Jangan ke ge er an dulu dan menyangka kalau ini tentang kamu; tulisan ini saya buat sebagai tips bagi para buzzer supplier konten provokatif dan kontroversial agar selalu langgeng dan sakinah.


Sekarang awal September 2018, bulan masih pun muda tapi gejolak rakyat tetap saja bergoyang-goyang. Baru saja beberapa waktu yang lalu Asian Games berakhir sehingga kaum nyinyir bingung kehabisan lahan hendak berprestasi di mana. Maka, diseranglah rupiah. Nilai tukar rupiah yang semakin hari semakin melemah atas dolar kemudian menjadi bulan-bulanan kaum nyinyir. Katanya negara engga maju lah, ekonomi stagnan lah, banyak utang lah, mirip krisis 1998 lah, dan sebagainya.

Sebagai orang yang sebenarnya cukup awam soal permasalahan ekonomi global yang dikendalikan Rothschild dan Iluminati ini, saya engga banyak bercuap-cuap merespon komentar-komentar kaum nyinyir, terlebih untuk mendebunk teori-teori unyu mereka tentang ekonomi dunia. Di masa kuliah bertahun-tahun lalu, mata kuliah ekonomi politik merupakan salah satu mata kuliah yang saya hindari. Bukan karena dosennya yang suka datang telat, itu mata kuliah studi Tiongkok. Bukan juga karena tugasnya seabrek 24/7, itu mata kuliah kajian gender. Mata kuliah ekonomi politik ini saya hindari karena—entah mengapa—selalu membuat saya bingung. Otomatis, sebagai manusia yang dikendalikan oleh insting, saya agak bersembunyi dari makul ini karena takut semakin terjerumus ke dalam kebingungan Bretton Woods, WTO, IMF, dan kroni-kroni nya.

Tapi kemudian saya sadar itu salah. Seharusnya, sebagai mahasiswa saya menantang diri saya buat lebih paham soal perekonomian dunia. Saya kemudian menjadi sarjana tanpa pernah tahu mendalam mengapa dolar digunakan sebagai patokan kurs seluruh dunia menggantikan emas.

Saya juga sadar bahwa saya tertipu oleh rekan-rekan kuliah. Semasa kuliah, apalagi di ekonomi politik, saya melihat bukan cuma saya saja yang clueless. Teman-teman saya boleh dikata lebih parah. Datang terlambat, presentasi ala kadarnya, suka TA, tugas copas, dan segala dosa mahasiswa lainnya mereka lakukan. Otomatis, materi pun mereka mana paham. Karena itulah, saya cukup nyaman mengatakan pada diri saya sendiri bahwa tidak mendalami makul ekonomi politik bukanlah dosa besar karena rekan-rekan juga bersikap serupa.

Tapi kemudian, sekarang ketika isu dolar dan rupiah sedang panas-panas gorengan, rekan-rekan saya ini mendadak ahli.

Dari mana saya tahu? Tentu saja dari insta story, salah satu platform populer netizen jaman now. Bayangkan, mereka yang biasanya share hal-hal receh mendadak memenuhi story mreka dengan bahasan-bahasan yang ndakik tentang rupiah dan dolar. Mulai dari yang memang biasanya suka share konten-konten inspiratif di story, yang engga pernah bikin story, sampai yang biasanya story cuma buat share swafoto full selayar, jualan sepatu KW, foto traveling sama pacar, sampe tutorial make up akhirnya ikut-ikut share tentang kondisi mata uang kita. Sial, kukira mereka juga clueless, ternyata paham juga tentang world economy. Hebat betul!

Hampir semua kawan-kawan saya mendebunk pandangan (dari kaum nyinyir) bahwa rupiah sedang melemah. No, kata mereka, ini dolar yang sedang menguat. Ada empat poin utama yang selalu muncul di bahan share mereka. Pertama, bahwa dolar menguat sehingga bukan hanya rupiah saja yang lemah tapi banyak mata uang lain. Kedua, ‘melemahnya’ rupiah masih jauh lebih baik ketimbang mata uang lain misal lira Turki atau rupee atau bahkan seperti inflasi naudzubillah yang dialami bolivar Venezuela. Ketiga, faktor pelemahan ini bukan karena salah pemerintah tapi karena AS dan Tiongkok sedang perang dagang, suku bunga bank sentral AS sedang dinaikkan, dan faktor lain yang bersifat faktor eksternal. Keempat, mereka meminta, jangan bandingkan dengan krisis 1998 karena situasi dan perkembangan ekonominya jauh berbeda. Entah kenapa konten yang mereka share bisa disimpulkan jadi empat poin yang sama macam itu.

Usut punya usus, rupanya mereka reupload story dari orang yg sama.

Fenomena kawan-kawan yang biasanya share quote galau kok mendadak share tentang ekonomi global ini saya pandang secara positif sebagai munculnya silent majority. Saya engga mau mendefinisikan terlalu muluk-muluk karena ini blog bukan jurnal politik. Pokoknya, silent majority (SM) merupakan istilah untuk menyebut kelompok masyarakat yang tidak terlibat dalam diskursus tertentu (dalam hal ini diskursus tentang rupiah dan dolar). SM ini—meskipun jumlahnya lebih banyak—selalu terkesan tidak ada karena kalah suara dengan vocal minority (VM), yaitu sekelompok kecil masyarakat yang aktif menyuarakan pendapat (dalam kasus ini yaitu kaum nyinyir).

Kemunculan kawan-kawan yang mendadak vokal ini pertanda bagus; bahwa SM mulai berusaha untuk memberi informasi tandingan dari apa yang selalu diteriakkan oleh VM, yang kebanyakan tidak benar dan provokatif. Mungkin mereka jengah kok lini masa sosial media isinya orang-orang yang sok paham tentang rupiah dan makin memperkeruh suasana dengan menyalahkan pemerintah, padahal pemerintah juga engga apatis-apatis amat dan sudah menjalankan berbagai program dan kebijakan. Mungkin mereka kesal juga di tengah situasi seperti ini kok bukannya memberi solusi eh malah menyalahkan pemerintah dan menganggap negara ini kacau dan desperate. Jangankan memberi solusi, memberi info saja engga akurat dan penuh hoax. Lha yo nggatheli tenan, pikir kawan-kawan saya mungkin seperti itu.

Meskipun tipis, tapi kebangkitan ini nyata. Bagi kaum kaum nyinyir dan buzzer bayaran yang diupahi buat merongrong pemerintahan, ini dia saya kasih tips: netizen sudah mulai berubah dinamikanya. Ada shift dalam SM di dunia maya. Jika dulu kalian bisa sebar konten-konten hoax, sekarang suara SM makin mempersulit akrobat kalian karena mereka memberi data dan mengajak masyarakat untuk mengecek data tersebut. Apa kalian engga sadar juga, bahwa beberapa waktu belakangan ini komen-komen provokatif kalian jarang menjadi top comment lagi di Instagram? Itu karena makin banyak SM yang bersuara, dan salah satu suara mereka adalah menghimbau masyarakat agar tidak terpancing dengan komentar kalian. Mungkin sebentar lagi bayaran kalian akan berkurang karena karya kalian tidak sebombastis dahulu, saya turut prihatin. Maka dari itu saya tulis tips ini.

Meskipun kawan-kawan saya cuma repost story orang, toh rupanya itu cukup efektif juga menangkal konten-konten kalian. Itu baru dari kawan-kawan saya, lho. Di luar sana banyak sekali para ahli, master, dan penguasa di bidangnya yang lama kelamaan akan emosi jiwa juga melihat konten-konten menyesatkan yang kalian sebar. Nah, kalau mereka-mereka ini sudah beraksi, habis kalian. Level seperti mereka engga akan lagi cuma sekadar repost story orang atau copas tanpa ijin biar mendadak viral. Mereka akan mengeluarkan segala ilmu dan pengetahuan mereka untuk benar-benar mengedukasi masyarakat tentang info yang benar, mengebiri klaim-klaim hoax kalian, dan membredel posisi kalian di dunia maya. Maka saran saya, segera ganti strategi atau segera alih profesi. Ternak lele, buka jasa MUA, jualan tas KW, atau buka jasa skripsi, mungkin?

Tapi bagi yang masih ingin bertahan sebagai supplier konten-konten hoax, negatif, dan gemas-gemas menyebalkan, saya kira masih ada waktu. Pengikut fanatik kalian masih banyak, sepertinya. Masih saja ada yang menutup mata dari kebenaran dan menelan mentah-mentah serta hidup-hidup klaim-klaim kalian tanpa perlu cross check data dan fakta. Pengaruh kalian harus diperkuat di segmentasi ini, karena ini lah ladang emas kalian. Mereka ini adalah: 1) Orang awan atau yang benar-benar baru belajar mengenali kondisi sehingga harus kalian pengaruhi sedini mungkin; 2) Orang yang sudah kaliber menyukai konten konten kalian sejak lama. Ibarat cinta yang makin lama makin kesengsem, konten-konten kalian itu semakin hari semakin membuat mereka jatuh cinta, dan cinta itu buta; 3) Orang yang engga mau ribet-ribet belajar. Dalam kasus rupiah ini, janganlah pakai kata kata yang njelimet misal “tingkat suku bunga The Fed memperparah inflasi” atau “perang dagang membebani bea impor dan tarif”. Jangan, mereka tu engga paham dan engga mau paham. Pakai saja kata-kata sederhana yang mudah dipahami misal “kegagalan pemerintah”, “banyak hutang luar negeri”, atau “rezim bobrok miskin selamanya”. Nah, kalau kelompok dari tiga jenis ini kalian rangkul terus, nicsaya posisi kalian akan makin kuat. Periode depan, boleh tuh tarif kalian sebagai buzzer dimahalin.

Lagipula, para cebong SM ini juga belum solid muncul dan bersuara kok. Mereka musiman aja, muncul kalau kondisi benar- genting. Kalau kalian cuma share hoax harian, engga akan memancing mereka buat muncul dan vokal. Jadi santai saja. Jangan loyo nanti upah kalian berkurang, tapi jangan terlalu menggebu-gebu juga sampai mencuri perhatian SM. Yang santai-santai saja sehingga SM juga santai engga perlu repot-repot alih kegiatan yang biasanya selfie terus mendadak harus mendebunk kalian.

Lihat aja, buktinya mereka sekarang balik lagi share quote galau, foto pacar lagi makan, unboxing krim wajah, dan jualan barang KW. [.]