Siang itu, Pak Dukuh sedang duduk santai sambil merokok di teras saat iring-iringan warga menyambangi rumahnya. Adalah Pak Imam yang memulai bicara, tergopoh-gopoh.

“Assalamualaikum, Pak Dukuh.”

“Waalaikumsalam, Pak Imam. Kok rame begini, ada apa ya?” jawab Pak Lurah. Sedikit bingung, sedikit cemas.

“Begini, Pak. Ini kami butuh bantuan Pak Dukuh untuk berembug dan menemukan jalan tengah,” jawab Pak Imam segera.

“Waduh, ada soal apa ya? Mungkin bisa diselesaikan sambil duduk, tapi kalau semua duduk di dalam ya ndak muat rumah saya.”

Pak Imam kemudian mengordinir warga agar merapat ke rumah Pak Dukuh. Beberapa masuk, sebagian besar duduk di teras dan di halaman.

Bu Dukuh menghitung tamu yang duduk di dalam. Lima. “Di luar kira-kira ada delapan, Bu,” tambah Pak Imam, berharap disuguhi es sirup.

Pak Dukuh lalu bertanya ada masalah apa.

“Begini, Pak. Ini ada Pak Sopiyan dan Pak Koldun. Tadi kami mendapati mereka sedang baku hantam di depan masjid,” terang Pak Imam, tanpa tedheng aling-aling.

“Ya Allah, lha kenapa?” tanya Pak Dukuh kaget.

“Ya tanya saja itu si Kol, si serakah!” ujar Pak Sopiyan sambil menunjuk-nunjuk. Si empunya nama tidak terima. “Brengsek! Sampeyan yang nggak tahu diri!”

Pak Sopiyan dan Pak Koldun nyaris jotos-jotosan lagi jika saja tidak dilerai orang-orang yang duduk di ruang tamu itu.

“Tenang, Pak, tenang!” hentak Pak Dukuh.

“Bapak-bapak ini kan sudah dewasa, ya dewasa dong! Persoalan kan bisa diselesaikan pakai musyawarah, bukan tinju.”

Pak Sopiyan dan Pak Koldun terdiam.

“Ceritakan dulu apa yang terjadi, nanti saya dan bapak-bapak akan bantu solusinya,” tambah Pak Dukuh lagi. Pak Imam dan bapak-bapak lain manggut-manggut.

Pak Sopiyan dan Pak Koldun saling menatap, masih benci dan penuh amarah. Keduanya sudah membuka mulut hendak bicara, tapi Pak Dukuh keburu memotong, “Pak Koldun dulu, coba ceritakan ada apa.”

Pak Koldun duduk tegap sambil melipat tangan. “Jadi, Pak Dukuh, si Sopiyan ini, berani-beraninya mau memakai tanah saya untuk beternak sapi, untuk kandang dan tempat sapi-sapinya merumput—”

“Eh, sembarangan!” potong Pak Sopiyan. “Jelas-jelas itu tanah saya, mau saya pakai apa ya terserah saya. Kok malah mau sampeyan pakai bertanam kubis!”

“Ya memang mau ditanam kubis, wong tanah saya!”

“Tenang dulu, Pak,” lerai Pak Dukuh. “Jadi ini sengketa tanah?”

“Ya!” jawab Pak Sopiyan dan Pak Koldun serentak.

Pak Dukuh menarik nafas panjang. Ia sudah beberapa kali terlibat dalam drama urusan tanah begini. Sengketa tanah di kampung seperti ini memang biasa, dan alasannya satu: tidak ada sertifikat. Semua tanah pasti warisan, dari jaman kumpeni bahkan. Jaman segitu, siapa mau urus sertifikat?

Sampai sekarang pun, karena warga beranggapan itu warisan, itu tanah ya sudah didiamkan saja. Tanahnya jelas di situ ada wujudnya, tidak bakal ada yang mencuri, jadi mereka malas mengurus sertifikat ke pemda. Lagipula, siapa yang mau urus tanah? Ribet, banyak aturan, banyak fotokopi dan tanda tangan, lama dan mahal pula.

“Jadi, Pak Sopiyan dan Pak Koldun ini punya tanah, tapi tidak jelas siapa pemilik terangnya. Warisan, kah?” tanya Pak Dukuh mencoba mengulik informasi.

Pak Sopiyan diam saja. Pak Koldun tidak menjawab.

“Kalau boleh tahu, tanahnya di sebelah mana, dari mana sampai mana?”

“Itu, di seberang sungai,” jawab Pak Sopiyan. “Sekitar setengah hektar memanjang ke utara, berbatasan dengan masjid.”

“Tadi saya sedang ke sana, mengecek dan menimbang-nimbang sebaiknya bangun kandang sapi di mana, lalu si Koldun ini datang dan ngajak ribut,” tambah Pak Sopiyan. Pak Koldun geram lagi, tapi Pak Dukuh segera menguasai keadaan.

“Sabar dulu, jangan asal menuduh. Apa itu benar, Pak Imam? Pak Imam kan tadi yang ketemu pertama kali?”

“Iya, Pak Dukuh, betul,” jawab Pak Imam. “Saya sedang di masjid, lalu terdengar suara orang teriak-teriak. Ternyata Pak Sopiyan dan Pak Koldun sedang adu mulut. Baru saja saya mau nyamperin, eh udah pukul-pukulan.”

Pak Dukuh lalu berpikir. Ada yang ia rasa janggal, tapi ia belum sadar.

“Jadi, tanah di seberang sungai? Yang dekat jalan aspal?”

“Betul,” jawab Pak Imam.

“Bukannya itu tanah punya Mbah Goto? Mbah Goto nya masih ada kan?”

“Simbah masih sehat, Pak, alhamdulillah,” jawab Pak Koldun. Pak Sopiyan juga mengangguk.

Pak Dukuh lalu sadar satu hal.

“Oh iya, Pak Sopiyan dan Pak Koldun ini saudara kan? Sepupu, ya?!” Mereka berdua mengangguk.

“Owalah, jadi ini masalah warisan tanah Mbah Goto?” Mereka kembali mengangguk.

“Berarti, Mbah Goto sudah pesen besok tanahnya mau diapakan? Diwariskan ke siapa?” Mereka berdua kini diam.

“Bukannya Mbah Goto masih sehat? Kok sudah berwasiat? Jangan-jangan sudah sakit?” cecar Pak Dukuh. Warga yang di luar rumah rupanya sudah berkerumun di ambang pintu, menyimak.

“Belum, Pak,” jawab Pak Sopiyan lirih. “Mbah Goto masih giras. Ini saja belum balik dari sawah.”

Pak Dukuh terbisu. Sejurus kemudian, ia terbahak-bahak. Pak Imam dan para warga masih belum mengerti.

“Jadi, itu tanah punya Mbah Goto?” Pak Imam mencoba mencerna. “Masih punya Mbah Goto, dan Mbah Goto belum mewariskan ke siapa-siapa?”

“Lha iya, to!” ujar Pak Dukuh, menyeka air mata tawanya. “Jadi, sampeyan berdua ini gelut rebutan tanah, tapi tanahnya belum ada?”

Siang itu, rumah Pak Dukuh menjadi sumber suara “owalah” terkeras se-dunia.

[.]

Suka cerita ini? Yuk, klik tombol di bawah buat dukung penulis terus berkarya. Terima kasih banyak.

Nih buat jajan

Photo by Miha Rekar on Unsplash