Yang Sempat Tertulis

Buku-Buku yang pengen dibeli

Sejak beberapa tahun terakhir, saya ternyata sudah mengumpulkan beberapa judul buku yang pengen dibeli. Kadang kalau ke toko buku, saya foto sampulnya, lalu saya masukkan ke notes di HP, “Buku yg mau dibeli”.

Kenapa cuma difoto aja (dan bukan langsung dibeli)? Pertama, karena di meja pun sekarang masih ada beberapa judul yang belum sempat dibaca. Kedua, kadang ada buku lain yang malah membuat saya tertarik dan beli tanpa mikir dulu, seperti Nagarakertagama yang baru-baru ini saya beli di Gramedia.

Di sini saya ingin berbagi aja beberapa judul buku yang belum sempat saya beli tapi sudah saya catat di notes HP.

1. Dari Melayu Menjadi Indonesia

Dari Melayu Menjadi Indonesia

Saya lihat buku ini di BBW tahun 2019 di Serpong waktu itu. Sudah diambil, mau dibayar, tapi ternyata tiap kasir penuh dengan orang-orang bawa 5 troli yang isinya buku titipan semua. Saya mau beli satu buku aja, masa harus antri 3 jam ini?

Akhirnya saya foto saja sampulnya supaya bisa dicari di online shop atau di toko buku lain.

Saya tertarik karena buku ini sepertinya menjelaskan bagaimana bahasa Melayu berubah jadi bahasa Indonesia. Bukan secara seremonial saat Sumpah Pemuda saja, tapi perubahan di lapangan melalui media, politik, dan budaya. Kapan kita merasa bahasa kita berbeda dengan bahasa Melayu? Kapan kita secara sadar berusaha membedakan? Bagaimana prosesnya?

2. Sejarah Arab Sebelum Islam

Sejarah Arab Sebelum Islam

Buku terjemahan, ditulis oleh sejarawan Arab. Dari judulnya saja sudah menimbulkan tanya, “memangnya ada sejarah Arab sebelum Islam?”

Sebagai Muslim, kita pasti diceritakan soal masa kecil Rasulullah (yang memang sih technically itu sebelum Islam). Tapi paling jauh pasti cuma sampai invasi tentara gajah Abrahah kan? Sebelum itu, ada apa?

Cerita Nabi pun selalu lompat, dari Nabi Isa di Yerusalem, langsung loncat 500 tahun kemudian ke Arab saat Rasulullah lahir. Ada apa di Arab sebelum Abad ke-6 M atau bahkan sebelum Masehi? Bagaimana sejarah pra Islam itu membentuk budaya dan ajaran Islam?

3. Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792

Yogyakarta di Bawah Sultan Mangkubumi 1749-1792

Gaya buku ini sepertinya formal-akademis karena mencantumkan periode tahun (ini salah satu tips menulis karya tulis sejarah yang diajarkan oleh Kemdikbud). Menceritakan Yogyakarta di awal berdirinya, di masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwana I.

Sebagai orang Jogja, tentu saya ingin tahu banyak soal ini. Apalagi, sejarah keraton memang jarang dibahas di pendidikan formal (seharusnya jadi mulok, menurut saya). Yang terkenal dari sejarah (Keraton) Jogja cuma 2: Perang Diponegoro dan bantuan Sri Sultan saat Serangan Umum 1 Maret.

Bagaimana pemberontakan Mangkubumi bisa memecah Mataram menjadi 2 (bahkan 3)? Sejauh mana keterlibatan VOC? Bahkan, lebih lanjut, sejauh mana keterlibatan dan pengaruh VOC (lalu kemudian pemerintah Kolonial) dalam tata pemerintahan Kraton? Benarkan Kraton Jogja daridulu sudah merdeka? (spoiler: jawabannya tidak).

4. Geger Pecinan 1740-1743

Kalau ini bahkan lebih awal lagi dibanding masa Mangkubumi. Menceritakan geger pecinan dan aliansi niscaya antara etnis Tionghoa di Jawa (yang sebagian besar kabur dari Batavia akibat dibantai VOC) dengan Mataram (Jawa) untuk melawan VOC.

Secara tidak langsung, geger ini yang membuat Mataram kewalahan, lalu lemah, lalu pecah. Itu secara strategis. Tapi secara historis, kisah ini dapat dilihat sebagai bibit awal persatuan bangsa-bangsa di Nusantara untuk melawan satu penjajah yang sama. Nasionalisme primitif, yang direkatkan oleh musuh bersama.

Saya pribadi sangat berhasrat membaca ini. Mungkin siapapun juga perlu baca, karena dari sini kita dapat tahu bahwa beda etnis dan suku bukan berarti harus berseteru. Yang perlu kita lawan bersama itu penindas.

5. Indonesian Idioms and Expression

Indonesian Idioms and Expressions

Terakhir, buku bahasa Inggris. Rekomendasi Bapak Wahyu Susilo, Executive Director Migrant Care di cuitannya soal TKI yang disebut sebagai “pahlawan devisa. Mengapa disebut “devisa negara”?

Buku ini nampaknya membahas ameliorisasi produk Orde Baru macam itu. “Pahlawan devisa” adalah penghalusan istilah untuk TKI. Biar masyarakat menganggap TKI itu bak pahlawan, yang memang rela berkorban. Padahal, TKI cuma manusia biasa yang butuh hidup. Penghalusan ini seolah menyatakan bahwa “ya wajar hidup susah, wajar berkorban, kan pahlawan”, sehingga menghilangkan kewajiban negara untuk mengayomi dan melindungi mereka.

Kapan Beli?

Nah itu pertanyaannya. Kalau buat saya, buku-buku itu menarik semua. Kapan belinya?

Beli sih gampang, sebenarnya. Tinggal menunggu ada uang, lalu ke Gramed atau beli online. Yang lebih susah, bacanya kapan?

Masih ada beberapa buku yang belum dibaca (coba balik ke paling atas, lihat featured photo tulisan ini, nah semua buku itu belum selesai saya baca). Belum lagi masih sibuk kerja. Belum lagi masih sibuk nonton TikTok dan YouTube.

Ada yang mau baca juga, atau mungkin sudah baca?

[.]

Suka tulisan ini? Yuk, klik tombol di bawah buat dukung penulis terus berkarya. Terima kasih banyak.

Nih buat jajan

«