Ah, sayang. Bolehkah aku masih mencintai mu seperti senja puluhan hari silam? Di atas jembatan itu, di atas sungai kerontang dan di bawah senarai surya yang menjatuhkan bayang bayang kita yg berpelukan terlalu dini?


Yah, kukira aku bakal terlambat. Atau setidaknya, bakal membuat nya menunggu sambil menengok ke arah jalanan, mendengar deru truk antar provinsi dan kepulan knalpot, plus serapahan pengendara dan tukang parkir sekali dua kali. Praktis, ditambah ketidakpentingan dia datang ke kedai ini (sudah mau datang pun aku sangat bersyukur, bayangkan saja dia harus menunggu aku datang dengan muka cengar-cengir tidak enak hati sambil berujar “maaf telat”, mengambil menu kemudian sok gaya memilih padahal setengah mati canggung di hadapannya), aku yakin dia pasti tidak senang.

Namun rupanya aku salah duga. Kedai masih sepi, hanya diiringi irama klakson bus dan truk, padahal sudah tidak ada lagi bocah bocah ingusan minta telolet. Aku memesan minuman standar, no sugar, karena muak dengan mulut manisku sendiri.

Semua–boleh dikata–memang salah si mulut. Oke, salah aku si empu nya mulut. Dan, maaf saja ya para SJW atau pejuang gender equality dan segala tetek bengeknya, dalam kasusku ini jelas kelemahan wanita ada di ujaran manis laki-laki. Ujaran manis ku berhasil menarik dia ke dunia yg semestinya tidak dia jalani. “Oh lu merendahkan cewe banget, gak feminis ya,” ujarmu. Ini pendapat, tidak sepakat silakan minggat.

Setengah jam, 45 menit, satu jam aku menunggu. Kemudian, dia datang, mengambil menu, memilih sembarang barang satu dua menit, kemudian duduk di hadapanku, menyalami aku dengan ringan, membuka pelindung mulut nya, tersenyum sedikit, kemudian membuat ku mati kutu gara gara senyuman manisnya.

Bukan, senyum nya tidak manis. Wajahnya juga tidak cantik. Tubuhnya, ya biasa saja. Alisnya, tipis, malah seakan habis dicukur dan mau lihat tuyul. Matanya, biasa saja. Jernih mata wanita, tapi bukan sayu mata wanita yang selama ini diidolakan para pujangga di dunia fantasi roman lelaki-perempuan. Hidungnya, panjang sih, mungkin yang terindah dari parasnya. Tapi, entah mengapa tidak kentara. Bibirnya, tebal tidak tipis juga tidak. Mediocre lah. Ditambah kacamata nya itu, duh average perempuan masa kini banget! Average, standar.

“Eh lu masih aja ya mandang cewe segitunya. Sekarang body shaming lagi.”

Lah, masih pada di sini aja kalian?

Tapi, paras itu, tubuh itu, dan pribadi itu yang membuatku rela untuk beberapa hari kemudian sakit dada (mungkin ini efek terlalu banyak rokok juga sih). Perempuan itu, yang dikemudian hari seperti hantu yg tiba-tiba muncul kapan saja tak tahu malu. Ketika laptop ngadat, ketika jalan sepi, ketika adzan subuh berkumandang, ketika ngangkring di ujung gang sambil nyeruput nikotin, mak jegagik muncul. Dia, yang tiba tiba muncul sambil berkata–kata yg sama yg membuat ku jatuh hati–,”iya, aku juga”.

“Apa kabar?” Sebuah basa basi (busuk) muncul, kemudian mengalir begitu saja. Kami bertanya soal studi, lancar. Bertanya soal kabar, baik. Bertanya soal kesibukan lain, ya masih sama saja. Bertanya soal kawan, canggung. Karena kami tidak saling mengenal kawan satu sama lain. Kemudian dia bertanya perihal aku mengundang dia kemari. Ini intinya. Aku menengadah, memandang mata coklat nya. Ah, mata itu, mata yang sama. Tatapan itu, tatapan yang sama. Tidak, tidak sama. Lebih? Tidak tahu. Belum saatnya bertanya.

Kemudian bergulirnya narasi dan eksposisiku, bagaimana aku merasa menjadi seorang pendosa selama ini. Bagaimana sebuah kata-kata sederhana perlahan menjadi tatapan, menjadi sentuhan, menjadi kecupan. Seterusnya dan seterusnya.

Aku meminta maaf. Dia memperhatikan, menatap lekat mata ku. Aku kecewa, aku menyesal telah menyeret dia ke rengkuhan itu. Rengkuhan yg mungkin masih dia ingat lekat hingga kini, meskipun sudah kulupa detail dan kapan nya. Perempuan memang sama saja, batinku. Justru malah yg seperti ini yg mudah; perempuan baik dan misterius, penuh rasa ingin tahu dan penuh cinta. Ketika cinta dan keingintahuan beranak, maka ya sudah, siapa bisa mengelak? Ketika perempuan menemukan rimba baru untuk dijelajahi, stupa stupa baru untuk dikagumi, gunung dan sungai baru untuk didaki dan diselami, sah lah ia menjadi seorang petualang. Petualang dunia seredup cahaya 5 watt ujung jalan, dengan cinta sebagai bekal dan janji manis lelaki sebagai rompi anti peluru nya. Lalu setelah penat bertualang, perempuan akan pulang, mengubur catatan ekspedisi nya, kembali menjadi cahaya dan permata layaknya amatir. Kemudian, laki-laki yg menyempurnakan, apakah hendak ikut mengubur, atau mengeksposnya menjadi kisah pendek macam ini. Haish, bahkan masih kudengar teriakan kalian memprotes budaya patriarki dalam tulisan ku ini. Katanya mau minggat?

“Lalu?”

Ah, sayang. Bolehkah aku masih mencintai mu seperti senja puluhan hari silam? Di atas jembatan itu, di atas sungai kerontang dan di bawah senarai surya yang menjatuhkan bayang bayang kita yg berpelukan terlalu dini?

Tapi, sebagai seorang lelaki yang bermimpi jadi penyair, aku ajak dia berputar di kalimatku. Bahwa aku merasa malu telah mensponsori ekspedisinya. Bahwa aku merasa malu karena gagal mengajaknya mengenang segala hal baik yang sewajarnya dapat muncul ketika dua orang bahagia. Petualangan nya–petualangan kami–bukanlah hal yg patut diprasastikan, ya to?

Kamu tau? Lelah aku bertele tele. Ya sudah, kemudian aku utarakan saja kalau aku mau dia lagi.

Ya, dia, perempuan yg menatap nanar ketika aku secara sinting melepasnya. Ya, jangan salahkan aku juga dong. Kamu tau waktu itu, ketika kami mencinta namun semesta menista. Aku cuma laki laki, bukan penyair yang dapat membujuk atmosfer dengan kata-kata indah untuk menyampuli kami dengan ozon agar cibiran manusia-manusia setengah setan itu tidak sampai ke kulit kami. “Katamu mulutmu manis?”, tanya mu. Ya, manis, tapi bukan manis tebu. Manis sakarin.

Kemudian jawabannya jelas. Pertama, aku tidak jelas. Kalau sudah pisah, ya buat apa kembali? Toh dia sudah tidak doyan. Kedua, dia sudah menjalin kisah baru. Ekspedisi yg sama? Entah. Buat apa aku tanya, memangnya aku pengawas syahwat orang?

Aku terhenyak. Rupanya, mata itu bukan lagi mata yg sama menatapku pada pukul satu tiga puluh pagi tanggal 12. Jemari itu, bukan lagi jemari yang mengusap halus rambut ku pada pukul lima enam belas menjelang senja hari kemerdekaan. Bibir itu, hidung itu, alis itu, berbeda. Yang ada dalam kepalaku hanya memori statis, yang ketika dapat ditampilkan utk dibandingkan dengan perempuan di depanku sekarang akan menjadi sosok yg berbeda 180 derajat. Duh, kepalaku memang sok tau. Paras saja beda. Perasaan? Jangan ditanya. Kenapa aku masih berani berani nya meminta jiwa dan raga nya kembali bersama ku?

Kedai semakin ramai. Menjelang maghrib memang kedai ini seperti itu. Entah kenapa, padahal susu nya juga biasa saja, indomie nya apa lagi. Tapi meski kedai itu ramai, kedai itu diam. Seakan mengutuk ku dan memuji nya, “bagus sayang, rasakan saja dia lelaki tak tahu diri.”

Separuh kepercayaan ku ingin menuntut kejelasan, tidak percaya bahwa ia telah berhubungan dengan yang lain. Bahkan terakhir kami ngobrol, dia masih ingin bersama ku. Siapa yg bohong? Dia? Dugaanku? Alam? Atau kedai laknat ini? Entah. Aku merasa ditipu. Atau aku yg bodoh tidak dpt memahami perempuan? Iya mungkin, ya? Makanya itu aku heran, kenapa kamu masih mau mendengarkan dongeng si bodoh ini.

Lalu bagaimana, tanya mu? Ya sudah. Kupersilakan dia beranjak. Aku masih termangu di sofa itu, menyedot dalam dalam gulungan tembakau murahan dan menyisip sedikit sisa minuman tanpa gula ku. Dadaku sakit. Bukan karena ditolak, tapi karena tau yg kutemui barusan bukanlah orang yg setiap hari kutemui di dalam mimpi. Bukan orang yang sama yang mengajakku bersenang-senang dalam tidur. Aku terkejut, shock boleh dibilang. Tapi daripada dinyinyirin dikata sok mendiagnosa, ya sudah ini bukan shock, tapi terkejut saja.

Ya sudah, begitu saja kok. Terima kasih telah menyempatkan malam mu mendengar cerita ku. Para feminis itu sudah pergi ya? Yah, padahal pasti kuyakin mereka bahagia mendengar si perempuan sudah bahagia juga. Lalu mereka akan menertawaiku, seperti sekarang langit menertawaiku juga. Tapi biarlah, asal malam ini kulewatkan bersama mu. Boleh, kan? [.]