Muhammad Dito

Ide dan Coretan Sederhana

Demi Tidak Boros, Saya Malah Boros

Dulu saat saya resmi pindah dan kerja di Jakarta, tentu saya girang bukan kepalang. Bisa hidup sendiri, gaji besar pula. Saya menjalani hari-hari awal di Ibukota dengan penuh sukacita.

Satu bulan kemudian, saya mulai lebih waras. Tentu, bisa hidup sendiri. Tapi, gaji besar? Iya, besar. Besar-annya bikin prihatin.

Lalu saya mulai belajar menerapkan hidup hemat. Anti boros. Boros saudara setan, tancap saya dalam prinsip. Saya mulai dari hal-hal yang sederhana: makan sederhana. Warteglah Messiah saya. Sang Juru Selamat tak kenal waktu. Saya lalu makan warteg, setiap hari, selama beberapa bulan.

Saya juga anti binatu. Kalau boros adalah saudara setan, maka laundry adalah menantunya. Apalagi, laundry di Jakarta rupanya mencekik. Lebih kejam dari tengkulak maupun koruptor. Enam ribu untuk sekilo baju kotor, minus setrika, minimal cuci tiga kilo? Maha Suci Tuhan dari kekejaman para pengusaha laundry!

Walhasil, hidup merantau berkawan warteg dan bermusuh binatu membuat saya punya banyak tabungan. Lalu saya putus, pacar lari, otomatis biaya pacaran terpangkas jadi nol. Saya makin kaya. Tabungan makin menumpuk. Dompet makin tebal.

Lalu setelah beberapa bulan, saya berkunjung ke Jogja (dan Purwokerto). Saya dengan bangga bercerita pada orangtua, betapa saya berhasil menumpuk harta begitu banyak. Saya bangga tidak hidup boros di Jakarta.

Tanpa dinyana, komentar orangtua justru berbeda.

“Kamu jangan hemat-hemat banget. Uangnya dipakai aja buat makan enak.”

“Walau nggak boros, jangan hidup susah.”

‘Hidup susah’?

Menderita Demi Tujuh Ribu Lima Ratus Rupiah?

Saya jadi ingat satu hal. Suatu hari, saya berniat memindahkan uang di satu rekening ke rekening lain. Lumayanlah, ada uang sisa di rekening yang jarang terpakai, bisa ditabung di rekening yang aktif, batin saya.

Jelas ada satu kendala: biaya transfer. Rp7.500,00 per transaksi. Saya memutar otak: di mall terdekat, ada ATM yang bisa setor tunai. Jadi saya menyusun rencana: ambil uang di ATM rekening A, jalan ke mall, lalu setor uang itu ke ATM rekening B. Gratis.

Problemnya: ATM rekening A dan mall berjauhan. Sekitar 30 menit jalan kaki. Atau bisa naik bus, 5 menit, tapi bayar Rp3.500,00.

Saya dilema; naik bus atau jalan kaki? Tentu otak anti boros saya bilang agar jalan kaki saja. Bak mendapat bisikan wahyu, saya langsung jalan kaki ke ATM A. Cuaca sedang terik menggigit. Saya basah bermandikan keringat.

Saya segera ambil uang di ATM A. Matahari makin tinggi, awan makin menyingkir, aspal makin berfatamorgana saking panasnya. Tapi apa boleh buat. Saya meninggalkan bilik anjungan tunai yang sejuk dan ber-AC, keluar menantang sang surya.

30 menit jalan ke mall hari itu adalah salah satu 30 menit terpanas dalam hidup saya. Muka saya berminyak tidak karuan. Nafas saya tersengal tak henti-henti. Saya masuk mall, menuju ke basement, mengakses ATM B, memasukkan uang, dan tabungan saya bertambah kaya sekian ratus ribu rupiah.

Bayangkan jika aksi heroik ini tidak saya lakoni. Bisa-bisa saya rugi tujuh ribu lima ratus. Tambah dua ribu lima ratus lagi, saya sudah bisa membeli nasi sayur di warteg. Jelas nominal yang cukup berharga.

Tapi, apakah jalan kaki 30 menit dan berterik ria sepadan dengan tujuh ribu lima ratus? Saya akan jawab “iya” jika ditanya waktu itu. Tapi, jika ditanya sekarang, mungkin “belum tentu”.

Bukan Boros Uang, Tapi Tetap Saja Boros

Mungkin, demi tidak boros, kita rela melakukan hal-hal menderita. Angkat-angkat galon, demi menghindari beli air botol. Jalan kaki, supaya tidak keluar ongkos transport. Makan warteg, demi hemat biaya makan. Dan seterusnya, dan sebagainya.

Saya juga sering sengaja naik bus jika hendak bertemu kawan di suatu tempat. Harus jalan kaki, panas, berpindah-pindah jalur, dan lama menunggu armada? Bukan masalah, asal saya hanya keluar Rp7.000,00 untuk ongkos transport bolak-balik.

Tapi saya sadar, upaya saya untuk tidak boros uang tetap saja memboroskan yang lain. Terutama waktu dan tenaga. Alih-alih lelah dan buang-buang waktu 30 menit jalan ke mall, saya bisa saja transfer uang. 10 detik pun selesai, hanya dengan Rp7.500,00. Alih-alih lelah dan terlambat karena naik Transjakarta, saya bisa saja order ojol. Rp20.000,00, sampai lebih cepat, tidak kucel.

Seperti hukum kekekalan energi, tindakan juga tidak bisa diciptakan atau dimusnahkan: ia berubah jadi pilihan-pilihan lain. Mau tidak boros uang? Bisa. Tapi harus ada yang dikorbankan. Waktu, tenaga, dan lainnya.

Jadi, nasehat orangtua saya kemudian mengingatkan saya untuk tidak perlu memilih jalan menderita. Apalagi jika masih muda. Makan enaklah, beli baju baguslah, bersenang-senanglah. Jangan menumpuk harta sampai nestapa.

Tapi, memang idealnya sih jalan tengah. Tidak boros, tapi tidak juga menderita. Mungkin itu yang perlu dikejar: keseimbangan.

« »

© 2020 Muhammad Dito. Theme by Anders Norén.