Karena sejatinya, pengetahuan bukan tentang menyalahkan, tapi tentang membuktikan kebenaran.


Alkisah ada dua sahabat sedang berjalan-jalan di alam terbuka pada malam hari yang penuh bintang. Anak pertama—katakanlah bernama A—menyatakan pada anak kedua—katakanlah bernama B—bahwa bintang itu kecil. B tertegun. B seketika menyangkal bahwa bintang itu tidak kecil, namun A tetap bersikukuh. Mereka akhirnya berdebat dan masing-masing tidak mau mengalah dan tetap mempertahankan pendapat masing-masing.

Manakah yang keliru? A tidak pernah meneliti bintang, tidak mengetahui apa itu bintang dalam pandangan astronomi. Kemudian A melihat bintang—yang memang kecil dalam pandangan matanya. A tahu (mendapat pengetahuan) bahwa bintang itu kecil, kemudian ia memutuskan bahwa bintang itu kecil. B yang telah mengetahui hakikat bintang dalam ilmu astronomi, mengatakan bahwa bintang itu besar karena memang ukuran bintang lebih besar dari yang sebenarnya terlihat. Hanya jarak antara bintang dan mereka lah yang membuat bintang terlihat jauh. B memutuskan bahwa bintang itu besar berdasarkan pengetahuannya terhadap bintang. A dan B masing-masing MEMUTUSKAN sebuah PUTUSAN.

Tidak ada yang keliru dalam putusan ini. Hanya yang belum mengetahui apa itu bintang yang keliru karena ia tidak akan boleh dan dapat memutuskan apakah bintang itu kecil atau besar.

A dan B memang membuat putusan, namun ternyata pengetahuan mereka tentang bintang tersebut berbeda. Mengapa? Karena A dan B memutuskan dua macam pengetahuan yang berbeda jenis. A memutuskan pengetahuan khusus, bahwa “dari jarak mereka mengamati, bintang itu kecil.” Sebaliknya, B memutuskan pengetahuan umum bahwa “bintang itu berukuran besar”. Pengetahuan khusus hanya berlaku dalam keadaan tertentu—dalam hal ini keadaan di mana jarak membuat bintang terlihat kecil. Pengetahuan umum berlaku universal dan merupakan kehakikian suatu objek. (Walaupun sebenarnya maksud dari pengetahuan umum sendiri memang sedikit rancu, mengingat bahwa manusia hanya dapat mengetahui hal-hal khusus. Bintang disebut besar pun jika hanya dibandingkan dengan bumi. Jika dibandingkan dengan alam semesta, bintang itu kecil. Di sinilah terlihat kerancuan sebuah hal umum yang ternyata merupakan hal khusus juga jika terdapat dalam suatu keadaan tertentu.)

Pun, masing-masing dari mereka dapat disebut telah menemukan kebenaran. Kebenaran merupakan kesesuaian pengetahuan mereka terhadap obyek tersebut. Andaikata pengetahuan salah satu dari mereka atau mereka berdua kurang sesuai dengan obyek tersebut, bukan berarti mereka salah, hanya kurang pengetahuan. Bintang kecil—seperti kata A—dan walaupun akhirnya secara ilmiah dibuktikan bahwa bintang itu besar berarti A tidak keliru, tetapi hanya kurang memiliki pengetahuan tentang bintang. Pengetahuannya hanya sebatas ­naked visual—mata telanjang.

Tidak puas dengan perdebatan mereka, A dan B datang menghampiri anak ketiga—katakanlah C—yang tinggal di dalam rumah dan tidak pernah keluar pada malam hari dan ironisnya, tidak pernah melihat bintang. A mengatakan bintang itu kecil, sedangkan B mengatakan sebaliknya. Timbullah keraguan dalam diri C apakah ia harus memutuskan bahwa bintang itu kecil atau besar. C tidak berani mengadakan putusan karena ragu. Dia telah mengetahui bahwa bintang adalah benda langit yang muncul pada malam hari, tapi ia tidak pernah melihatnya secara langsung apalagi mencari tahu apa itu bintang sebenarnya. C sebenarnya dapat saja memutuskan karena ia telah tahu, tetapi ia sangsi. Sebab, ia tidak yakin bagaimana ukuran bintang karena adanya kekurangan pengetahuan dalam dirinya.

C kemudian meminta waktu untuk mengetahui lebih lanjut apa itu bintang. Selama berhari-hari ia mencari tahu apa itu bintang dan selama beberapa malam ia keluar untuk melongok bentuk bintang. Setelah yakin akan pengetahuan yang ia miliki, C mengadakan putusan. C telah menemukan kepastian bahwa ada kebenaran dalam observasinya—bahwa ilmu yang ia dapatkan selama beberapa waktu ini telah sesuai dengan obyek yang ia amati. Dapat dikatakan bahwa C telah mendapat keyakinan, terlepas dari apakah ia akan memutuskan bahwa bintang itu kecil atau besar.

A dapat disebut memiliki pengetahuan biasa karena ia memutuskan sesuatu berdasar pada pengalaman dan indera yang ia miliki. Ia selalu melihat bintang itu kecil di langit, dan bahkan seolah dapat ia genggam. Sedangkan B dapat dikatakan memiliki ilmu tentang bintang karena ia memutuskan berdasarkan penalaran. Ilmu yang ia dapat menyatakan bahwa bintang itu besar, dan ia patuh sebab nalar dan logikanya mengiyakan pernyataan tersebut. Mengapa? Karena menurut nalarnya, bahwa bintang besar itu universal. Di manapun di jagat raya ini, bintang akan selalu berukuran besar dan itu bukan pernyataan seorang atau suatu perkumpulan tertentu namun memang disimpulkan berdasarkan keadaan bintang. Obyektif.

Dari manakah diketahui bahwa bintang besar? Ilmu astronomi dapat menjelaskannya menggunakan hukum-hukum fisika berkenaan dengan cahaya, gravitasi dan lain sebagainya. Ada metode yang digunakan dalam hukum tersebut—yang kadang dapat disebut sebagai formula atau rumus. Semua hal tentang ilmu perbintangan ini sistematis karena berhubungan satu sama lain dan memiliki maksud tertentu yakni “untuk mengetahui apa hakikat bintang”—yang dalam hal ini membuktikan ukuran bintang.

Terlepas dari ini semua A, B, dan C tetap berteman baik. Karena sejatinya, pengetahuan bukan tentang menyalahkan, tapi tentang membuktikan kebenaran. [.]


Tulisan ini diambil dari tugas mata kuliah “Filsafat Ilmu” semester 1 saya, 2014.