Muhammad Dito

Ide dan Coretan Sederhana

Saat Saya dan Kucing Perumahan Melakoni Sebuah Reka Ulang Sejarah

Suatu hari saya sedang makan siang. Pintu depan saya buka. Tiba-tiba dua ekor kucing datang, satu duduk-kucing di depan pintu, yang satu menghambur masuk dan berlompatan di ruang tamu.

Dua kucing ini mirip. Sepertinya yang duduk malas-malasan si induk, sementara yang berjingkrak-jingkrak anaknya. Lucu sekali. Saya lalu memberinya potongan daging dan tulang.

Keesokan harinya, mereka datang lagi. Kini dua-dua nya duduk malas-malasan. Saya menghampiri mereka lalu mengajak bermain. Si anak girang lagi berlompatan, si induk mendekat dan mengelus-eluskan badannya ke kaki saya. Saya ambilkan sisa ikan dari meja makan buat mereka.

Keesokan harinya, mereka datang lagi. Kali ini pintu saya tutup, dan mereka mengeong-eong dari teras. Saat saya buka pintu, si kecil melompat masuk, sementara si ibu telentang di teras. Saya cuilkan sedikit telur, lalu mereka memakannya.

Keesokan harinya, keesokan harinya, esok, esok, seterusnya, sampai sekarang hampir satu bulan, kucing itu selalu datang ke rumah hampir setiap hari. Secara tidak resmi jadi peliharaan saya.

Sebenarnya kita tidak memelihara kucing; mereka yang minta dipelihara

Suatu hari, mungkin di daerah Bulan Sabit Subur (dataran antara sungai Eufrat dan Tigris), sekitar 8000 tahun yang lalu. Manusia sudah tinggal menetap, bercocok tanam dengan gandum kuno atau biji-bijian lain.

Hari itu musim panen, gandum-gandum sudah disimpan di lumbung. Sudah dibarterkan ke seluruh penduduk desa, tapi masih surplus. Lumbung masih penuh, gandum menumpuk, tikus-tikus pun berdatangan.

Tiba-tiba kucing datang, cari makan, berburu tikus. Semakin banyak gandum, makin banyak tikus, kucing makin berdatangan. Mereka memburu tikus, menangkapnya, lalu membawanya ke sarang.

Lama-lama, kucing tidak kembali ke sarang. Mereka lalu tinggal di lumbung karena lebih mudah mendapat tikus (makanan). Lalu saat manusia berpindah mencari wilayah yang lebih subur, kucing ikut serta.

Saya tidak tahu apa yang ada dipikiran manusia kuno ini. Gemas melihat kucing? Atau tidak peduli? Yang jelas, saat kucing ikut serta dalam jalur migrasi manusia, manusia tidak keberatan.

Hal ini terulang, terus, sampai akhirnya manusia memelihara kucing di rumah. Atau lebih tepatnya, sebenarnya kucing yang minta dipelihara.

Atau kucing mungkin tidak peduli? Yang penting dapat makan. Yah, tahu sendiri kan, kucing!

Yang jelas, kucing kemudian memegang peranan penting dalam kehidupan manusia. Jadi peliharaan, sahabat, bahkan ada yang dipuja bagai dewa.

Selamat, punya kucing!

“Kevin mana ya?” tanya saya pada adik. Adik bingung. “Kevin siapa?”

“Kevin yang kemarin masuk dan berlompatan di ruang tamu.”

Adik saya terkekeh menyadari saya telah menamai kucing jinak tanpa tuan (feral cat) perumahan itu. Tapi saya belum menamai induknya.

Saat sedang mencari nama yang cocok, Kevin dan induknya datang. Ibunya duduk santai di bawah mobil, sementara Kevin berputar-berlarian di teras. Saya sedang tidak punya makanan sisa, jadi saya ladeni saja Kevin bermain.

Kucing modern mungkin tidak perlu berburu tikus di rumah agar datang dan ‘dipelihara’ manusia. Akan tetapi, tetap saja, sifat kucing sepertinya tidak berubah selama 8000 ribu tahun. Datang, minta makan, lalu seenaknya saja mengklaim diri sebagai peliharaan manusia.

Lalu saya sadar satu hal: saya, Kevin, dan induknya sedang melakukan reka ulang peristiwa bersejarah yang pernah terjadi 8000 tahun silam.

Cats are a mysterious kind of folk.

Sir Walter Scott

Sedikit sumber: National Geographic

« »

© 2020 Muhammad Dito. Theme by Anders Norén.