“Jadi gini, Ndo…”

“Iya, iya, bawel! Nanti gue balik naik ojol, terus mobilnya lo bawa, kan? Biar lo bisa anterin itu si Nikka balik.”

Gue sumringah. Tiga hari gladi bersih ke Nando ternyata nggak sia-sia.

“Makasih banget lho, Ndo. Nanti gue traktir ra—”

“Iye, iye! Udah lu minggir sono gue mau kelarin nih kerjaan. Yang ada ntar gue malah lembur lagi!”

Gue melangkah balik ke cubicle gue. Tengok jam, setengah satu. Masih sekitar empat jam lagi sebelum puncak rencana ini terlaksana.

Puncak, ya memang karena ini puncak. Puncak dari empat bulan terakhir, saat gue pertama kali yakin ke diri gue sendiri, ‘gue harus deketin Nikka’.

Tentu saja itu semua bukan perkara gampang. Langkah pertama, pada umumnya: kepo sosmed. Ternyata Nikka nggak punya sosmed. Awalnya gue sangsi, ini cewek beneran nggak punya sosmed, red flag banget nggak sih? Tapi hal itu tertepis saat gue nguping obrolan Nikka dan cewek-cewek di kantor seminggu kemudian. “Iya, aku nggak main sosmed. LinkedIn aja sih, itu pun buat lamar kerjaan,” katanya sambil cekikikan.

Oke, one problem down.

Selanjutnya gue memantau rutinitas dia. Karena satu bagian, rutinitasnya sama kayak gue: masuk jam delapan, balik jam lima. Senin-Jumat. Nah, pertanyaan selanjutnya, habis dari kantor, ngapain?

“Rumah saya jauh, jadi saya jarang nongkrong gitu. Jadi langsung pulang, Pak. Apalagi saya naik kendaraan umum.” jawab Nikka saat ditanya Pak Broto yang kepoan itu. Tentu ini cuma kepoan biasa sih, bukan kepoan jelalatan ala karakter cerita-cerita panas nggak beres di internet. Pak Broto orang yang baik, dermawan, bijak. Nggak pernah sekalipun memarahi staf. Kalau kami berbuat salah, selalu dipanggil ke ruangan beliau dan dinasehati—dengan sebelumnya ditawari donat yang entah bagaimana selalu ada fresh setiap hari di meja beliau (kita nggak pernah lihat beliau bawa donat ke kantor, nggak pernah juga staf-staf disuruh beli).

“Jadi, Biyan, kerja kamu akhir-akhir ini kenapa suka banyak kesalahan kecil, ya? Kemarin laporan baru ke-print setengah, udah kamu kasih ke saya?” tanya Pak Broto di ruangannya sore itu setelah paginya beliau bertanya soal rumah Nikka. Gue cuma cengar-cengir sambil makan donat legendaris beliau; beberapa meses jatuh ke celana gue.

Ya, maaf Pak, saya lagi jatuh cinta, niat gue sih bilang begitu. Tapi ya masa begitu? Tengsin dong.

“Iya Pak maaf, sedang banyak pikiran aja. Mungkin capek habis dinas dua minggu kemarin.”

Pak Broto kemudian memberi nasehat ala bos macam itu. Biasalah, sebagai staf gue nangkep poin-poinnya. Tapi pikiran gue cuma satu: Nikka kalau balik, langsung balik rumah, dan rumah doi jauh.

Makanya kemudian gue kepikiran buat minjem mobil Nando.

Tentu yang bawa mobil ke kantor banyak. Pak Broto pun iya. Tapi masa pinjam Pak Broto?

Dan kenapa Nando, karena dia—meminjam istilah anak gaul 2010an—sohib gue. Kami sama-sama masuk di tahun yang sama dan sering jadi satu tim. Sudah sering juga kita main ke kos masing-masing, kadang traktir satu sama lain juga. Jadi tentu saja, mobil Nando yang jadi incaran gue.

Gue sendiri? Ah, balada anak kos dari kampung. Jangankan mobil, motor aja suka ke bengkel. Kayaknya baru buat boncening Nikka sampai gerbang kantor aja bannya bakal meledak.

Dan tentu saja, cuma Nando yang gue kasih tau rencana gue deketin Nikka. Staf lain nggak ada yang tahu. Nando pun awalnya sangat mendukung. “Mantap, bro. Nanti kalau beneran jadi jangan lupa jadiin gue best man, ya!” begitu celetuknya awal-awal mendengar rencana gue. Setelah gue utarakan niat gue pinjem mobil, responnya tak lagi sebersemangat itu. “Yaelah,” responnya, “iya gue pinjemin tapi jangan lupa isiin bensin!”

Itu dua bulan lalu. Setelah itu, gue pantau terus Nikka; rumahnya di mana, makanan kesukaannya, warna kesukaannya, suka nonton apa, takut sama apa, barang-barang yang dia suka. Dari hal-hal trivial macam itu sampai yang dalam-dalam: suka ngobrolin apa; gimana pandangan dia soal hidup, menikah, punya anak, jadi orangtua; gimana pandangan dia soal wawasan kebangsaan dan radikalisme; soal pandemi dan vaksin; soal konspirasi bumi datar. Pokoknya dari yang ringan sampai nggak masuk akal.

Berbekal pengetahuan itu, gue kemudian memutuskan, tiga hari lalu, untuk benar-benar mendekati Nikka. “Ndo, tiga hari lagi, gue pinjem mobilnya.” Nando mengangguk saja, sementara gue membeberkan rencana gue secara detil.

Dan sepertinya Nando sudah cukup muak karena tiga hari berikutnya, cuma itu yang gue omongin ke dia. Cuma soal Nikka.

***

Relasi gue dengan Nikka di kantor cenderung biasa aja, sebenarnya. Gue nggak langsung mati gaya atau canggung di hadapannya. Kami masih suka bercanda biasa, sering bertanya-jawab soal urusan kantor, suka saling mengajak jajan es kopi dan makan siang.

Nikka itu tipikial perempuan yang baik, nggak neko-neko. Tidak jangkung, tidak juga gempal. Tidak buruk rupa, tidak juga menawan jelita. Tidak baik bak peri, tidak juga seram macam siluman. Tapi satu hal yang pasti; dia pengertian.

Pernah suatu hari gue nggak balik kantor sehabis acara di hotel. Ya wajar kan, gue mampir dulu ke mana gitu. Tiba-tiba Nikka menelpon. “Biyan, kamu di mana?” Waktu itu gue belum ada rasa, jadi gue cuek aja bohong kalau masih kena macet. Dia lalu dengan sigap memberitahu rute alternatif dari hotel ke kantor. “Nanti sehabis pom bensin belok kiri aja, jalan kecil tapi sepi. Tembusnya di belakang kantor.”

Beberapa kali juga ia memperhatikan gue yang keseringan makan nasi goreng. “Makan gado-gado, gih, yang ada sayurnya.” Atau ia memperhatikan penampilan gue, dan seringnya memberi masukan. “Kamu bagusnya pakai maroon, deh. Coba!”

Tapi bukan hal-hal itu yang membuat click gue jatuh cinta.

Ada satu momen, empat bulan lalu, ketika kita satu tim perjalanan balik dari luar kota. Satu mobil, tengah malam, di tol. Semua sudah tidur. Cuma Nikka yang masih melek. “Aku nggak bisa kalau semua di mobil tidur, aku ikut tidur.” Jadi sepanjang perjalanan, sekitar tiga jam, kami mengobrol banyak. Apa saja.

Dan yang paling gue notice, dia sangat enak diajak berbincang. Bukan tipe queen of conversation, di mana ia bakal ‘gue mau cerita banyak nih, lo dengerin ya!’ Bukan juga tipe convo killer yang Cuma manggut-manggut dan ‘hmm, iya sih, hmm, ya kan orang beda-beda’ atau memberi respon membosankan lainnya.

Kami bergantian bercerita; ia dengan cerita kuliahnya, lalu gue dengan kuliah gue, lalu cerita soal kerjaan pertama setelah kuliah, soal liburan udah pernah ke mana aja, soal destinasi yang ingin dikunjungi, soal pemilu presiden, soal kucing, soal buku yang disukai, soal artis siapa cerai dengan siapa, soal di kantor siapa suka siapa.

Tiga jam malam itu adalah tiga jam paling menyenangkan dalam hidup gue.

Setelah sampai di rumah dini hari itu, gue nggak bisa tidur. Sampai dua hari, sebelum akhirnya gue yakin kalau Nikka lah orangnya.

***

Nando entah ke mana, mungkin ke toilet. Tapi tadi dia sudah bilang kalau kuncinya di laci. Gue bergegas mengambil kunci mobilnya, lalu sedikit berlari ke parkiran mobil. Sementara Nikka masih asyik berbincang dengan rekan-rekannya, gue harus siapin mobil. Biar nanti ketika Nikka jalan ke gerbang, bisa gue samperin dan bilang, “Nik, kebetulan Nando dijemput temennya nih mau diajakin nongkrong jadi mobilnya aku bawa. Mau bareng? Searah, kan.”

Gue berputar di parkiran. Mobilnya ketemu, city car hitam. Untung parkirnya enak. Gue panasin sebentar, lalu keluar perlahan ke gerbang.

Tepat. Nikka sedang berjalan ke gerbang. Perlahan gue arahkan mobil ke sampingnya, lalu menurunkan kaca samping. “Nik, kebetulan Nando dijemput temennya nih mau diajakin nongkrong jadi mobilnya aku bawa. Mau bareng? Searah, kan.”

Nikka agak kaget melihat gue mengendarai mobil Nando. Tapi dia langsung tersenyum. Asyik, lampu hijau nih.

“Iya searah, ya?” jawabnya.

Gue mengangguk sambil mengerem, soalnya Nikka juga berhenti berjalan dan sepertinya bakal membuka pintu.

“Tapi bukannya rumah aku masih jauh ke sana lagi ya, Yan? Nanti kamu harus balik dong kalau mau ke kos?” tambahnya.

“Ah nggak apa-apa, kok. Naik mobil juga, nggak capek,” jawabku bersemangat. Tentu saja, selain meminjam mobil, aku juga sudah mempersiapkan lainnya: mau berbincang apa, mau makan di mana (kalau ia mau diajak mampir makan), dan mau menyetel lagu apa.

Nikka melihat sekeliling, menggaruk kepalanya, lalu tersenyum canggung.

“Maaf ya Biyan, nggak dulu deh. Aku belum bilang ke tunangan aku soalnya.”