Ide dan Coretan Sederhana

Hari Bumi, Kartini, Stafsus, dan Bagaimana Punya Perspektif Baru Seharusnya Dapat Mengubah Dunia Jadi Lebih Baik

Setelah makan siang ditemani kucing perumahan, saya membuka YouTube. Sebuah video muncul di beranda, dari Star Talk oleh Neil deGrasse Tyson.

Neil adalah seorang astrofisikawan, seorang jenius yang rutin muncul di media untuk berbicara sains, utamanya ruang angkasa. Kali ini ia berbicara soal sejarah Earth Day. Mengapa, suatu hari, manusia kemudian jadi peduli dengan bumi.

Neil mengawali kisahnya pada 1962 saat Rachel Carson menerbitkan Silent Spring. Buku ini berbicara soal dampak lingkungan penggunaan pestisida, tapi apakah menjadi sebuah titik awal di mana manusia mulai peduli dengan lingkungan dan masa depan bumi?

Belum.

Kepedulian soal bumi dan tetek bengeknya kembali menguap saat Perang Vietnam memanas pasca 1965. Manusia kembali sibuk berperang, berpolitik, dan berkubu dalam atmosfer Perang Dingin. Aktivis lebih menyorot perang dan kemanusiaan ketimbang bumi dan lingkungan.

Sampai kemudian, Desember 1968, Apollo 8 mencapai bulan. Sambil melayang di permukaan bulan (tanpa mendarat), Apollo 8 mengambil foto saat bumi terbit. Foto yang saya feature untuk post ini (silakan scroll up), dikenal sebagai “Earthrise”, dan menjadi salah satu foto paling berpengaruh di dunia.

Hari itu, untuk pertama kalinya, manusia dapat melihat dan merasa, mengutip Neil, “sendirian bersama-sama, mengambang di kegelapan hampa udara”.

Foto ini memberi perspektif baru soal bumi, manusia, dan alam semesta.

Space Program mengantarkan manusia pada suatu perspektif baru

1969, manusia kemudian mendarat di bulan. Untuk pertama kalinya, manusia secara langsung “menemukan bumi”; menemukan rumahnya, muncul di langit, mengambang di kegelapan.

Perjalanan ke ruang angkasa memberi perspektif baru bagi umat manusia. Memberi pandangan bahwa manusia sesungguhnya tinggal bersama-sama, di suatu planet biru kecil yang rentan. Dan pandangan ini punya efek yang begitu kuat.

Dengan “pergi” dari bumi, “berjarak”, manusia baru sadar kalau selama ini ia tinggal di bumi.

Sehingga, surat balasan* Ernst Stuhlinger kepada Suster Jucunda jadi masuk akal. “[berkat perjalanan ruang angkasa] manusia kini sadar, bahwa bumi sangat terbatas…”

Pandangan ini lah yang mendorong dicetuskannya Earth Day pada 1970.

Kartini yang “berjarak”

Saya rasa, alur berpikir yang sama soal Hari Bumi dapat kita gunakan untuk menelusuri ‘kiprah’ Kartini.

Kartini lahir di Jepara, penghujung abad 19. Ia berkesempatan mendapat privilese untuk dapat “berjarak” dari masyarakat. Bukan dalam artian negatif, tapi sebaliknya; Kartini dapat memandang masyarakat jajahan dalam kacamata kolonial.

Bahwa, terlepas dari pro dan kontra, apa yang Kartini tawarkan cukup tepat sebagai jawaban (masa itu): tirulah Londo, modernisasi, perempuan bersekolahlah, kejarlah kesetaraan. Kini, setelah lebih dari 140 tahun, ide-idenya masih cukup gemilang. Jika tak lagi laku sebagai solusi, setidaknya sebagai nostalgia: bahwa bangsa ini pernah berjuang di jalan yang ia gaungkan.

Seperti astronot Apollo, Kartini mendapat perspektif baru. Dengan berjarak, ia dapat memandang diri dan bangsanya dengan lebih jelas. Berkat berkawan dengan Belanda, ia sadar bahwa bangsanya sedang tidak baik-baik saja.

Stafsus Milenial: pernah berjarak, atau memang sudah dan akan selalu berjarak?

Sekarang, pertanyaannya: apa urusannya dengan Stafsus?

Di tengah pandemi Corona, Stafsus Milenial bentukan Jokowi berulah: ada yang ‘minta’ perusahaannya ‘diutamakan’ dalam proyek, ada yang perusahannya malah sudah diikutkan proyek.

Singkat cerita, satu minta maaf, satu mengundurkan diri.

Saya jadi tertarik membandingkan astronot Apollo, Kartini, dan Stafsus Milenial ini. Mereka sama-sama berprivilese untuk ‘bepergian’ jauh: satu ke bulan, satu ‘bepergian’ secara intelektual ke negeri penjajah, satu bepergian secara akademik: punya kesempatan kuliah di Harvard, Oxford, dan saudara-saudaranya.

Dengan pergi dari bumi, kita jadi tahu kalau bumi sedang tidak baik-baik saja. Dengan berjarak dari masyarakat, Kartini jadi tahu kalau bangsanya menderita.

Mari kita bayangkan suatu hari yang cerah di musim semi, tahun 2000an. Seorang Indonesia, jauh dari rumah, sedang menempuh studi di negara orang. Beberapa tahun kemudian, mahasiswa itu jadi Stafsus Milenial.

Bak astronot, ia “keluar” dari Indonesia. Apakah ia sempat melihat Indonesia dari kejauhan, kecil rapuh mengambang di kehampaan?

Kalau iya, seharusnya ia tahu kalau Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Tapi, tak seperti umat manusia setelah Apollo memotret “Earthrise”, ia justru malah menikmati “jarak” ini: ia lebih memilih tinggal di bulan, alih-alih kembali ke bumi dan merangkul umat manusia lainnya.

Alih-alih kembali ke Indonesia dan merangkul bangsanya yang sedang dirundung masalah, ia justru lebih senang berjarak. Menikmati panorama Indonesia dari singgasana (“menara gading”). Atau, ibarat astronot yang baru saja pulang dari bulan: jumawa, ke sana ke mari menerima jabat tangan dan tepuk tangan, memaraf kertas-kertas penggemar, tapi tak merubah apa-apa.


Neil mengaku berkawan dengan Moonwalker yang masih hidup. Mereka bercerita, saat tur ke berbagai negara pasca kembali ke bumi, semua orang menjabatnya dan bersorak, “kita berhasil ke bulan!”

Pencapaian Moonwalker ini dianggap sebagai pencapaian umat manusia, dan mereka tidak serta merta mengakuinya sebagai prestasi pribadi. Mereka sadar, bahwa bukan ke bulan lah yang penting; dampak apa yang mereka berikan ke bumi setelah pulang dari bulan, itu yang penting.

Saya tidak tahu apakah bagi Stafsus—”astronot” yang pernah mengecap sendok kantin Harvard—, lebih penting ke Harvard atau melakukan sesuatu setelah dari Harvard.

Atau, mereka sudah terlalu terbiasa berjarak, sehingga pergi menjauh tak lagi memberi mereka perspektif untuk masa depan bersama yang lebih baik?

Neil deGrasse Tyson, di Startalk, berbicara soal Hari Bumi.

*Suster Jucunda dari Zambia pernah mengirim surat ke ilmuwan NASA, Dr. Ernst Stuhlinger, bertanya apa faedahnya perjalanan ruang angkasa sementara jutaan manusia di bumi kelaparan dan menderita?

« »
%d bloggers like this: