Ide dan Coretan Sederhana

Apakah Kita Belum Sepenuhnya Merdeka? Sebuah Refleksi 75 Tahun Dirgahayu Republik

Pagi hari 17 Agustus saya bangun tidak cukup pagi. Pukul 9. Papa dan Adik sudah bersiap di depan TV, menghormat saat bendera merah putih dikibarkan. Lalu difoto dan dilaporkan ke grup kantor / sekolah.

“Aneh-aneh,” komentar saya.

Saya lalu menjalani hari kemerdekaan dengan cara biasa: mandi, makan, main gim, lalu buka sosmed. Lalu, sama seperti hari-hari lainnya, mood saya langsung berubah saat membuka Twitter.

Diantara tetek bengek upacara online, pecahan rupiah baru, dan kostum Jokowi yang viral, lagu lama kembali dikumandangkan tiap tahun. “Kita ini belum sepenuhnya merdeka!” ujar warganet bersemangat.

Saya jadi prihatin sekaligus ngeri. Apakah benar kondisi kita sekarang sama mengerikannya dengan masa penjajahan?

Siangnya, saya bertemu Flory. Ia juga punya gundah yang sama. “Kenapa nggak bersyukur aja sih kalau kita sudah merdeka?” ujarnya. “Mereka yang ‘berteriak’ seperti itu, aku yakin juga nggak tahu bagaimana rasanya benar-benar dijajah”.

Right!?

“Lagipula, aku yakin, nggak ada negara yang bisa memenuhi keinginan semua warga negaranya. Karena manusia akan selalu merasa kurang.”

Kami akui, Indonesia memang akhir-akhir sedang dirundung berbagai nestapa. Korupsi, pelecehan seksual, masalah tenaga kerja, (in)toleransi beragama, kebodohan, dan banyak lainnya.

Namun, meskipun begitu, kami sepakat bahwa menihilkan kemerdekaan yang sudah kita raih dari penjajah juga bukan hal yang elok.

“Mungkin karena orang-orang suka membandingkan. Misalnya, setelah 75 tahun merdeka, negara lain sudah bisa ini itu. Indonesia masih kayak gini-gini aja. Makanya dibilang belum merdeka sepenuhnya?” ujar Flory.

Aku sepakat. Mungkin itu juga penyebabnya. Tapi ya bak kata motivator, kalau kita banding-bandingkan diri dengan orang lain, ya bakal nggak ada habisnya.

Sambil mengunyah kentang dan minum teh pahit, kami menyadari satu hal. “Justru karena sudah merdeka, kita jadi bisa punya problem macam-macam ini nggak sih?”

Ia mengangguk.

Menjadi merdeka bukan berarti bebas dari masalah, kan?


Obrolan kami selengkapnya dapat didengarkan di Podcast Ngobrol di Luar. Klik tombol play di bawah ini atau kunjungi Podcast Ngobrol di Luar di Spotify.

« »
%d bloggers like this: