Bukankah tanah akan mengeras dan menguat kalau dipanaskan oleh api?


​Dulu, waktu masih belajar agama di SD atau di surau, ada dua doktrin yang saya rasa sering ditanamkan ke kids jaman old seperti saya dan kawan-kawan unyu saya. Sebelumnya saya mau memberi disclaimer, bahwa yang saya maksud ‘doktrin’ di sini bukan berarti selalu negatif. Ada memang beberapa doktrin yang jelas-jelas negatif karena faktanya bohong tapi dipaksakan agar orang percaya, seperti Kim Jong Un memelihara unicorn, semua salah Jokowi, atau wanita selalu benar. Tapi dalam berbagai hal, sering juga doktrin merupakan hal yang baik dan benar, seperti doktrin penegakkan HAM.

Ok, doktrin apakah gerangan?​​

Pertama: manusia itu makhluk yg sempurna.

Ha yo jelas, siapa yang nggak mau dilabel sebagai makhluk tersupreme se-jagad raya? Makhluk yang oleh Tuhan dicipta dalam bentukNya, yang secara khusus diutus sebagai persona grata Tuhan di bumi. Manusia lahir, belajar, mencipta, kemudian mengubah tatanan planet mulai dari menjinakkan hewan sampai memperlambat rotasi bumi. Kemudian, yang terpenting, pengetahuan dan pencapaian ini diwariskan ke generasi berikutnya. Inilah yg membedakan manusia dengan siamang atau kera-kera yang suka diolok jadi saudara kita di bonbin (penghinaan, memang nya monyet mau jadi sodara sampeyan?); warisan pengetahuan, sehingga manusia baru tidak harus memulai semuanya dari nol. Masa selanjutnya adalah masa pencapaian baru, bukan lagi mengulang apa yang diperbuat oleh nenek moyang.

Ini semua jelas karena akal manusia lebih canggih daripada makhluk lain. Kegunaan akal ini nggak hanya soal buat roket atau bayi tabung, tapi juga soal norma. Normatifnya, akal manusia bisa membedakan baik dan buruk. Idealnya macam itu. Karena manusia adalah makhluk sempurna, yang diciptakan sesuai dengan gambaranNya, maka tentu saja seyogyanya manusia janganlah berbuat dosa karena sudah dianugerahi akal buat membedakan mana pahala mana dosa.

Lha, kalau mbeling apa terus bukan manusia?

Enter doktrin kedua: setan diciptakan untuk mengganggu manusia dalam berbuat kebaikan.

Dalam kisah-kisah reliji, setan ini sebenarnya kakak kita. Ada malaikat dicipta lebih dahulu, kemudian dhemit, baru manusia. Dalam kisah itu, singkatnya, ciptaan Tuhan yang lain harus sujud ke manusia sebagi tanda ketakjuban dan penghormatan, tapi iblis emoh. Merasa lebih hebat dan tidak mau nurut Gusti, dia kemudian dibuang dari surga dan lalu bersumpah untuk selamanya mengganggu umat manusia agar jauh dari Tuhan.

Lambat laut saya kemudian melihat adanya korelasi antara dua doktrin ini, yang mana tujuannya adalah semakin menancapkan eksistensi manusia sebagai yang tersupreme

Doktrin pertama jelas mengunggulkan manusia. Lalu ditambah doktrin kedua, yang dapat menjadi excuse. Seolah olah manusia tidak boleh salah, kalau salah ya berarti perbuatan setan. Setan menggoda manusia sebagai ujian agar semakin taat kepada Tuhan. Bukankah tanah akan mengeras dan menguat kalau dipanaskan oleh api?

Tapi apa benar tugas itu tugas setan?

Menurut saya kemudian ada dua implikasi atas tertanamnya doktrin ini di lubuk oemat. Pertama, manusia akan jadi pemuja setan. Lha, kok? Oke, perhatiken! Setan atau iblis atau dhemit dianggap sebagai central figure antagonisme. Patriarch segala dosa, bapak azab, pokoknya kesalahan manusia itu ya karena digoda setan. Ngambil gebetan temen, ya karena godaan setan. Pernah silap memuja bowo alpenliebe, ya karena godaan setan. Salah milih presiden, ya sama karena godaan setan juga. Semua deh, mulai dari mbatin mobil baru tetangga sampe jadi teroris juga karena godaan setan. Kita memuja setan sebagai ikon kejahatan se-jagad, sampai lupa kalau kita juga punya kapabilitas yg sama. 

Lihat saja puasa kemarin: shaf tarawih makin hari makin menipis, tempat maksiat juga masih saja ramai, berpuasa tapi nyinyir, izinnya sahur tapi bacok orang, dan sebagainya. Katanya setan terpenjara selama Ramadhan? Kalau iya, kenapa masih saja banyak kerusakan di bulan suci? Tentu saja ini semua tak lain tak bukan ya masterpiece manusia. Manusia tidak perlu menunggu setan untuk berbuat kerusakan. Memuja setan sebagai sumber utama segala kerusakan di bumi menurut saya sombong. Ha dumeh dilabeli sebagai makhluk sempurna, terus seharunya tidak berbuat salah? 

Kedua, yang tak kalah saya takutkan adalah kita jadi pemuji setan. Di awal masa, setan berjanji untuk mengganggu manusia. Kalau semua-semua perbuatan buruk kita anggap perbuatan setan, bukankah ini suatu prestasi bagi setan? Setan akan bangga karena merasa berhasil menyesatkan manusia. Kalau saya ya emoh lah membahagiakan setan. (Cukup aku dan kamu saja yang bahagia, ya kan?) Kemudian, sebagai makhluk yg perlu apresiasi dan aktualisasi, setan akan semakin gencar menggoda manusia. Tentu saja banyak setan yang ulet yang mau meningkatkan prestasi untuk semakin menyesatkan manusia dari jalan kebenaran. Hayo loh, kalau setan semakin ulet menyesatkan opo ra ciloko?!

Hemat saya, cukuplah kita mawas diri saja. Manusia memang diciptakan istimewa. Bukan berarti tidak pernah salah, tapi karena manusia memiliki semua kapasitas dan kapabilitas untuk menjadi makhluk seperti apa. Mau jadi malaikat atau setan? Ya semua tergantung keputusan manusia sendiri, ya to?

Dan disudut kamar, setan lagi ketawa ngakak melihat kalian serius amat membaca ini. Lha wong merk Lc. aja saya nggak punya sok serius bahas manusia dan setan. Ngomong-ngomong, kalo ada prodi teologi ada nggak ya prodi yg bahas setan? Apa namanya, ya? ‘Dhemitologi’? [.]