6 dan 9 Agustus 1945 menandai akhir dari permainan Jepang di Perang Dunia II. ‘Little Boy’ dan ‘Fat Man’ dijatuhkan oleh AS di dua kota penting Jepang, Hiroshima dan Nagasaki, membumihanguskan negeri sang Kaisar. Sementara dunia merayakan berakhirnya konflik, beberapa mempertanyakan ‘Si Gendut’ dan ‘Si Kecil’ dengan pertanyaan sederhana nan krusial: “Bom atom, bolehkah?”


Juli 1945, Manhattan Project telah berhasil melakukan uji coba bom atom di New Mexico. Melihat keberhasilan uji coba ini dan memperkirakan dampak yang akan ditimbulkan, presiden Harry S. Truman mengirim ultimatum ke Kekaisaran Jepang untuk menyerah atau Sekutu akan mengirimkan “…sesuatu yang belum pernah mereka lihat sebelumnya”. Singkatnya: Jepang tak mengindahkan, AS menjatuhkan bom, Jepang kalah, perang berakhir. Semua terjadi dalam kurun waktu tak lebih dari dua bulan.

Namun di tengah gegap gempita kegembiraan rakyat dan sorak sorai kemenangan pasukan, sekelompok orang mulai menanyakan tindakan AS. Bom atom merupakan hal yang baru, saking barunya hingga terlalu asing bagi masyarakat untuk menilai dampak yang ditimbulkan: apakah kerusakan material yang diciptakan (sebesar itu) diperlukan untuk menghentikan perang? Apakah korban jiwa yang dialami Jepang sepadan dengan korban jiwa di negara-negara jajahan Jepang? Terlalu sulit bagi dunia menilai bom atom ‘Si Gendut’ dan ‘Si Kecil’ sebagai pahlawan atau pandit tanpa pernah ada peristiwa sepadan sebelumnya yang dapat menjadi perbandingan.

Sebagian besar mengambil parameter dari kerusakan yang ditimbulkan, sesuatu yang bahkan menjadi basis pelarangan penggunaan senjata atom hingga kini. Kaum etis dan moralis menitikberatkan dampak bom atom yang sangat masif dan merusak sebagai dasar untuk menganggap tindakan AS tidak dapat dibenarkan, bahkan dalam keadaan perang sekalipun. Hal ini tentu masuk akal, mengingat hampir 39 ribu manusia di Nagasaki dan 60 ribu di Hiroshima musnah seketika akibat ledakan Si Gendut dan Si Kecil. Penciptaan bom atom tak lepas dari teori Einstein mengenai relativitas, namun bahkan Einstein pun menandai tindakan AS ini sebagai state terrorism/terorisme oleh negara. Beberapa pihak menganggap pengeboman ini sebagai kejahatan perang, kejahatan terhadap kemanusiaan, kebencian terhadap ras/etnis tertentu, genosida, dan seterusnya. Perjanjian non-proliferasi nuklir pun berdasar pada prinsip ini.

Senada dengan prinsip kemanusiaan, beberapa pihak juga mengecam pengeboman ini dengan landasan teknis. Dwight Eisenhower, yang waktu itu masih menjadi Jenderal Angkatan Darat AS, menyatakan keputusan presiden Truman ini sebagai “tidak perlu” dan hanya dengan intimidasi saja Jepang sudah akan menyerah. Faktanya, sejak Juli 1945 Jepang sudah dibombardir secara konvensional oleh pesawat B29 milik AS. Perairan Jepang juga sudah diblokade, menghambat suplai barang dan melemahkan kapasitas Jepang dalam perang. Hal ini diperparah dengan bergabungnya Uni Soviet di front Asia Pasifik pada Agustus 1945. Sejarawan Jepang, Tsuyoshi Hasegawa, menyatakan bahwa menyerahnya Jepang ke Sekutu lebih kepada ketakutan Jepang karena bergabungnya Uni Soviet untuk melawan mereka, alih-alih ketakutan akibat dihujani dua bom atom.

AS juga dituduh menggunakan bom atom sebagai bahan “show off” terhadap Uni Soviet sebagai pencegahan dini untuk menekan Uni Soviet jika perang dan aliansi Sekutu telah berakhir. Tindakan ini dinilai banyak pihak sebagai tindakan yang keji karena mengorbankan ribuan rakyat tak berdosa di Jepang demi kekuasaan dan pamor semata.

Namun benarkah pengeboman ini keji?

Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki menunjukkan prestasi besar manusia dalam merekayasa kekuatan nuklir dan menandai era baru manusia. Meskipun menggunakan teknologi baru untuk membunuh umat manusia sama saja memperparah perang, namun beberapa pihak berusaha meyakinkan publik bahwa hal ini memang perlu dilakukan. Presiden Truman telah merencanakan Operasi Downfall untuk menginvasi Jepang daratan jika Jepang tidak segera menyerahkan diri. Operasi ini diperkirakan akan memakan korban jiwa yang lebih besar karena Jepang, alih-alih menyerahkan diri, malah semakin memperkuat diri dengan mempersenjatai sipil menjadi milisi nasional. Bombardir B29, blokade, serta ultimatum AS tidak diindahkan sehingga Presiden Truman merasa tidak ada pilihan lain selain melancarkan operasi yang dapat memperlama perang dan membunuh lebih banyak orang.

Tapi ada solusi praktis: Si Gendut dan Si Kecil.

Pemerintah AS yang cenderung rasional dan pragmatis memandang bom atom sebagai alternatif untuk menghindarkan konflik berkepanjangan jika AS dan Sekutu benar-benar menginvasi Jepang. Di sini lah argumen besar pendukung bom atom—yang mayoritas berasal dari kelompok kanan AS—difondasikan; bahwa Presiden Truman, di tengah tekanan penasehat dan birokrasi yang ia jalani, memilih bom atom sebagai langkah yang paling kecil dampaknya. Memang, 100 ribu korban Si Gendut dan Si Kecil bukanlah hal yang remeh, namun tanpa dijatuhkannya bom atom, perang dunia tidak akan segera selesai di front pasifik. Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki, oleh sejarawan Sadao Asada, dianggap sebagai sesuatu yang diperlukan untuk membuka mata pemerintah Jepang bahwa mereka harus segera menyerah dan mengakhiri perang jika tidak ingin negaranya semakin hancur.

Hingga sekarang, pemerintah AS tidak pernah secara langsung meminta maaf atas peristiwa pengeboman ini. Ini adalah perang, dan segala upaya yang dilakukan agar musuh takluk pada dasarnya legal. Dunia tahun 1945 belum mengenal bom atom, belum mengerti seberapa destruktifnya hingga mereka diledakkan. Barulah kemudian hukum perang dan hukum humaniter dipertegas agar kejadian serupa tak lagi terulang. Dan memang, sepertinya inilah yang penting dalam setiap peristiwa buruk: agar tidak terulang. Akhirnya, pertanyaan atas ‘bolehkah bermain dengan Si Gendut dan Si Kecil?’ memang krusial, namun tak sederhana. [.]