Ide dan Coretan Sederhana

Beriman Tanpa Simbol: Mampukah? Silence (2016) Berusaha Memberi Tahu Jawabannya

“I worry, they value these poor signs of faith more than faith itself. But how can we deny them?


Selepas sahur hari ke sekian, Ramadhan 1441 H (2020). Adik saya menyalakan TV, muncul film Exodus: Gods and Kings (2014). Adegannya saat Tuhan menjatuhkan 10 tulah ke Firaun dan Mesir: Nil berubah merah darah, hujan katak, serangan belalang, dan sebagainya. Saya otomatis menceritakan riwayat 10 tulah Mesir ini adik saya, sejauh yang saya tahu.

“Itu dari Alkitab?” tanya adik saya. Saya mengiyakan.

Tiba-tiba, dari kamar Mama saya menyahut, “Kok kamu tahu cerita-cerita Injil, sih?”

Saya memang suka mempelajari banyak hal, termasuk kisah-kisah agama lain. Seperti kata Iroh dalam Avatar: The Last Airbender S2E09 (2006), “It is important to draw wisdom from many different places. If you take it from only one place, it become rigid and stale.”

Beberapa hari kemudian, saya menonton Silence (2016) karya Martin Scorsese. Sebuah adaptasi novel tentang kisah Jesuit Eropa di Jepang pada abad ke-17. Sebuah film yang kemudian membuat saya semakin yakin bahwa membeli baju baru tidak ada kaitannya dengan merayakan Idul Fitri.

Silence dibuka dengan cerita tentang Bapa Ferreira (Liam Neeson), seorang Jesuit di Jepang yang dikabarkan murtad (apostasy) akibat persekusi dan eksekusi pemerintah Jepang yang menolak kehadiran Kristen. Gereja lalu mengirim Bapa Rodrigues (Andrew Garfield) dan Bapa Garupe (Adam Driver) untuk mencari tahu kebenarannya, dan—jika memungkinkan—mengembalikan Ferreira ke Kristen.

Jepang sejak kepemimpinan Shogun Tokugawa (1600) mulai menerapkan isolasionisme dan menolak kedatangan bangsa asing, termasuk budaya dan agamanya. Di sisi lain, Eropa sedang gencar-gencarnya menyebarkan agama Kristen, manifestasi nyata slogan ‘Gold, Gospel, and Glory’.

Praktis, sebuah resep sempurna untuk pertentangan antar kebudayaan.

Singkat cerita, dengan bantuan seorang Kristen Jepang yang kabur karena persekusi bernama Kichijiro (Tadanobu Asano), Rodrigues dan Garupe berhasil mendarat diam-diam di Jepang. Mereka ditampung di suatu desa kecil yang penduduknya sudah memeluk Kristen.

Padre Rodrigues dan Garupe disambut bak juru selamat, kemudian sibuk melayani misa, pembaptisan, sampai menerima pengakuan dosa. Tentu dengan segala keterbatasan dan kesunyian; jangan sampai pemerintah Jepang memergoki mereka dan menyeret mereka semua untuk disiksa.

“…beban kesunyianMu sangat mengerikan.”

Bagai menyembunyikan bangkai, kegiatan Rodrigues dan Garupe pun terbongkar. Singkat cerita, setelah berpisah dengan Garupe, berkelana, dan dikhianati Kichijiro, Rodrigues tertangkap pemerintah Jepang. Ia ditawan sambil dipaksa menyaksikan umat Kristen Jepang disiksa. Mereka akan terus mengalami persekusi dan penyiksaan sampai Rodrigues sendiri murtad.

Tanpa diduga, Ferreira datang. Kini ia bekerja untuk pemerintah Jepang. Ia sudah meninggalkan jubah kependetaan, mengadopsi nama Jepang, dan menjadi penduduk Nagasaki.

Ferreira benar-benar telah murtad, tapi dengan alasan yang tidak Rodrigues duga.

Silence sejatinya berusaha menanyakan dua hal sederhana mengenai keimanan dan agama. Pertama, dengan berbagai penderitaan yang dialami penduduk Kristen Jepang, di mana kah Tuhan? Mengapa, ujar Rodrigues, Tuhan tetap sunyi melihat kekejaman?

“I feel so tempted. I feel so tempted to despair. I’m afraid. The weight of Your silence is terrible. I pray, but I’m lost. Or am I just praying to nothing? Nothing. Because You are not there.”

Ferreira punya jawaban atas ini, “I pray too, Rodrigues. It doesn’t help. Go on, pray. But pray with your eyes open.” Ferreira mendesak Rodrigues melihat kenyataan bahwa manusia harus bekerja atas nama Tuhan.

Mungkin saya (sebagai seorang non Kristen) melewatkan beberapa poin-poin teologis Kristiani dari film ini. Tapi, bahasa Tuhan universal, menurut saya. Dan kalau boleh saya utarakan, bahwa Silence memberi kita pencerahan: Tuhan tidak selalu bekerja dengan keajaiban ala mukjizat yang memelintir hukum alam.

Tuhan bekerja lewat manusia. Manusia harus mengubah nasibnya sendiri. Bagi Rodrigues, ini artinya ia harus mengorbankan dirinya, kependetaannya. Murtad demi menyelamatkan nyawa umat Kristen Jepang.

Bukankah manusia adalah makhlukNya yang paling sempurna? KeajaibanNya? Mungkin memang inilah cara Tuhan bekerja: lewat tindakan yang dilakukan ciptaanNya, keajaibanNya. Lewat manusiaNya.

Beriman Tanpa Simbol, Ikon, Maupun Ritus

Pertanyaan kedua: mampukah beriman dalam kesunyian?

Rodrigues telah resmi murtad. Kini ia bersama Ferreira bekerja untuk pemerintah Jepang. Mereka memeriksa barang-barang yang dijual Belanda di Jepang, memastikan bahwa Belanda tidak menyelundupkan simbol-simbol Kristen seperti salib, rosario, gambar / ukiran Yesus, dan sebagainya.

Berkat kemurtadannya, Rodrigues diterima pemerintah Jepang. Seperti Ferreira, ia mendapat nama Jepang, lalu berasimilasi menjadi penduduk Jepang, menikahi wanita Jepang.

Tapi, apakah Rodrigues benar-benar ‘murtad’?

Bahkan Ferreira pun sepertinya tidak benar-benar murtad. Demi bertahan hidup, Ferreira memang secara formal memilih menanggalkan titel kependetaan dan misi Jesuitnya. Rodrigues pun demikian.

Tapi, iman adalah masalah hati. Ferreira, atau setidaknya Rodrigues, mulai mengerti bahwa rosario, Alkitab, bahkan salib bukan simbol keimanan. Bahwa menginjak ukiran Yesus dan Bunda Maria sebagai bukti murtad bukanlah tanda kehilangan keimanan. Bahwa menyatakan diri murtad di hadapan pemerintah Jepang, kemudian hidup tanpa pernah melakukan ritual Kristen lagi bukan juga arti bahwa Rodrigues telah kehilangan kepercayaan terhadap Tuhan.

Meskipun berat, tapi Rodrigues akhirnya paham bahwa mereduksi keimanan dengan sebatas ikon, simbol, dan ritus bukanlah jalan keimanan yang selalu benar. Bahkan tindakan seekstrem menginjak wajah Yesus pun bukan jaminan seseorang kafir atau sesat.

Sampai meninggal bertahun-tahun kemudian, Rodrigues tetap percaya Tuhan. Dalam diam, dalam kesunyian.

Yang Di Sini: Menunggu Keajaiban Sambil Merayakan Reduksi Keimanan

Saya menulis ini di malam Idul Fitri 1441 H. 23 Mei 2020, hari di mana seharusnya masyarakat masih mengisolasi diri akibat wabah Covid-19 yang masih merajalela di Indonesia.

Nyatanya? Saya melihat dua hal. Pertama, masyarakat mendamba mukjizat. Keajaiban bahwa Covid-19 akan lenyap dalam semalam. Bahwa masyarakat tidak perlu isolasi mandiri, tidak perlu menghindari keramaian, memakai masker, bepergian. Tidak perlu.

Masyarakat bak tak paham (atau mungkin memang tidak paham), bahwa Tuhan bekerja lewat manusia. Bahwa memusnahkan Corona adalah dengan upaya manusia, semaksimal mungkin. Bukan lalu bergantung pada mukjizat sementara tiada ikhtiar apa-apa.

Kedua, bahwa masyarakat terjebak dalam reduksi keimanan. Bahwa makna Idul Fitri lalu dikerdilkan menjadi dua hal: mudik dan baju baru. Semua memaksa mudik, semua memenuhi mall membeli baju baru.

Saya sampai sakit kepala berusaha mencari tahu alasan rasional apa yang ada di pikiran masyarakat. Mengapa harus beli baju baru di tengah krisis pandemi virus macam ini?

Apakah mungkin saya harus mengajak mereka menonton Silence agar paham bahwa beriman dan beragama tidak harus bergemerlap simbol? Agar pula paham bahwa mukjizat Tuhan bekerja lewat ikhtiar manusia?

Selamat Idul Fitri.

« »
%d bloggers like this: