Ide dan Coretan Sederhana

Krisis Islam: Bagaimana Bisa Dilawan kalau Tidak Diakui?

Suatu hari di kelas sejarah, Samuel Paty menunjukkan karikatur Rasulullah. Siswa Muslim di kelas itu ia persilakan untuk tidak melihat atau keluar kelas. Samuel Paty tidak bermaksud menghina, ia hanya berusaha menceritakan bahwa “ada karikatur semacam ini, yang menimbulkan tensi di antara Muslim dan warga Prancis”.

Beberapa hari kemudian, ia dipenggal oleh ekstremis Muslim.

Presiden Macron merespon tindak kekerasan itu dengan menyatakan bahwa “…Islam sedang mengalami krisis di seluruh dunia…” dan bahwa perlu adanya “Islam des Lumières” atau Islam Pencerahan. Ia juga akan menerapkan “Islam yang sesuai dengan nilai-nilai Prancis”.

Respon dunia Islam? Marah. Diawali dengan Presiden Erdogan di Turki, lalu ke seluruh negara mayoritas Muslim lainnya. Kedubes Prancis didemo, foto Macron diinjak-injak, produk Prancis diboikot.

Umat Muslim sibuk marah ke Prancis dan Macron, sampai lupa dengan pernyataannya. Jujur saja, sudahkah kita menanyakan ke diri sendiri: “Apakah pernyataan Macron benar atau salah? Mengapa?”


Umat Muslim langsung mengutuk Prancis dan Macron. Padahal, sadar atau tidak, sebenarnya banyak (hampir semua) umat Muslim mengamini pendapat Macron.

Umat Muslim di seluruh dunia pasti sepakat bahwa masa terbaik adalah masa Rasulullah dan Khilafah (Khulafaur Rasyidin). Artinya, kita mengakui bahwa masa ini (sekarang dan nanti) bukanlah masa keemasan Islam. Jika sekarang bukan masa terbaik, berarti ada yang salah dengan umat Muslim, dengan Islam.

Kalau sekarang kita tidak bermasalah, tentu sekarang kita dapat mengulang masa kejayaan Islam seperti dahulu. Tapi karena tidak bisa, berarti memang Islam sedang dalam masalah.

Atau, seperti yang disampaikan Macron, “sedang dalam krisis”.


Menurut saya, kekerasan, terorisme, dan ekstremisme itulah yang disebut Macron sebagai “krisis”. Mau tidak mau, suka tidak suka, itulah gambaran Islam yang ada di benak sebagian orang.

Saya sepakat bahwa Islam sedang dalam krisis. Selain karena interpretasi dan sikap Muslim yang tidak sesuai dengan nilai utama ajaran Nabi, juga karena keengganan kita untuk terbuka dan mengakuinya.

Inklusivitas dan eksklusivitas adalah aspek yang dimiliki suatu kelompok. Siapapun itu, tidak hanya Islam. Kita merangkul individu-individu (aktor) yang dianggap dapat meningkatkan derajat kelompok, dan mengusir yang dianggap dapat merusak. Bahasa mudahnya, saling klaim dan bantah. Dan ini semua dilakukan oleh anggota kelompok sendiri, kadang (atau seringnya) tanpa mempedulikan apa yang aktor tersebut rasakan / pikirkan.

Klaim-klaim seperti Buddha dianggap Nabi, Sokrates disamakan dengan Lukman Al Hakim, bahkan sampai se-absurd Justin Bieber masuk Islam* pun belum terjadi lama, dan masih sangat mudah dicari jejaknya di labirin dunia maya. Padahal, usaha membantahnya secara ilmiah sudah dilakukan puluhan kali.

Tokoh-tokoh ini, oleh sebagian umat teori konspirasi Muslim, diklaim karena kiprah dan kisah mereka yang melegenda, penuh nilai-nilai kebaikan, dan digandrungi banyak orang.

Sebaliknya, orang-orang yang jelas mengaku Islam, menyembah Allah, mengakui Rasulullah, tapi karena kita tidak suka, lalu dicap bukan Islam. Yang masih jelas diingat tentu saja saat masa pemilu, di mana yang memilih calon tertentu dianggap menyalahi aturan agama lalu dicap kafir**. Lalu, bagi sebagian umat Sunni, semua aliran di luar Sunni dianggap bukan Islam, tanpa menghiraukan bahwa aliran-aliran yang dimaksud ada banyak variasi dan tidak semua menyimpang dari Islam.

Dan, tentu saja yang utama, teroris. Teroris yang jelas menyatakan bahwa ideologi mereka bersumber dari tafsir Islam, jelas bahwa mereka menyembah Allah dan mengakui Rasul, tapi karena kekejaman mereka yang begitu gila, kita tidak mengakui mereka. Kita tidak menganggap mereka bagian dari Muslim, dan selalu berlindung di balik kalimat “mereka bukan Muslim, mereka oknum” atau “mereka bukan Muslim yang benar”. (Belum lagi ada yang ngotot dengan teori konspirasi mereka kalau terorisme ini bentukan Barat).


Kita harus akui bahwa Islam lemah karena kita bercerai-berai. Betul, kolonialisme dan imperialisme Barat ratusan tahun adalah penyebabnya. Betul, kebodohan dan kejumudan adalah sumbernya. Tapi, ada satu hal yang sering tidak kita lakukan: mengakui bahwa Islam memang sedang lemah.

Ketika ada yang menuding Islam lemah, Islam sedang krisis, kita langsung marah. Kita tidak sempat mengambil waktu lalu berpikir, “Jangan-jangan, Islam memang sedang bermasalah?”

Padahal, mengakui kalau kita bermasalah adalah langkah awal melawan krisis Islam. Kalau kita mau menghilangkan problem dalam Islam, mau menguatkan umat, ya kita harus akui dulu bahwa kita sedang bermasalah. Agar tahu masalahnya apa dan dapat dicari solusinya.

Jika kena Covid, orang sudah bilang kamu kena, dokter sudah mendiagnosa kamu positif. Tapi, kamu tetap menolak. Tetap mengelak dan tidak mau mendengar saran, apalagi menjalani perawatan. Ya, bagaimana mau sembuh?

Dan memang, “krisis” yang dialami Islam itu nyata ada dalam Islam. Iya, terorisme dan kekerasan dapat dilakukan semua orang tanpa memandang agama. Tapi, mengapa di abad ke-21 ini mayoritas gerakan terorisme berlatar belakang Islam? Jelas ada masalah di situ.

Terorisme itu ya muncul dan bisa beraksi salah satunya karena ada tafsir ajaran Islam yang membuatnya bisa dilakukan. Jujur saja, bahkan di Indonesia sendiri, banyak “agamawan” yang mendukung pembunuhan Samuel Paty atas nama “membela Nabi”. Kalau pemikiran ekstrem seperti itu di Indonesia saja ada, apalagi yang di sana, yang mana memang posisi umat Muslim sedang sulit dan terbatas?

Kalau kita mengakuinya—alih-alih marah dan menutup mata—kita dapat tahu bahwa memang itulah masalah Islam. Kalau sudah tahu masalahnya, kita dapat mencari jalan mengatasinya.

Bagi umat Muslim, marah saat Rasulullah dihina adalah bentuk mencintai beliau. Diekspresikan dengan demo dan boikot itu wajar. Tapi diekspresikan dengan membunuh?

Iya, menggambar karikatur Nabi itu berdosa dan salah. Tapi, membunuh juga berdosa. Apakah dosa yang dibalas dosa itu dapat membuat dunia jadi lebih baik?


* Ini pernah saya temukan dulu di situs abal-abal yang memang mengklaim semua tokoh dunia masuk Islam (Justin Bieber, Paus, presiden AS, dan sebagainya). Untungnya, situs tersebut sudah tidak saya temukan.

** Kafir di sini artinya “tertutup [dari ajaran Islam]”. Saya gunakan sebagai konsep yang artinya “non Muslim”, tanpa mengandung konotasi negatif yang selama ini sudah disematkan di kata ini.


Featured Image dari Republika.

« »
%d bloggers like this: