Kadang rencana awal memang nggak semulus yang kita kira. Misal, awalnya mau cari hiburan, eh malah tambah pikiran.


​Jadi waktu itu saya mendamparkan diri di Ibukota, mencoba merasakan kejamnya metropolis gendheng ini. Kata orang, Ibukota lebih kejam dari Ibu Tiri. Saya nggak tau itu benar atau bual; saya nggak punya Ibu Tiri. Mungkin juga ini pendapat yang muncul kare​​na paparan sinetron; masa iya semua Ibu Tiri jahat, kan enggak juga. 

Anyway, sebenarnya saya nggak mendamparkan diri juga sih. Saya sengaja mau menemui kawan lama yang kuliah dan tinggal di kota ini. Dituntun lah saya via chat, harus naik commuter ini commuter itu. Terus habis itu naik ojol ke sini ke situ. Berbekal pengalaman di metropolitan serupa negeri seberang saya nggak menemui kesulitan menemukan rendezvous kami. Kami bertemu di—mana lagi kalau bukan di—mall. Ya nggak heran, di sini sepertinya mall ibarat pom bensin. Di mana-mana ada, dan selalu ramai.

Kami bertemu, makan, lalu bingung mau ke mana. Saya sih maunya wisata budaya atau sejarah, atau duduk-duduk santai menikmati suasana. Jadi saya bilang mau ke kota tua, yang bangunannya artsy dan suasanannya syahdu vintage-colonial. Eh, dilarang masa! Kata dia, di situ tempat anak alay. Spot gondes mendes macam di Jogja. Ya sudah biar nggak terkesan kampungan banget, saya nurut aja.

Terus kami pergi ke toko buku yang katanya terbesar di Indonesia. Saya nurut saja, mungkin dia tahu kalau saya suka lihat-lihat buku. Kami naik ojol lagi, duh Gusti entah sudah berapa puluh ribu duit saya ludes buat membiayai perjalanan ini pakai ojol. Tapi ya namanya Indonesia, angkutan umum ibarat kecap di warung ayam geprek; ada, murah, tapi nggak berguna.

Sampailah kami di toko buku ini. Ya, ternyata besar juga. 4 lantai. Seperti cabang-cabang lainnya (termasuk di kota saya), toko buku ini layoutnya seragam; lantai 1 dan 2 buat aksesoris seperti tas, binder, case HP, dan sebagainya. Lantai 3 buat buku umum, lantai 4 buat buku modul sekolah WAJAR 12 tahun. Yang unik, di sini ramai sekali seperti di mall tadi, mungkin karena hari minggu. Tetapi, selibur-liburnya manusia Indonesia jarang sekali pergi ke toko buku. Lha wong literasi aja masih rendah. Husnudzan saya, ini berarti kepedulian buat meningkatkan literasi masyarakat semakin meningkat. 

Tapi begitu melihat kassanya sepi, saya kemudian tersadar kalau husnudzan saya terlalu utopis. Ini sih karena orang-orang kurang tempat hiburan aja, jadi toko buku pun jadi tempat rekreasi. Nggak heran gubernur yang lawas mengupayakan ruang terbuka hijau buat sarana rekreasi hari libur.

Kemudian saya dan kawan saya berlanjut ngobrol sambil berkeliling. Banyak yang kami obrolkan. Mulai dari pernikahan itu solusi atau problem baru sampai tentang perkuliahan. 

Teman saya ini kuliah di Perikanan. Entahlah, mungkin dia suka mancing. Tapi yang jelas studi dia bidang Eksakta. Saya yang sosio-humaniora ini jadi berasa dungu ketika dia dengan girang menceritakan produk makanan yang mengandung bakteri tralala yang nggak bikin gemuk. Atau nggak bikin alergi susu? Nggak tau, lupa. Saya sih manggut-manggut aja, antara masih ingat sedikit-sedikit pelajaran SMA dan antara nggak paham dia nerocos apa.

Saya SMA memang ambil IPA, tapi kemudian kuliah ambil Sospol (untung kuliah nggak ambil komputer, bisa digelandang ke Polres). Banyak faktor kenapa saya berbelok haluan jadi pengkhianat ilmu pasti. Pertama, karena ilmu pasti yang saya senangi dan pahami hanya fisika, tapi nggak minat kuliah fisika. Kedua, belum tentu juga saya diterima ambil fisika karena memang passing gradenya yang tinggi. Ketiga, saya waktu SNMPTN mengambil jurusan yang terlalu tinggi jadi nggak diterima. “Lah yaudah mas, ambil SBMPTN aja.” Keempat, saya nggak sempat ambil SBMPTN. Kelima, kampus swasta dengan jurusan alternatif yang menurut saya lumayan bagus waktu itu ya kampus saya ini. Jadi, 4 tahun lalu, di hari terakhir ujian nasional, saya merasa dungu dan yakin nilai ujian nasional saya hancur berantakan seperti Uno Stacko, maka saya langsung mendaftar di kampus saya ini pakai nilai raport yang masih dibilang nggak separah nilai ujian nasional.

Berbincang dengan kawan saya yang istiqomah ini menyadarkan saya, bahwa saya memang tidak Istiqomah dalam menjalani suatu bidang keilmuan. Saya senang mempelajari hal baru, namun cepat juga bosan dengan hal lawas. Mungkin itu sebabnya saya tertarik mengambil HI dibanding inline tetap menempuh IPA. Mungkin juga itu yang bikin saya nggak betah kerja di suatu tempat dan ingin mencoba pekerjaan lain. Mungkin juga itu yang membuat saya nggak pandai bahasa asing dengan belajar sendiri, karena susah untuk disiplin dan tiba-tiba tertarik dengan bahasa lain. Mungkin itu juga yang membuat saya mudah bosan dan gonta-ganti pacar, but that’s a story for another day. Yeah, I’m hearing your nyinyir already!

Ayah saya pernah berkata, kalau ingin jadi profesional maka fokuslah ke satu hal. Saya membantahnya, tentu saja, dengan kepercayaan bahwa para filsuf dan orang-orang pandai terdahulu menguasai banyak cabang ilmu dan menjadi polymath. Saya ingin sepert itu, mengerti banyak dan paham banyak. Tapi kemudian saya sadar sekarang, bahwa ilmu telah berkembang sedemikian kompleks sehingga sulit—atau bahkan mustahil—bagi yang ingin mempelajari banyak. Kalau zaman dulu, mungkin saja bisa, karena perkembangan ilmu masih sederhana.

Kemudian saya melihat diri saya sendiri yang terkatung-katung dan belum menetapkan diri hendak ke mana. Mau berkarir jadi aparatur sipil, atau mau jadi budak korporat perusahaan multinasional, atau mau jadi pejuang kemanusiaan? Saya tertarik semua. Saya ingin mencoba masing-masing. Tapi saya sadar, semuanya one-way trip. Ketika masuk satu, artinya saya masuk di point of no return, di event horizon. mau tidak mau saya harus mendedikasikan diri saya disitu. “Kalau bingung mau kerja apa, ya kuliah lagi aja mas.” Sama saja, dek. Kuliah lagi, mau ambil bagian apa? Strategic Studies, Humanitarian & Gender, Public Policy, Social Administrative, Conflict Resolution? Pusing pala abang, kalau nggak punya kepala serem tapi.

Sebenarnya inti dari itu semua adalah, saya takut salah ambil keputusan. I’m affraid that I might miss something. Misal, kerja di MNC, takut kalau kehilangan momen ketika nanti di masa depan Indonesia benar-benar mengakui dan meminta maaf atas pelanggaran HAM masa lalu, baik zaman ’66, Timor Timur, sampai Reformasi. Kan kalau bekerja di NGO di bidang HAM, saya boleh dapat momen itu. Tapi kalau bekerja di NGO, saya takut kelewat momen ketika Freeport 100% diambil alih pemerintah dan jadi BUMN, misalnya. Kan kalau kerja di Freeport bisa saja dapet momen itu. Memang sih, belum tentu semuanya terjadi. Semua tidak pasti. Nah ketidakpastian ini yang membuat saya terkatung-katung dan sulit menetapkan pilihan.

Mungkin ini waktunya saya tahajud dan istikharah? Mungkin. Mungkin juga ini waktunya saya berani menetapkan satu pilihan, dengan segala resiko dan kemungkinan yg bakal terjadi. Pilihan awal memang berat, tapi kalau tidak memilih justru akan lebih berat lagi ke depannya.

Teman saya masih saja nerocos tentang skripsi yang ia tulis mengenai pertumbuhan udang yang diberi suplemen tertentu gitu. Bahasan ini membuat saya semakin terlempar jauh dari alam Eksakta; mendapati ketidakpahaman diri saya terhadap penelitiannya membuat saya makin sadar bahwa kadang rencana awal tak melulu jadi tujuan akhir. Saya yang dlu IPA kemudian berakhir jadi sarjana ilmu politik. Jadi, mungkin saja seorang sarjana ilmu politik ini akan berakhir jadi enterpreneur macam Sandiaga Uno sehingga punya sangu buat maju Cawapres. Membayangkannya saya jadi termenung; sefleksibel itu lah hidup. Seharusnya kita bersyukur hidup di negara demokratis dengan berbagai pilihan karir dan kegiatan yang bisa kita jalani, berbeda dengan zaman feudal di mana seorang anak petani ya akan selalu jadi petani sementara anak ksatria selalu jadi ksatria. Tapi tanggung jawab dalam dunia liberal memang besar; salah memilih artinya salah mengambil jalan. Meskipun kemudian bisa terus memilih lagi yang lain di lain kesempatan, tapi kita tidak hidup abadi, ya kan?

Sudah malam, saya memutuskan pulang. Seperti biasa, kami naik ojol lagi. Dia ke rumah, saya ke stasiun, kemudian saya melanjutkan naik commuter ke tempat saya menginap di Ibukota. Ah, rencana awal saya kan mau refreshing di Ibukota, kok malah jadi banyak pikiran macam ini? [.]