Ide dan Coretan Sederhana

Kabur

“Sandi, anak saya! Ke mana dia?”

Sigit menyeruak masuk ke Ruang BK, mengagetkan Gustiana yang baru saja merapikan sebagian jilbabnya dan hendak menyisip teh hangat.

“Apa ini akibat pendidikan yang tidak benar?! Saya mau tahu, pendidikan macam apa yang diajarkan di sekolah ini!”

Ah, apa lagi ini, batin Gustiana. Dia tahu pagi ini akan berjalan tidak cukup baik. Di tengah cuaca dingin, ia harus masuk sejam lebih awal. Rapat guru, kata kepala sekolah sore kemarin. Mendadak. Dengan kantuk yang menggelayut, Gustiana berhasil melewati rapat dengan diam dan sedikit anggukan. Sekarang pukul delapan, kelas sudah mulai, dan ia baru saja menikmati sekejap masa bebasnya (sedikit peregangan badan, beberapa menit FTV picisan, dan teh manis hangat) sebelum harus mulai menerima kunjungan anak-anak badung yang sudah ia data kemarin. Anak-anak bandel yang harus ia panggil, ia tanyai.

Sudah sering Gustiana menerima orang tua yang datang dengan berbagai luapan ekspresi. Ada yang murka setengah mati, menghardik Gustiana (dan siapa pun guru yang kebetulan ada di Ruang BK). Ada yang menangis sedan (dan biasanya akan menghabiskan teh manis Gustiana). Ada juga yang hanya datang dengan bingung dan hanya mengangguk-angguk saat Gustiana beri penjelasan.

Tapi ini Pak Sigit, pria paruh baya yang sudah Gustiana kenal beberapa bulan silam. Semua akibat Sandi, anak kelas 11 yang suka bolos itu. Awalnya bocah itu dapat teguran dari guru kelas, lalu wali kelas, lalu giliran Gustiana yang harus bertindak. Sebenarnya, menghadapi Sandi tidak ruwet: anak ini tipe yang mudah diajak berpikir waras. Satu hal yang membuat Gustiana malas: Pak Sigit, ayah Sandi.

“Pagi Pak, Sigit. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya Gustiana, masih membetulkan jilbab satinnya.

“Ibu Gustiana,” ujar Sigit tak sabar. “Pagi ini, anak saya kabur. Saya cek di kamar tidur, di kamar mandi, di halaman, di beranda, tidak ada. Tasnya juga tidak ada.”

“Lalu saya menemukan surat dari Anda,”

Ah, Sandi pun biang masalahnya, batin Gustiana. Surat yang ia tulis tempo hari untuk Pak Sigit ternyata tak Sandi sampaikan.

“Ah, jadi Pak Sigit sudah baca surat dari saya? Nah, di situ ada penjelasan soal Sandi. Mungkin Pak Sigit belum tahu, tapi Sandi sudah sering bolos pelajaran beberapa kali dalam semester ini—”

“Ah, omong kosong itu,” potong Sigit. “Sandi tidak pernah cerita ke saya.”

“Mungkin Pak Sigit yang tidak pernah bertanya ke Sandi?” sergah Gustiana segera.

Raut wajah Sigit berubah, melunak. Gustiana tahu, perkataannya benar. Dua puluh tahun berhadapan dengan anak badung dan orang tuanya (yang menurutnya juga sama badungnya), Gustiana sudah hafal pola-polanya. Bagi Gustiana, semua kenakalan anak cuma berakar dari satu masalah: orang tua yang tidak beres. Ada orang tua yang terlalu keras, ada yang terlalu memanjakan, ada orang tua yang selalu bertengkar, dan ada juga yang tidak peduli. Seperti Pak Sigit ini.

Tapi, ah, Sandi kabur? Kok seram juga, batin Gustiana. Selama beberapa kali berbincang dengan Sandi di Ruang BK satu semester terakhir, Gustiana mengakui bahwa Sandi bukanlah anak yang terbuka begitu saja. Menyebut pertemuan mereka sebagai “perbincangan” pun juga terlalu dermawan: yang ada, Sandi lebih banyak diam sementara Gustiana terus bertanya macam-macam. Ya, meskipun alasan Sandi suka bolos juga tidak berhasil ia dapatkan, tapi masa separah itu sampai harus kabur?

Gustiana jadi teringat anak laki-lakinya yang seusia Sandi. Ia tidak sekolah di sini, tapi karena sering “menginterogasi” Sandi, Gustiana jadi tahu kalau anaknya satu organisasi dengan Sandi. Volunteer atau apalah itu, urusan anak muda, batin Gustiana. Pikiran Gustiana jadi melayang, mencari-cari hal yang janggal. Oh iya, kapan terakhir kali aku ngobrol dengan anakku, ya, batin Gustiana.

Pikiran itu tiba-tiba dihempas oleh raut muka Sigit, yang sekejap kemudian kembali ganas, seakan tak ingin tertangkap basah bahwa ia bersalah.

“Ibu Gustiana jangan bicara macam-macam! Lagi pula, sudah seharusnya kondisi anak selama di sekolah itu dimonitor oleh sekolah. Kalau sampai ada anak yang bolos, bukankah itu artinya sekolah gagal memberi pengajaran yang benar soal ketertiban dan tanggung jawab?”

Gustiana berkenalan dengan kedua orang tua Sandi beberapa bulan lalu saat ambil rapor. Waktu itu Sandi sudah beberapa kali bolos, tapi Gustiana belum memutuskan untuk melibatkan orang tua Sandi. Ia hanya menghafal siapa orang tua Sandi lalu mengamati tabiatnya, bersiap jika suatu saat harus memanggil mereka soal kenakalan Sandi. Di pertemuan pertama itu (lewat beberapa percakapan), Gustiana langsung bisa menyimpulkan siapa Sigit dan istrinya: orang tua yang cerdas, kaya, sibuk, tidak mau kalah, dan tipe orang tua yang menyerahkan semua urusan anak ke sekolah.

Praktis, meladeni Sigit dengan argumen-argumen dan sanggahan tidak akan ada habisnya. Saatnya bersikap normatif, sesuai prosedur, dan standar, batin Gustiana.

“Pak Sigit, memang benar jika Sandi sering bolos dari pelajaran-pelajaran tertentu,” terang Gustiana. “Alasannya, saya tidak tahu. Tapi kalau soal pengajaran dari sekolah, jelas kami sudah memberi tahu dengan jelas aturan-aturan dan nilai-nilai tanggung jawab. Lewat wali kelas maupun kami sisipkan di pelajaran agama dan kewarganegaraan. Kami juga punya mekanisme pendisiplinan, misal diberi poin, diskors, dan lain-lain.”

“Tapi kalau soal hari ini Sandi kabur, kami tidak tahu. Sandi tidak pernah juga bercerita ke saya atau guru mana pun soal rencana kabur dan sebagainya.”

“Ya jangan melawak, Bu Gustiana. Mana ada kabur kok bilang-bilang” jawab Sigit. Air mukanya nampak berubah. Dia kini terlihat tidak tenang dan terus melihat jam. “Kalau Sandi memang tidak ada di sini atau di kegiatan apa pun, ya sudah. Tapi saya masih akan tetap meminta sekolah bertanggung jawab jika terjadi apa-apa sama anak saya! Permisi, saya harus ke kantor lagi.”

Gustiana menghembus napas panjang saat mengamati punggung Sigit yang menjauh dari Ruang BK. Diseruputnya teh manis yang sudah mulai mendingin. Ah, satu lagi prestasi dirinya, batin Gustiana. Berhasil menyelesaikan konflik anak bandel kurang dari setengah jam tentu menaikkan mood Gustiana. Sehari penuh hatinya baik dan senang. Ia bahkan sengaja membatalkan panggilan BK bagi beberapa anak yang kenakalannya tidak seberapa. Karena Gustiana tahu, banyak anak sejatinya tidak berdosa. Kenakalan mereka adalah akibat kesalahan orang tua. Entah dalam didikan langsung maupun lingkungan yang orang tua bentuk di rumah.

Lagi-lagi, rasa bangga merasuki relung hati Gustiana.

Mendadak, Sigit masuk lagi ke Ruang BK.

“Saya minta nomor Ibu.”

Gustiana mencatat nomor ponselnya di kertas, diterima, lalu disimpan Sigit di saku kemejanya. Sigit kemudian pamit lagi.


Sudah dua hari Rio tidak ada kabar. Terakhir ia melihat Rio hari Senin malam, saat Rio berlari turun dari kamar bertanya soal tas gunung milik ayahnya. Setelah itu Rio menggumam tak jelas dan ia hanya menanggapi dengan anggukan. Ia sedang sibuk di depan komputer waktu itu.

Hari Selasa ia tidak sempat bertemu Rio. Subuh-subuh ia sudah harus berangkat, sementara saat ia pulang ke rumah pukul sembilan malam lebih sedikit, Rio sepertinya sudah tidur kelelahan. Tapi Selasa siang Rio sempat menelepon, meskipun tidak sempat ia angkat. Hari Rabu ia kembali berangkat pagi, rapat guru, praktis tidak juga bertemu Rio.

“Kira-kira dia pergi ke mana, Mas?” keluhnya ke suaminya.

“Yakin dia tidak pamit ke kamu, Ana?”

Gustiana menggeleng menjawab pertanyaan suaminya. Ia sudah jelaskan bahwa sejak Senin malam sampai sekarang ia tidak melihat Rio. Suaminya juga malah tidak ingat kapan terakhir melihat Rio.

“Sekarang sudah hari Jumat, Mas.”

Kepanikan sudah melanda Gustiana dan suaminya sejak Kamis pagi, ketika panggilan mereka tidak disahut oleh Rio. Mereka sudah berputar-putar di sekeliling rumah bahkan ke rumah tetangga, tapi Rio tetap tidak ditemukan. Kamis sore mereka menelepon polisi.       

Suami Gustiana jelas cemas, tapi Gustiana lebih cemas lagi. Jelas, sebagai seorang ibu, naluri kecemasannya lebih besar. Bagaimana jika Rio kena masalah serius—diculik? Gustiana bergidik, ngeri membayangkan. Kecemasannya juga dikatalis oleh Sigit, yang lagi-lagi datang ke sekolah Kamis itu, ribut kenapa anaknya tak kunjung pulang. Kasus Sigit dan Sandi cuma bikin Gustiana makin runyam.

Andai Sigit tahu kalau Gustiana juga sedang dirundung masalah yang sama: anaknya juga hilang (entah kabur atau tidak). Tetapi, Gustiana jelas tidak bisa balik bercerita ke Sigit. Kecemasan Gustiana juga meningkat karena ia tidak pula dapat bercerita apa pun ke siapa pun. Apa kata Sigit, guru lain, dan wali murid lain kalau tahu Guru BK, ndakik-ndakik berbicara soal “orangtua harus peduli dengan anak”, sekarang malah kebingungan karena anaknya juga hilang tanpa ia tahu musababnya?

Ponsel Gustiana tiba-tiba berbunyi.

“Halo, selamat malam Bu? Saya Sigit. Saya mau memberitahu saja kalau anak saya ternyata tidak kabur. Ia ternyata ikut camp, apa itu, eh, youth volunteer camp atau semacamnya, saya tidak paham. Berangkat Rabu pulang Sabtu. Di sana susah sinyal, jadi tidak bisa dihubungi.”

“Rupanya Sandi sudah pamit waktu itu. Saya dan istri saja yang terlalu sibuk dan lelah, tidak memperhatikan. Maaf sudah marah-marah ke sekolah waktu itu.”

Gustiana mengucap syukur pada Tuhan. Setidaknya dia tidak perlu memikirkan nasib anak orang sementara anaknya sendiri juga lenyap entah ke mana.

“Oh iya, kata Sandi, Rio titip salam ke Bu Gustiana,” tambah Sigit. “Wah, saya juga baru tahu kalau ternyata Sandi berteman dengan anak Ibu. Ikut satu kegiatan juga!”

Sigit terkekeh, berusaha akrab. “HP Rio tidak ada sinyal sama sekali jadi tidak bisa menelepon rumah, katanya.”

Puji Tuhan, bagaimana aku juga lupa kalau Sandi dan Rio berteman, batin Gustiana.

Sigit berjeda sebentar. “Ibu Gustiana benar, orang tua seharusnya lebih peduli dengan kondisi anak. Jangan sampai, kita terlalu sibuk sampai lupa dengan apa yang dilakukan dan disampaikan anak-anak kita.”

Gustiana mengutuk dirinya sendiri.

« »
%d bloggers like this: