Kalau itu masih jadi problem, berarti memang seharunya kita ikut KKN.


Rata rata sudah sekitar seminggu saya dan kawan-kawan almamater diterjunkan di desa-desa di Jogja dan sekitarnya, berusaha menyelesaikan kuliah 3 sks di antara masyarakat. KKN menjadi ciri khas mahasiswa, yang walaupun banyak kampus sudah menghapusnya dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih “prestisius” seperti magang atau PKL, toh tetap saja kampus kami masih old school, menganut sistem pengabdian masyarakat sebagai bentuk kuliah nyata.

Boleh bersyukur apa durjana, kalau mahasiswa mengikuti KKN. Bersyukur harus, tapi durjana memang tidak dipungkiri lebih banyak. Mulai dari lokasi yang jauh, penerjunan yang lambat, dosen lapangan yang tidak membimbing, masyarakat yang tidak welcome, biaya tinggal mahal, dan sebagainya. Terasa gak worth it, ketika hanya untuk dapat A di 3 sks harus “tersiksa” di dunia antah berantah, hanya punya 3 hari waktu libur, dan terasa asing karena tidak sanggup berbahasa Jawa. Sounds cruel, for just to get A to lever your GPA, right? Belum lagi 800 ribu yang hilang entah kemana dan hanya kembali 200 ribu plus beberapa pernak pernik ciamik (baca: co-card, buku panduan, kaos)

Mayoritas mahasiswa yang mengikuti KKN adalah semester 6, dan alangkah bijaknya sebagai mahasiswa senior kita mundur sejenak dan memandang KKN dari jarak yang cukup jauh, cukup sehat, dan cukup bijak agar kewarasan kita dapat menelaah; apakah KKN sebegitu menyiksanya? Tengok lah buku panduan kita, kawan, halaman 4 bertitel “Tujuan KKN”. Baca dan pahami. Everything is about us, the students. This KKN IS FOR US. Campus doesn’t give a shit about the locals, and the local also never gives shit about who we are, why we are here, and they probably still can survive and thrive without us. Desa mereka sudah puluhan, ratusan tahun hidup tanpa anak anak KKN. Jadi, apa masalahnya?

Masalahnya adalah we value our self too little in this KKN. Ketika kampus menilai diri kita tinggi dan mengharapkan we achieve something great, kita malah menjudge diri kita dan bilang “I’m not into KKN, seriously.” Dengan berbagai alasan, tentu saja. Ada yg memang tidak besar di pedesaan, ada yang disibukkan dengan kerja, remidi, mengulang kelas, ada pula yg merasa tidak cocok dengan rekan kelompok, belum lagi yang merasa jurusannya tidak bisa diaplikasikan di KKN.

Kenapa we value our self too little, I say? Karena kita terpenjara dalam diri kita sendiri. KKN berarti expanding our life ke pelosok, pedesaan, ke tempat di mana lulusan SD lebih banyak dari sarjana, dimana bir bintang lebih umum daripada bear brand, di mana kata “mampus” lebih sering didengar daripada “kampus”. Ya itu lah dinamikanya, masyarakat memang beragam. Di tengah keragaman itu, kita malah mengurung diri kita sendiri dengan bilang “saya gak bisa sosialisasi dengan masyarakat” atau “saya gak sreg sama teman kelompok” atau “jurusan saya gak ada hubungannya sama KKN”.

Kalau itu masih jadi problem, berarti memang seharunya kita ikut KKN.

Mahasiswa adalah manusia spesial, yang mengalami pengalaman khusus di bangku kuliah, berorganisasi gila-gilaan, aktivis di mana-mana, dan sebagainya. Setelah lulus, selain menjadi budak korporat, atau wirausaha sempoyongan, atau mendadak bos, sama-sama kita akan kembali ke masyarakat. Ke Indonesia. Ke desa dengan masyarakat yang begitu berciri khas seperti di KKN ini. Di KKN kita belajar mendengarkan orang dengan berbagai pengetahuan, dari orang konservatif hingga ilmu cetek kita berusaha dengarkan. Bukankah Albert Einstein pernah berkata, “kita bisa disebut pintar, jika kita bisa menjelaskan sesuatu secara sederhana.” Disinilah, sebagai mahasiswa, harga diri kita diuji: apakah anda cerdas sbg mahasiswa? Apakah kita dapat menerjemahkan neraca perdagangan ke petani? Apakah kita bisa menyederhanakan integral dan derivasi ke anak anak sekolah desa? Apakah kita bisa menyimpulkan tipe-tipe konflik Johann Galtung untuk diterapkan di persaingan antar tim voli desa di 17an?

Kalau urusan dgn masyarakat bukan masalah, maka timbul masalah dengan teman kelompok. Hidup sebulan, dengan berbagai dinamika, mendengarkan kebodohan dan berbagai kekonyolan mereka, dan merasa jurusan kita di atas yang lainnya. Pertanyaannya; jika kita menempatkan diri sebagai orang tinggi, seperti bos, bukankah sebagai bos yang baik kita harus mengayomi bawahan? Rangkul mereka, ajak diskusi, dengarkan, dan kalau mereka memang bodoh, luruskan. Dengarkan, siapa tau di antara kebodohan mereka ada hal yang sangat bodoh practically tapi ideally brilliant. Siapa tau, ketika mengerti maksud mereka, kita bisa memahami berbagai karakter manusia, dan apa yang membentuk mereka, serta mengerti cara berhadapan dengan orang-orang seperti mereka di masa depan. Ribuan halaman buku, jurnal, media sudah kita baca selama 3 tahun. Ketika ada buku-buku yang sangat berwarna dan beragam, buku dunia nyata yang disebut “manusia”, mengapa kita menolak utk membaca nya? Ya, saya memang kadang merasa terpintar, jurusan saya memang prestisius, tapi dibanding hal lain misal utak-atik motor, bahasa Jawa Krama, ngemong anak anak, mengajar ngaji, budidaya lele, nyebutin judul-judul anime, saya terlihat idiot. See? Being smart is relative, dan alangkah bersyukur nya kita dapat mengenal mereka, mendapat ilmu baru dari mereka. Kalau sudah begini, malu sndri utk merasa sok pintar lalu nyolot, nyinyir, atau menyombongkan diri.

Saran saya, nikmati lah. Never rush anything. Sedang KKN? Nikmati! Masih maba? Nikmati! Sudah lulus, struggle nyari kuliah? Nikmati! Vlog John Green di Venice baru keluar, silakan tonton di Youtube. Inti vlog itu sederhana; the world is what it is, but it is also what we think it is. Cerdas sbg mahasiswa, mengapa begitu susah merubah mindset dunia dengan pikiran kita? Our mind is powerful, apalagi kalo kita cerdas. Merasa cerdas? Ya rubahlah KKN yg “miserable” ini menjadi sesuatu yang nagih, yang bakal kita rindukan ketika kita nanti sedang pusing di depan komputer menerjemahkan transkrip pidato dubes Zimbabwe, atau ┬ásedang panas-panasan di pengeboran minyak di Abu Dhabi, atau sedang bingung menemukan rumus baru untuk mesin waktu. Rubahlah dengan pikiran kita, entah itu dengan menyumbangkan ide, atau cukup dengan merubah mindset kita. Sederhana. [.]


Ditulis pada Juli 2017,
KKN waktu itu.