Sebelum saya menggalau karena cari pekerjaan, saya mau menggalau dulu karena perpisahan.


Perasaan manusia memang kuat, kuat sekali. Tidak hanya terbatas pada firasat-firasat nggak enak yang kadang berupa peringatan bahaya seperti di Final Destination, indra keenam anak indihome indigo Mas Roy dan sebangsanya (liat saja aksinya pasti selalu dengan kata “saya merasakan..”. Eh udh diharamkan MUI ya, nggak bisa nonton lagi dong), atau​​ pun perasaan mbak-mbak dan emak-emak yang nyetir “perasaan masih jauh tapi kok udah nabrak”. Bukan cuma itu.

Secara spesifik, yang saya maksud di sini adalah perasaan yang muncul dalam lubuk saya ketika menyaksikan akhir dari masa kuliah dan teman-teman satu per satu meninggalkan Jogja. Perasaan yang muncul merupakan campur aduk gado-gado antara sedih, terharu, dan menyesal. 

Sedih, karena orang-orang harus pergi. Karena banyak yang harus ditinggalkan. Jelas to, 4 tahun kurang ini bukan waktu yang sedikit untuk saling membuat cerita ataupun menjadi bagian dari cerita orang lain. Teman-teman, gebetan, pacar, mantan, selingkuhan, ataupun hanya sahabat yang memendam rasa, banyak yang pergi. Pulang ke kampung halaman, atau merantau lebih jauh ke sudut-sudut planet. Suasana ketika kuliah menunggu dosen nggak datang-datang, rapat organisasi dari subuh sampai tahajud, sampai baku hantam soal pemilu kampus, semua juga sudah tinggal jadi susunan rapi di memori. 

Ya, nama nya juga perpisahan. Ada yang bilang, seperti kematian, perpisahan memberi arti terhadap pertemuan. Karena dengan adanya perpisahan, kita akan sadar bahwa pertemuan tidaklah abadi. Namun, sama juga seperti kematian, kita nggak pernah siap untuk berpisah sampai kemudian waktunya datang.

Saya juga terharu melihat orang-orang sedih meninggalkan Jogja. Sebagai native di sini, saya terharu melihat bagaimana kawan-kawan saya begitu sedih meninggalkan Jogja. Bercerita penuh tentang bagaimana riuh nan santun nya kehidupan Jogja, sang pengayom perantau awam dari berbagai pelosok negeri. Bagi saya, melihat mereka sedih meninggalkan Jogja adalah suatu kebanggaan, bahwa kota yang kadang sayu ini menjadi bagian terpenting dalam hidup mereka. Menjadi kota yg selamanya dirindukan. Tearharu dan bangga, bahwa saya menjadi bagian dari tuan rumah, dengan grapyak dan hangat membuka rumah saya menjadi lahan baik bagi kreativitas maupun romansa. Saya seolah bisa membayangkan, bagaimana kalian di awal kuliah meminta izin, bernegosiasi, bahkan berdebat dengan sanak dan keluarga untuk meyakinkan mereka bahwa Jogja baik baik saja. Terimakasih, telah yakin bahwa Jogja merupakan spot terbaik buat kalian. Di lain pihak, terima kasih pula telah bertahan di Jogja. Terima kasih, telah datang ke Jogja.

Perasaan yang terakhir mungkin terkesan negatif. Ya jelas, saya banyak menyesal dan kecewa. Banyak hal yang belum saya lakukan bersama orang-orang yang sekarang sudah sibuk menghamba di antek-antek kapitalis atau yang dengan jumawa menawarkan diri sebagai pekerja kemanusiaan. Banyak orang-orang yang ternyata belum saya kenal, belum saya habiskan waktu saya bersama mereka, belum saya jelajahi akal dan hati mereka. Banyak pula aktivitas yang belum saya lakoni, yang kemudian mustahil untuk dilakukan ketika bukan lagi mahasiswa. Misal ikut lomba, jadi panitia ini itu, mendebat dosen, maju ke pemilu kampus (yang ini nggak terlalu pengen sih), jadi femes nan baik serta dermawan, dan lain lain. 

Yang saya yakini, bahwa jalan kita memang sudah digariskan. Mungkin ini garis hidup saya, untuk menghabiskan 4 tahun di kota kelahiran saya, bertemu dengan berbagai manusia dan menjadi tuan rumah bagi melting pot nusantara yang hingar-bingar. Ya mungkin ini jalan saya, dipertemukan dengan orang-orang tertentu yang sempat saya bahagiakan maupun saya sakiti. Namun andai waktu dapat diputar lagi, saya toh nggak mau. Hal-hal itu nggak akan bisa jadi momen yang kita apresiasi dan ambil pelajarannya kalau bisa dengan mudah kita ulang. 

Jadi manusia memang repot ya, harus berkutat dengan perasaan haru-biru macam ini. Apalagi sekarang saya bukan cuma manusia biasa tapi manusia tanggungan negara yang jadi target empuk buat diajak aksi-aksi angka cantik.

Duhai Pak Jokowi, 10 juta lapangan pekerjaan, bagi saya satu dong. [.]