Yang Sempat Tertulis

Geger Parjono

Negeri kami geger.

Semua berawal dari Parjono. Dia mau curhat. Datanglah ia ke kantor polisi terdekat, seperti orang-orang. Duduk anteng, cerita mengalir. Pakpol mengetik. Dua jam ia cerita, ngalor-ngidul tak karuan. Pakpol tetap mengetik sembari memberi wejang-wejang. Sudah tujuh halaman Times New Roman 12 spasi 1,5. Dua jam tiga belas menit empat detik, Parjono berhenti. Menarik napas panjang, tersenyum sumringah, ia lalu pamit.

Lega juga, batin Parjono. Ia, seperti jutaan orang lainnya di republik tercinta kami ini, bukan pertama kalinya datang ke kantor polisi buat curhat. Dua bulan lalu, sapinya hilang. Tertekan karena itu sapi warisan bapaknya, ia bingung mau mengadu ke mana. Curhatlah ia ke Pakpol. Pakpol—seperti biasa—sangat setia mendengar dan mengetik. Ia pulang dengan lega. Enam bulan sebelumnya, habis mabar ia pulang naik motor. Menyusuri jalan dengan skuter bututnya, ia disenggol sedan. Sedan kabur, Parjono lebam, setang motor bengkok. Ke mana lagi harus mengadu kalau bukan ke polisi. Datanglah ia ke kantor polisi. Polisi menyambut dengan senyum, salam, dan sapa. Duduk anteng, ia cerita setengah jam sambil menahan perih di dengkul. Pakpol—tentu saja—mengetik dengan setia.

Mungkin kamu heran kenapa negara kami kok begitu.

Dahulu, polisi kami sama dengan polisi kamu. Seragam coklat, jemawa, petentang-petenteng. Kadang bawa bedil, kadang bawa pentung. Kerjanya juga sama; menilang, melawan bentrok, menangkap maling, menembak teroris.

Tapi pasti—sama seperti di negaramu—pekerjaan itu yang beres kira-kira satu banding delapan saja. Tujuh per delapan lainnya, ya kamu pasti tahulah. Harus ada pelicin, katanya. Harus orang berkuasa, katanya. Harus punya orang dalam, katanya. Kalau kamu cuma orang biasa, ya buat apa. Percuma lapor polisi, katanya.

Tapi ya namanya hidup, orang jahat ya masih banyak. Pencurian masih banyak, pembunuhan masih ada, huru-hara makin sering. Tiap hari ada saja orang yang jadi korban. Kalau sudah begitu, mereka bisa apa kalau bukan lapor polisi, ya to?

Tapi, semakin banyak orang lapor, nyatanya sama saja. Kalau tadi barusan aku bilang hanya seperdelapan yang beres, makin ke sini makin parah. Kira-kira, dari sepuluh kasus, cuma satu yang beres. Itu pun lama, mahal, dan rumit.

Urusan motorku hilang di rumah, misalnya saja. Sebelas tahun dua bulan yang lalu, motorku di teras hilang. CCTV oke, muka maling terekam jelas, tapi ya baru selesai dua tahun. Motor sudah entah di pulau mana. Malingnya bahkan sudah insyaf jadi marbot, baru ketemu. Itu pun aku harus bayar inilah, itulah, apalah. Dari ‘uang rokok’ sampai ‘uang tebusan’.

Tentu saja, kesusahan ini juga dirasakan jutaan warga negara kami yang tercinta ini. Tapi, kami tidak bisa apa-apa. Mau lapor keamburadulan polisi, lapor ke siapa, polisi lagi? Masa teman makan teman? Mau lapor ke sosmed? Tentu saja kamu pernah dengar soal guyonan pedagang nasgor bawa walkie talkie, kan?

Akhirnya kami pilih diam saja. Laptop hilang, ya sudah, ikhlaskan. Kalau bisa gotong royong sendiri berbagi informasi, saling share postingan sosmed antar warga sampai laptop ketemu, ya syukur. Toh, cara seperti itu justru lebih dapat diandalkan daripada menunggu polisi.

Syahdan, orang-orang jadi makin malas melapor tindak kejahatan. Makin sedikit orang datang ke kantor polisi buat lapor karena ya hasil yang didapat sudah ketahuan: cuma didengar curhatnya, diketikkan, sambil diberi nasehat-nasehat standar “makanya hati-hati”, “kamu sih perempuan kok pulang malam”, “tapi kamu juga suka kan?”, “ya sudah ikhlaskan saja”.

Tapi, lama-lama, keabsurdan lapor di kantor polisi itu malah dipandang sebagai sarana berkeluh-kesah yang pas. Karena kalau lapor cuma didengar, diketik, dan diberi wejangan macam itu (dan kasusnya toh tidak akan diusut), tujuan orang-orang mulai berubah. Orang-orang mulai sengaja datang ke polsek buat curhat. Pertama iseng, tapi lama-lama sistematis dan terukur. Kantor polisi yang biasanya sepi, kini orang mengantre buat curhat.

Pakpol tentu sadar hal ini, tapi mereka justru menyambut baik. “Hal ini membuktikan bahwa citra polisi telah meningkat di mata masyarakat,” kata Jenderal Kepala Polisi di berita waktu itu. Toh, mereka senang karena kini masyarakat tidak menuntut mereka lagi buat mengusut kasus. Tanpa ekspektasi, tanpa tuntutan, kerja mereka jadi lebih enteng. Bisa eight to five, kata orang bule. Sabtu minggu bisa plesir, karena gaji kan tetap gede.

Beberapa tahun setelah praktik curhat di kantor polisi ini marak, fasilitasnya ditambah. Kini ada psikolog yang standby di pos atau kantor polisi kalau-kalau ada masyarakat yang butuh nasehat tambahan (tapi ya yang mengetik curhatan tetap Pakpol). Malah, ada wacana kalau mau diperkuat pakai ustaz, biar nasehat-nasehat yang disampaikan punya pesan moral yang lebih religius.

Presiden juga menyambut baik praktik ini. Dalam sambutan di upacara kemerdekaan, mengulang kata kepala polisi, “Saya bangga bahwa institusi kepolisian kita semakin dapat mengayomi masyarakat”. Wah, antrean curhat makin mengular pasca itu. Bukan hal aneh kalau kamu sedang lewat pos polisi di pojokan persimpangan dan melihat banyak orang berkerumun. Mereka antre curhat. Coba tanyai mereka, jawabannya macam-macam. Dari “Saya mau curhat, hape hilang di kos kemarin sore” sampai “Saya mau curhat, bapak ibu berantem gara-gara selingkuhan bapak mergokin saya pacaran sama cewek beda agama.”

“Nggak takut curhatan kamu bakal bocor?” tanya seorang reporter ke seorang cowok berkaus deus di berita malam tempo hari.

“Lho, takut apa? Orang cuma didengerin aja. Cerita kita kan nggak bakal diurus lebih lanjut.”

***

Makanya, kisah Parjono ini viral. Ia cerita kalau ia curiga istrinya main serong dengan mandor proyek di RT sebelah. Ia ceritakan betul secara detail selama dua jam tiga belas menit itu; nama istrinya, nama si mandor, proyek si mandor, RT nya di mana, keluarga si mandor, teman-temannya. Pokoknya semua, secara Parjono juga kenal dengan si mandor.

Percaya bahwa curhatannya tidak akan diapa-apakan, Parjono kaget karena seminggu kemudian istrinya menelepon di siang bolong. Alasannya arisan, ternyata ia diciduk polisi, ketahuan ngamar bareng si mandor. Parjono lega sekaligus panik. Lega, karena dugaannya benar. Panik, karena bingung kenapa polisi bisa menangkap istrinya.

“Sesuai laporan Bapak Parjono, kami berhasil membuntuti Bu Jinten dan memergokinya sedang berduaan dengan Pak Burhan yang tak lain adalah mandor proyek masjid di RT 12 kelurahan Dhuwet,” terang Pakpol di hadapan Parjono, istrinya, dan si mandor di polres. Sontak Parjono bak tersambar petir. Istrinya murka, bisa-bisanya Parjono melapor soal kecurigaannya itu ke polisi, bikin malu. Parjono balik marah. Marah ke istrinya karena main serong, marah juga ke pakpol karena curhatannya terbongkar.

“Maaf kami hanya menjalankan tugas, Pak,” terang Pak Brigadir.

“Tugas opo! Tugasmu kan ndengerin orang curhat!” timpal Parjono dengan angkara murka.

***

Peristiwa itu jadi sorotan. Rupanya, ada oknum polisi yang mau jadi sok pahlawan. Lebih tepatnya, si Kepala Kantor Polisi. Ia terekspos sebagai orang dibalik geger ini. “Betul, penyelidikan itu instruksi saya. Saya hanya ingin mengembalikan marwah polisi seperti sedia kala,” katanya ndakik-ndakik. Jenderal Kepala Polisi geram, ia memerintahkan pencopotan Sang Kepala Kantor. Yang bersangkutan tidak terima dan mengajukan banding; saat ini kasusnya masih dalam proses internal polisi.

Presiden pun turun tangan. Dikirimnya telegram ke Kepala Polisi, urus segera secepatnya, perintahnya. Ia takut skandal ini membuat kondisi ekonomi tidak stabil dan mengurangi minat investasi asing.

Publik jadi berdebat. Tiap-tiap hari, berita cuma menampilkan debat yang sama. ‘Lapor vs Curhat’, ‘Polisi atau Psikolog?’, ‘Jenderal vs Komisaris: Siapa yang Salah?’, ‘Setelah ini, kemana rakyat harus curhat?’.

Masyarakat lalu takut untuk curhat lagi. Kantor polisi makin sepi. Kepercayaan publik ke polisi merosot. Ustaz batal ditempatkan di kantor polisi. Psikolog banyak yang dipecat.

Lalu Parjono? Ia ceraikan istrinya. Si mandor juga diceraikan istrinya. Kini Jinten dan Burhan hidup berdua di kota lain. Parjono tinggal sebatang kara, kerjanya hanya mabar dengan kawan-kawannya.

Pernah suatu hari aku bertemu Parjono. Kutanya kabarnya, jawabnya baik. Ia masih sedih, sedikit kurusan, tapi, ya, sehat-sehat saja. Kami mengobrol ngalur-ngidul khas kawan lama. Lalu, di akhir obrolan, Parjono berucap, “Yah, memang salahku, cuk, percaya kok sama aparat.”

[.]

Suka cerita ini? Yuk, klik tombol di bawah buat dukung penulis terus berkarya. Terima kasih banyak.

Nih buat jajan

A picture containing wall, person

Description automatically generated
« »