Muhammad Dito

Ide dan Coretan Sederhana

Kunjungan

“Dek Ifah sibuk banget?”

Yang punya nama hanya menoleh, lalu kembali mondar-mandir di dapur. Pertama dia membawa piring berisi lauk-pauk, menaruhnya di meja makan. Lalu kembali ke kompor untuk menciduk kolak.

“Temennya mau dateng, tuh!” jawab ibunya.

“Wuidih! Cowok nih pasti?” godaku.

“Jelas!”

“Ibuu!!” Ifah berteriak malu. Ia kini membawa dua piring di tangan kanan dan beberapa gelas di tangan satunya. Sudah mirip pelayan resto Padang, saja!

“Ini sama yang kemarin ya, Mang!” Ibu menyodorkan uang. Kuterima lalu kumasukkan saku. “Oh iya, kayaknya saya mau ke luar kota minggu depan, kemungkinan laundry nya lagi agak lama, tapi lebih banyak.”

“Siap, Bu!” jawabku seketika. Aku kembali menengok ke Ifah, kini sih sudah tidak mondar-mandir, tapi sibuk mengecek HP.

“Bu, dia setengah jam lagi sampai!”

“Kamu sudah mandi belum?”

“Ihh, ya udah lah, Bu. Eh, tapi, perlu mandi lagi nggak ya? Duh, keringetan nih..”

Aku terkikik pelan. Ibu lalu menyuruhnya ganti baju saja. “Kamu kalau mandi juga mana cukup setengah jam. Nanti pacar kamu kelamaan nunggu.”

“Ibuuu!!” Ifah berteriak malu lagi.

Aku hendak pamit, Ibu tiba-tiba memanggil dan bertanya soal cuci seprei. Kami lalu berbincang soal laundry lagi, sementara aku terus mengamati Ifah yang masih sibuk di HP nya.

“Duh, kok tiba-tiba dia udah deket aja sih! Katanya masih setengah jam!”

“Yah, nggak sempet ganti baju dong…”

Ifah makin bingung. Dia naik tangga, baru beberapa langkah turun lagi mengecek kolak, lalu berlari-lari naik. Lalu turun lagi. “Buu, baju aku yang itu ternyata belum kering!”

“Ya pake baju lainnya, atuh!

“Ihh, tapi kan yang itu baguss!”

Ifah lalu menghilang di lantai atas, kudengar pintu kamar ditutup lalu dikunci.

Aku terkekeh melihat gelagatnya. Dasar anak muda, masih segar-segarnya jatuh cinta.

“Kok spesial banget sih temennya ini, Bu?”

Ibu menggeleng-geleng. “Ya, itu. Pacar barunya kayaknya. Dari jauh, baru pertama ini mau ke rumah. Apa istilahnya, hmmβ€”LDR?”

“Ohh,” jawabku. Pantas saja.

“Ini juga pertama kali sih dia bawa pacar ke rumah. Daridulu nggak pernah,” terang Ibu lagi.

“Hahaha, pantas aja.”

Ifah kemudian muncul dengan baju baru. Kerudung merah jambu dengan atasan hitam dan jeans biru. Badan kecilnya yang mungil jadi terlihat lebih tinggi. Sepertinya dia juga menambahkan beberapa riasan: sedikit perona pipi, gambar alis, dan penebal bulu mata. Apalah itu namanya.

“Gila, cantik bener!” goda Ibunya lagi.

“Ibuu!!”

Ibunya hanya tertawa. Aku juga ikut terkikik. “Spesial banget nih, pacarnya?” godaku.

“Apaan, sih, Mang!” Ifah semakin malu. Pipinya yang dibubuhi riasan semakin merona.

“Pacar kamu tinggi, nggak? Masa sama-sama pendek kayak dua kurcaci, hehehe!” godaku. Aku memang suka menggoda fisiknya yang mungil itu. Saat pertama kali aku mengantar-jemput laundry di sini dan berkenalan dengannya, akupun kaget kalau dia sudah kuliah. Sekarang sih sudah lulus, tapi tingginya tetap tidak bertambah.

“Tinggi, dong! Kayaknya lebih tinggi dari Mamang,” jawab Ifah bangga.

“Hahaha, buat apa tinggi kalau nggak ganteng!”

“Enak aja! Ganteng yah! Pinter lagi! Ifah aja sampai heran kok mau sama Ifah hahaha,” candanya. Kini ia sibuk mencari kunci motor dan helm. “Buu, udah dipanasin kan motornya?”

Ifah menghambur keluar rumah, menyalakan motor. Aku pun pamit ke Ibu, lalu berjalan ke ambang pintu. Ifah sibuk mengelap-lap skuter matic merahnya.

“Udah sore, nih. Kalian nggak bisa jalan-jalan, dong?” tanyaku.

“Hmm, iya nih. Nggak apa-apa deh, lain kali. Ini mau ke rumah aja aku udah ribet!” jawab Ifah tanpa menghadapku. Ia masih sibuk, kini memilah-milah sepatu.

“Dia minta dijemput di depan komplek, katanya nggak tahu rumah aku yang mana, takut nyasar,” Ifah bergumam sendiri.

“Hahaha, hati-hati ya, Ifah!” Aku pamit ke Ifah lalu berjalan ke keluar gerbang rumahnya. “Hati-hati, Mang. Makasih laundrynya!”

Ifah memakai helm, mematut diri di spion, lalu bersiap berangkat.

“Ciyee, semangat ya! Besok kalau nikah jangan lupa Mamang diundang ya!” godaku lagi.

“Ihh, Mamang…!”


Aku dan istriku bergegas keluar rumah. “Jangan main HP mulu! Belajar!” teriak istriku. Anak-anakku menjawab datar sambil tetap sibuk bermain game di HP.

Batik dan kebaya murah istriku tampak sedikit segar. Lama tidak dicuci sih. Tidak banyak juga pernikahan yang harus kami hadiri, jadi tidak ada alasan mencuci pakaian ini. Kami biarkan saja mengendap di sudut lemari.

Tapi, beberapa waktu yang lalu Ibu Ifah mengantar undangan. Ifah menikah. Aku jadi teringat waktu itu saat Ifah kebalakan menerima kunjungan pacarnya. Lucu sekali. Kini, bertahun-tahun kemudian, aku akhirnya bertemu dengan sosok laki-laki itu. Seganteng apa sih? Dasar Ifah. Anak muda yang dimabuk cinta memang suka hiperbola.

Aku dan istriku naik motor usang kami, beberapa menit kemudian kami sampai di gedung pertemuan kantor Ibu Ifah. Beliau sudah pensiun, tapi Ifah juga bekerja di sini. Jadi wajar saja kalau gedung ini yang dipakai. Dengar-dengar, gedung ini juga dipakai kakak-kakak Ifah buat menikah. Entahlah, ada diskon buat keluarga pegawai mungkin?

Aku dan istriku masuk, bersalaman dengan beberapa orang, lalu kami berjalan ke pelaminan. Ibu dan Ayah Ifah berdiri menyambut, lalu kita bersalaman. Mereka berterima kasih, aku dan istriku memberi selamat.

Lalu kami berjalan ke pasangan mempelai. Ah, dasar Ifah! Anak muda dimabuk cinta memang! Ternyata laki-laki ini tingginya tidak jauh beda dengan Ifah. Ganteng? Bahkan istriku pun sepertinya sepakat bahwa aku masih lebih tampan! (Padahal dia suka sekali cerita ke ibu-ibu kampung kalau aku ini jelek).

Kusalami sang mempelai pria, lalu menyalami Ifah.

“Selamat ya,Ifah!”

“Hehehe, makasih, Mang!”

“Akhirnya bisa ketemu cowok yang bikin kamu kebingungan soalnya mau dateng ke rumah!”

Ifah sedikit bingung, lalu tertawa. Si laki-laki nampak tidak mengerti.

“Duh Mamang masih inget aja! Udah lima tahun lebih padahal kayaknya!”

Aku pun tertawa. “Iya kan. Alhamdulillah udah nggak LDR lagi!”

Ifah lalu menggeleng-geleng sambil tersenyum.

“Bukan, Mang. Beda ini.”

« »

© 2020 Muhammad Dito. Theme by Anders Norén.