“Permisi… rumahnya Indra Tauhid? Saya Arini… Arini Chaniago.”


Akhir pekan soliter mengantarkan saya ke halte bus terdekat, naik bus 15 menit, lalu melangkah turun ke bioskop di daerah Jaksel, seberang tol dalam kota. Loket sepi, ruang tunggu senyap, dan toilet kering menemani saya menyapa mbak-mbak bersenyum manis penjual tiket. “Love for Sale 2, mbak. Satu tiket,” pinta saya. Membayar, beli kudapan, lalu duduk sambil buka HP, mencoba mencari apa yang harus saya ketahui dari film ini.

Love for Sale 2 (2019) besutan Andibachtiar Yusuf ini adalah sekuel dari film pertamanya, Love for Sale (2018). Sebelum berangkat ke sini, saya was-was; jangan-jangan saya harus paham dulu plot film pertamanya (yang tidak saya tonton). Rupanya, setelah sedikit scroll ke sana-sini, hal itu tidak perlu. Film kedua ini tidak ada kelanjutan plot dari film pertama. Ya, mungkin ada lah sedikit-sedikit easter egg atau fan service yang bakal membuat penonton film pertama mak jegagig “Ah, ini kan yang di film pertama!” Trope semacam itulah.

Hal terpenting yang hanya perlu saya tahu adalah premisnya: seorang laki-laki, dengan lingkungan yang mendesaknya mencari pasangan, memutuskan untuk mengandalkan jasa pasangan palsu dari perusahaan Love Inc.

Berbekal informasi yang sangat minim tersebut (kadang informasi minim soal film lebih baik daripada over informed, apalagi kena spoiler), saya pun masuk 5 menit sebelum jadwal tayang. Setelah iklan, trailer, dan seperempat boks popcorn medium kemudian, barulah film dimulai. Awalnya sih saya berlagak hendak analisa film macam movie reviewer selama nonton. Namun, rupanya gagal. Akal saya amat teralihkan dengan color pallete yang vibrant dan neon-esque (seperti yang dipakai di posternya), Jatinegara yang sangat liveable, lelucon yang cukup jenaka, dan, hm, product placement yang suka out of place?

Jangan salah sangka dulu. Film ini mengalihkan akal saya dalam bentuk yang indah. Alih-alih ingin jadi analis film, pikiran saya malah memaksa saya untuk fokus menikmati film ini. Semua faktor pengalih itu saya nikmati: warna cerah memanjakan mata, potret lingkungan asri menentramkan jiwa, dan humor ringan membuat saraf rileks. (Semua benar-benar saya nikmati kecuali product placement, tentu saja. Bayar jasa Love Inc. pakai pinjaman online sih masih masuk akal. Lha kalau sedang meeting tiba-tiba datang paket dari olshop, apa hubungannya sama alur cerita?) 

Keluar dari bioskop pukul sepuluh malam lewat sedikit. Tidak ada non tunai, saya jelas tidak bisa pakai bus. Tapi sangsi masih ada, jadi saya naik ke JPO lalu ke halte. Nggak bisa, kata petugas halte. Ya sudah. Saya turun, lalu mengeluarkan HP. Setelah pikiran cukup terdistraksi, saya pun jadi lebih mudah mencatat apa saja yang menurut saya menarik dan patut jadi omongan soal film “Jualan Cinta” ini.

Saya duduk di bangku trotoar, pesan ojol, lalu buka Notes. Pertama, catat saya: Ini bukan kisah cinta. Setidaknya, bukan kisah cinta konvensional antar dua umat manusia. Love for Sale 2 mengangkat cinta yang lebih hangat nan sederhana tapi juga kompleks: keluarga. Wabil khusus, bagaimana interaksi dan relasi antara seorang ibu menjelang senja dengan anak laki-laki nya yang masih membujang di usia 30an.

Sedari awal, tokoh Mama / Ibu Rosmaida (Ratna Riantiarno) digambarkan sebagai ikon ibu penuh stereotipe; bawel, banyak mau, tidak mau salah / kalah, agamis, penyayang anak, dan—yang paling penting—sangat mendambakan punya menantu yang sesuai dengan harapannya. Mama ini anaknya 3, yang sulung dan bungsu sudah menikah. Si Tengah? Ya ini yang jadi soal: Ican (Adipati Dolken) yang tak ambil pusing soal pasangan atau pernikahan, hampir setiap hari kena omel Mama agar segera menikah juga. 

Suatu hari tetangga mereka meninggal. Mama (yang memang agamis) langsung berdalil ke Ican, intinya Mama sudah tua dan takut keburu mati sebelum Ican menikah. Dengan makin banyak desakan, akhirnya Ican memesan jasa Love Inc.. Dipesanlah seorang perempuan yang penyayang, cocok dengan ibunya, paham agama, satu suku, dan “kalau bisa” cantik. Sandiwara pun dimulai. Arini Chaniago (Della Dartyan), si agen Love Inc., datang ke rumah, mengaku sebagai mantan pacar Ican, lalu menumpang tinggal dengan alasan “training” di Jakarta (faktanya: sampai kontrak jasanya habis). 

Dengan kesan pertama yang sempurna, kepiawaian teknik menarik hati Mama, plus Mama yang memang sudah ngebet ingin segera menikahkan Ican, singkat cerita, Arini jadi favorit Mama. Masak bareng, belanja bareng, dikenalkan ke tetangga dengan bangga, pokoknya mood Mama juga jadi naik drastis. Mama jadi Bahagia 24/7. Bahkan ketika Mama sedih karena anak bungsunya mau cerai, Arini tetap jadi penghibur Mama. Mama yang awalnya tidak terlalu suka dengan menantu pertamanya (istri anak sulungnya) pun kini jadi ramah dan hangat karena kehadiran Arini melunakkan hati Mama. 


Mungkin dibanding film pertamanya, interaksi antara Arini dan tokoh utama laki-laki di film ini (Ican) memang kurang. Tapi memang itu inti ceritanya. Love for Sale 2 jelas mempromosikan Love Inc. untuk kegunaan lain: mencintai keluarga—setidaknya sebagai katalis agar suatu keluarga jadi lebih bahagia. Memang sih, Ican kemudian baper: jalan bareng, makan bareng, pelukan, ciuman, dan hal-hal standar percintaan dua insan lainnya muncul. Tapi yang patut digarisbawahi: Ican jatuh cinta bukan karena dia Arini atau karena perlakuan Arini ke dirinya, melainkan karena sikap Arini ke Mamanya.

Ican menggunakan jasa Love Inc. bukan untuk dirinya melainkan untuk mententeramkan Mama. Ican kemudian baper pun karena keberhasilan Arini menenangkan dan membahagiakan Mama. Jadi, waktu film bubar dan mbak-mbak di belakang saya nyeletuk, “Nanggung banget. nih. Mendingan di film pertama, mereka sempet jalan yang gimana dulu gitu,” I think she missed the point. Ini bukan tentang Ican; ini tentang Mama. 

Berbicara soal cara Ican membahagiakan Mama lewat Arini, saya pun terpikir poin kedua: jika awalnya bohong tapi hasilnya bagus, apakah boleh? Saya sudah di atas ojol, setengah jalan ke kos, tapi ingatan saya kembali ke Arini. Pun, sejak kedatangan Arini, tidak ada hal tak menyenangkan atau bahkan buruk yang menimpa keluarga Mama dan Ican. Semua jadi positif, hangat, dan bahagia. Ibarat Robin Hood atau Raden Mas Said yang mencuri cuan pejabat lalu dibagikan ke fakir miskin; apakah tindakan Ican—meskipun bohong tapi berhasil membuat Mama senang—bisa dibenarkan?

Tentu pertanyaan filosofis seperti ini bukan untuk dibahas dalam beberapa paragraf. Sebuah pertanyaan klasik dengan pendukung argumentasinya masing-masing, yang bahkan perdebatannya sudah setua usia peradaban manusia. Machiavelli boleh berdalil, “the end justifies the mean, bahwa hasil akhir menjustifikasi caranya. Bahwa menentukan cara yang dipakai itu buruk atau baik adalah dengan melihat hasil yang muncul. Jika hasilnya baik, maka caranya ya baik. Dan sebaliknya. 

Tapi kan Machiavellian itu realis. Bagi kelompok etis: apapun hasilnya, ya kalau caranya salah ya tetap saja salah. Semua berawal dari niat, katanya. Kalau dari awal sudah salah ya nanti pasti suatu saat bakal kena dampaknya. Ya, betul sih kalau melihat dari Love for Sale 2 ini. Arini pun akhirnya pergi. Mama dan keluarga, yang tidak tahu kalau Arini hanya akal-akalan Ican, sedih. Ican yang terlanjur baper, patah hati. Kalau caranya salah ya akhirnya tetap nggak enak juga, kan, ujar kelompok etis.


Sambil membuka pintu kos, saya mencatat poin terakhir: jika sudah tahu akhirnya bakal menyakitkan, apakah masih pantas dilanjutkan? Ican tahu, Arini tidak bakal kekal bersama Mama. Bahkan malah cuma beberapa bulan. Iya, Mama jadi bahagia karena ada Arini. Tapi kan tetap saja ujungnya Arini bakal pergi. Bukankah malah jadi lebih parah ketika Mama sudah sangat bahagia, tapi kok Arini malah mendadak pergi?

Sebelumnya, di tengah cerita, Ican sempat bertanya ke Arini. Kenapa sih kamu mau kerja seperti ini, tanya Ican sambil berhadapan menatap Arini. Dengan senyum super manis (benar-benar manis, ya Allah), Arini menjawab sederhana: karena ia ingin berbagi kebahagiaan dengan orang lain.

Saya yakin seantero studio bioskop melting dan baper mendengarnya. Saya pun. Tapi sekarang, setelah ke WC lalu berbaring di kasur sambil menghitung sisa uang bulan ini, pikiran pun mulai jernih. Kata-kata Arini itu lalu terngiang di benak saya. Arini, persetan sekali. Apakah menurutmu memberikan kebahagiaan yang amat sangat lalu tiba-tiba menghilang begitu saja tetap bisa kamu sebut ‘memberi kebahagiaan’? 

Pertanyaan inilah yang menurut saya mengganggu para pasangan beda agama, beda negara, tanpa restu, dan banyak pasangan lain yang sudah tahu bahwa takdir tidak akan membawa mereka ke mana-mana. Saya tak dapat jawab. Selain karena saya tidak ada di posisi itu, saya juga tidak berhak berkomentar tentang apa yang dilakukan orang lain dalam mengejar kebahagiaan. 

Mungkin bagi banyak orang, kebahagiaan sementara adalah lebih baik daripada tanpa kebahagiaan sama sekali. Mungkin bagi Ican, menenangkan Mama sementara adalah lebih baik daripada harus diuber terus soal nikah. Mungkin bagi Arini, membahagiakan orang lain semaksimal mungkin (dalam waktu singkat) adalah kebaikan sejati, meskipun harus pergi tiba-tiba kemudian. 

Love for Sale 2 jelas bukan kisah cinta. Ini kisah tentang ibu dan anak. Ini kisah tentang manusia yang memilih jalan bahagia masing-masing, meskipun tidak kekal (Tapi, ya, bukankah semuanya tidak ada yang kekal?). Ini kisah tentang kebijaksanaan manusia memilih cara dan tujuan hidup; tentang apakah cara menentukan hasil atau hasil lah yang menjustifikasi cara; tentang apa yang kita percayai soal kebahagiaan.

Setelah selesai merenungi kisah Mama dan Ican sambil menghitung uang, saya pun mematikan lampu dan bersiap terlelap. Satu hal yang pasti: nonton di akhir pekan itu mahal. Apalagi ditambah beli popcorn ukuran medium buat dimakan sendirian.