Muhammad Dito

Ide dan Coretan Sederhana

Belalang Goreng: Solusi Hutan bagi Ketahanan Pangan?

“Kenapa ya, belalang nggak ada yang dibudidaya? Kan harganya bisa lebih murah.”

Ujar saya siang itu saat kami melintasi hutan Gunung Kidul, Yogyakarta. Kami sekeluarga, naik mobil, di akhir pekan, hendak berkunjung ke rumah kakek-nenek. Adik mengiyakan pertanyaan saya, sementara Papa diam saja (memang kalau menyetir suka diam).

“Ya karena belalang susah untuk dipelihara. Tidak mau kawin!” Mama menimpali. Mama adalah native Gunung Kidul, daerah yang terkenal dengan kuliner belalang goreng ini. Jadi, ya saya percaya saja.

Beberapa waktu kemudian saya baru tahu kalau sebenarnya belalang bisa dibudidaya juga (belalangnya pun tidak masalah soal kawin-mengawin). Meskipun begitu, praktek ini masih sangat jarang; belalang masih lebih umum ditangkap sebagai sumber pangan dari hutan.

Belalang dari hutan Gunung Kidul?

Belalang goreng / walang goreng memang sudah (dan semakin) melekat sebagai ikon Gunung Kidul. Ironisnya, dulu saat saya masih kecil, belalang goreng tidak selalu bisa didapat. Musiman. Sekarang, mau di tengah badai pun, orang-orang ramai berjualan belalang goreng di sepanjang jalan Jogja-Wonosari. Mulai dari kawasan Hutan Bunder sampai ke arah pantai.

Kenapa dulu susah didapat? Karena mereka diburu langsung di hutan-hutan Gunung Kidul. Rupanya, kini belalang tersebut bukan lagi didapat dari Gunung Kidul. Mereka diimpor dari Klaten, Purworejo, dan daerah lain. Tapi, tetap saja, belalang sudah jadi khas Gunung Kidul. Demandnya selalu ada dan cukup tinggi, terlepas dari kondisi belalang pribumi Gunung Kidul yang sudah mendekati kepunahan.

Saya tidak tahu apakah belalang peranakan non Gunung Kidul diternak atau juga diburu di hutan. Sepertinya sih dari hutan juga, soalnya harganya tetap saja mahal: 25 ribu untuk 1 toples kecil.

“Nggak usah beli banyak-banyak. Mahal. Bikin gatel juga,” kata Mama saat kami berhenti mampir beli belalang goreng. Wajar jika belalang bikin gatal: proteinnya tinggi. Apalagi bagi yang punya alergi. Suatu pengorbanan yang harus ditebus untuk merasakan kelezatan, kerenyahan, plus manfaat gizi “udang darat” ini.

Belalang untuk ketahanan pangan

Serangga mulai dilirik sebagai alternatif sumber pangan masa depan karena keunggulannya dibanding ternak kaki 4 dan unggas. Misalnya:

  • Serangga kaya akan protein, lemak, mineral, dan serat
  • Budidaya serangga tidak makan banyak tempat
  • Pakan serangga lebih sedikit
  • Gas rumah kaca (emisi) yang ditimbulkan oleh serangga jauh lebih sedikit

Pada 2013, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merilis report soal masalah serius di masa depan: krisis pangan. Pada 2050, manusia akan semakin banyak (9 miliar), bumi akan semakin sempit, lingkungan akan semakin rusak. Pangan akan semakin susah diproduksi.

Solusinya? Serangga. Termasuk juga belalang.

Setelah sampai di rumah nenek, kami membuka 3 toples belalang goreng dan 1 toples enthung (kepompong ulat kayu jati) goreng yang tadi kami beli. Nenek lalu menghidangkan kami nasi hangat dan sambal bawang. Kami makan nasi lauk belalang dengan riang. ‘Krisis pangan’ keluarga kami berhasil diatasi.

Mengamati makan siang ini, saya pun yakin, serangga memang bisa jadi solusi ‘krisis pangan’ miliaran keluarga di luar sana. Di seluruh dunia. Di masa depan.

Belalang goreng
Adik saya sedang menjumput sisa-sisa kaki belalang goreng di toples. Toples di samping kirinya: enthung / kepompong ulat kayu jati.

Tentu, mengarusutamakan belalang / serangga sebagai lauk pengganti daging tidak dapat dilakukan satu malam. Selain faktor alergi, lebih banyak orang yang juga menganggap serangga sebagai hewan yang tak wajar dikonsumsi.

Jangankan serangga, sayuran saja masih banyak yang tidak suka, kan?

Masa depan serangga: industri dan hutan

Kembali ke hutan sepertinya memang jawaban atas krisis pangan dunia. Walhi pun sadar akan hal itu. Lomba blog kerja sama dengan Blogger Perempuan, salah satunya, merupakan upaya kampanye Walhi agar kita kembali ke alam. Jika boleh saya benang merahkan tujuan Walhi lewat kompetisi ini: “Jangan khawatir soal makanan. Hutan dan alam kita kaya, punya semuanya untuk kelangsungan hidup kita!”

Indonesia mungkin belum memulai. Tapi di Amerika Serikat, misalnya, masyarakat sudah memulai industri budidaya serangga. Dikembangbiakkan untuk produksi skala besar, untuk memberi makan populasi manusia dalam jumlah banyak.

Problemnya, jika serangga kemudian jadi lauk-pauk utama seperti (atau bahkan pengganti) ayam dan sapi, tentu serangga perlu diproduksi skala industri. Apalagi jika manusia benar-benar mencapai 9 miliar pada 2050. Pabrik-pabrik pengolahan serangga perlu dibangun dengan masif.

Kalau sudah begini, apakah industri serangga juga akan sama berbahayanya seperti industri peternakan? Akankan semakin banyak hutan yang digunduli, dibakar untuk lahan budidaya serangga? Akankah limbah pabrik serangga semakin mencemari lingkungan dan ekosistem?

Belum tentu.

Mungkin keunggulan serangga (perlu lahan kecil, emisi sedikit) tidak akan membuat industri serangga jadi semenyeramkan industri peternakan. Atau mungkin, manusia masa depan sudah berhasil menemukan cara pelestarian lingkungan yang lebih nyata dan berkelanjutan.

Atau, apakah lebih baik jika serangga tidak perlu diindustrialisasi? Dibiarkan saja di hutan, lalu kita tangkap secara alamiah?

Yo bisa dibudidaya!” tiba-tiba kakek menyeletuk. Rupanya, selepas makan siang tadi, Mama, Adik, dan Kakek sedang terlibat diskusi apakah belalang sebenarnya bisa dibudidaya atau tidak. Adik saya kembali menanyakan pertanyaan yang saya lontarkan di mobil tadi.

“Tapi, ya memang lebih enak yang ditangkap langsung,” tambah Kakek.

Iya, yang alami memang lebih nikmat. Tapi, kalau demandnya super banyak seperti ini, yang ada tinggal ketiadaan. Belalang Gunung Kidul sudah langka, hampir punah. Terpaksa harus dikirim dari daerah lain. Untungnya Klaten dan Purworejo masih punya banyak belalang. Tapi kalau terus-terusan ditangkap, akan punah juga kan?

Kalau sudah begini, opsi industrialisasi jadi lebih nampak cerah. Meskipun efek industrialisasi memang jahat, tapi daripada belalang punah? Alih-alih memunahkan spesies, justru industrialisasi akan melestarikannya. Lihat saja sapi, domba, ayam, dan babi.

Belalang kayu (Valanga nigricornis) memang sumber pangan dari hutan yang baru dan masih sedikit asing. 10, 20, 40 tahun lagi mungkin sudah tidak. Permintaan akan serangga bakal naik jauh. Tentu saja, bergantung pada hutan tidak cukup; perlu industrialisasi. Tetapi, lagi-lagi, industrialisasi yang berlebihan justru merusak alam, merusak hutan itu sendiri.

Ah, dilema. Memang harus ada yang dikorbankan demi sebuah perubahan dan kemajuan. Seperti Mama dan Kakek yang berkorban gatal tenggorokan demi menikmati belalang goreng tadi (sekarang mereka sibuk mencari CTM di rak obat).

Saya rasa, yang terpenting jangan berlebihan. Jangan berlebihan memburu belalang di hutan sampai punah. Jangan pula berlebihan jika nanti mengindustrialisasi serangga hingga malah merusak alam dan hutan. Sama seperti saya dan adik saya, tidak berlebihan makan belalang, jadi tidak gatal-gatal.

Serangga sebagai makanan masa depan, oleh Verge Science (YouTube).
Infografis belalang
« »

© 2020 Muhammad Dito. Theme by Anders Norén.