batak tadi, vibe Natal juga terasa meski dalam bentuk yang berbeda: mudik. Saya seolah bisa merasakan kerepotan seorang pemudik, terutama karena saya juga mengalami mudik di waktu-waktu lebaran. Mendengar keluhan Ibu itu, saya merasa seperti habis pulang tarawih. Di kendaraan umum, berbagi keluh kesah kerepotan sesama pemudik yang mengeluh karena perjalanan yang tidak nyaman.

Sampai di kos, saya membuka Twitter. Nampak ramai (kapan sih Twitter tidak ramai dan tubir?). Saya baca berita yang jadi sumber keramaian itu: lagi-lagi soal pelarangan ibadah Natal oleh masyarakat Muslim setempat. Lokasinya di Dharmasraya, Sumatera Barat. Saya jadi ingat Ibu yang mau ke Riau tadi.

Saya lalu merenung. Kemudian saya senang karena Ibu itu hanya mengeluh soal tiket mahal dan kerepotan memilih sepatu Gereja. Saya bersyukur Ibu itu tidak perlu mengeluh soal pelarangan ibadah, pengusiran jemaah, atau pembubaran paksa yang masih kerap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia.

Di saat yang sama, saya pun geram. Saya dapat membayangkan bahwa umat Kristen di Dharmasraya tentu tak jauh berbeda dengan Ibu Batak tadi. Sebuah kelompok yang terdiri dari individu-individu yang hanya ingin melaksanakan ibadah dengan damai dan hangat bersama keluarga. Individu-individu yang hanya ingin mengeluh soal perjalanan mudik, pakaian apa yang cocok buat Malam Kudus, atau kue apa yang sebaiknya dimasak untuk disantap bersama sepupu jauh.

Jika Ibu di bus tadi mengeluh tidak bisa merayakan Natal karena gerejanya digeruduk ormas, saya tidak yakin bisa menimpalinya dengan senyuman.


Beberapa hari kemudian saya naik kendaraan umum lagi. Di dalamnya, ada anak yang tidak berhenti bernyanyi dengan suara yang cukup keras. Saya sih tidak senewen kalau soal anak kecil menyanyi: namanya juga anak kecil. Tapi tante anak ini malah rewel. Anakmu suruh jangan keras-keras lah, ujarnya ke ibu si anak. Sebaliknya, si ibu malah meng-encourage. “Namanya juga anak-anak.” Beberapa saat kemudian mereka malah duet.

Lamat-lamat di antara suara musik dari earphone, saya berusaha mendengarkan nyanyian si anak. Kok anak kecil nyanyi lagu cinta-cinta-an? Setelah beberapa baris lirik, barulah ketahuan kalau ‘cinta’ tadi adalah cinta dan kasih Yesus. Owalah, lagu rohani, batin saya.

Tiba-tiba saya jadi teringat ibu-ibu di bus waktu itu. Sepertinya rombongan ibu-anak-tante ini juga mau ke rumah saudara, mau merayakan Natal. Tante yang paranoid itu pun kembali mengkritik keputusan si ibu yang membiarkan anaknya menyanyi–yang kini makin keras. “Ya kamu sih, dibiarin, katanya anak kecil, jadi tambah keras kan.”

Entah apa yang membuat si tante begitu kontra keponakannya menyanyi. Mungkin takut mengganggu penumpang lain. Saya jadi teringat lagi peristiwa Dharmasraya itu. Apakah si tante takut lagu rohani yang dinyanyikan keponakannya akan membuat penumpang lain geram karena penumpang lain mayoritas Muslim? Entah. Semoga bukan.

Tapi pikiran mengenai adanya kemungkinan itu membuat saya resah. Saya mungkin akan bereaksi serupa jika dalam posisinya: hidup sebagai minoritas yang haknya tidak pernah dijamin-dijamin amat. Ketika hukum tidak lagi kuat menjaga hak, kalah dengan kekakuan dan keegoisan mayoritas berkedok “perjanjian/kesepakatan” sosial. Padahal, semua orang tahu, norma sosial tidak lebih mengikat daripada hukum formal. Setidaknya itulah yang saya pelajari di sekolah dan kampus.

Atau mungkin itu penyebabnya: masyarakat tidak tahu. Artinya, tidak berpengetahuan dan berpendidikan untuk sadar bahwa beribadah adalah hak dasar pemeluk agama. Bahwa kesepakatan tidak bisa jadi alasan untuk mengekang hak orang lain. Bahwa ibadah umat lain tidak serta-merta menggugurkan atau melunturkan iman (kecuali kalau iman mereka memang sudah lemah).

Tapi kok, rasa-rasanya ini bukan soal tahu/tidak tahu. Buktinya, banyak kejadian-kejadian serupa sejak puluhan tahun lalu di daerah-daerah lain di Indonesia. Tidak mungkin jika semua nya diakibatkan oleh ketidaktahuan (menghindari kata kebodohan).

Jika memang bukan, maka justru lebih berbahaya lagi. Apakah masyarakat Indonesia memang tidak toleran? Apakah kalau jadi mayoritas, maka otomatis punya kuasa dan privilese agar semua kemauannya diikuti?

Apakah kalau jadi mayoritas, bisa seenaknya? Bisa bebas ibadah di rumah ibadah, di jalan, bahkan di Monas. Sementara umat lain yang mau beribadah malah dipersulit.

Saya bergidik mengetahui bahwa hal ini masih saja terjadi di Indonesia. Saya makin horor kala menyadari bahwa mereka sejatinya seiman dengan saya.


Tentu tidak semua Natal jadi momok bagi umat Kristen. Ada ribuan komunitas dan kampung yang Natalan dengan baik-baik saja. Ada yang gerejanya dijaga Muslim, ada yang dipinjami tenda, ada yang masak bareng, ada yang Sinterklas nya Muslim, ada yang dirayakan resmi oleh Pak Lurah, dan sebagainya.

Saya membahas Dharmasraya karena memang seharusnya begitulah suatu kasus diperbincangkan: yang heboh-heboh saja. Karena saya yakin (dan berharap), kasus Dharmasraya hanyalah satu atau sebagian kecil anomali masyarakat yang sejatinya masih sangat toleran. Bahwa kasus Dharmasraya jadi ramai karena ia tak biasa: artinya, bahwa yang ‘biasa’ adalah toleransi dan kerukunan antar umat.

Saya tiba-tiba terbangun karena earphone saya tiba-tiba tidak lagi melantunkan musik. HP saya mati. Anak kecil itu sudah tidur. Kini si ibu dan si tante sedang berbincang mengenai siapa saja yang pulang dan berkunjung di Natal tahun ini.

Hari raya memang seharusnya merepotkan. Seperti ibu-ibu Batak kemarin yang kerepotan memilih baju dan membawa barang bawaan untuk mudik. Hari raya juga seharusnya festive, meriah, dan hangat. Sehangat lagu-lagu dan puji-pujian yang dilantunkan anak tadi untuk Yesus. Semeriah dan girangnya ia bernyanyi keras-keras dengan ibunya.

Selamat natal, Bu. Selamat natal, Dek.

« »
%d bloggers like this: