“…dalam pengorbanan mereka, mereka mengikat semakin kuat persaudaraan antar manusia…”


Pagi itu dunia dikejutkan dengan siaran darurat pemerintah AS di stasiun televisi. Presiden Richard Nixon dengan jas kebesarannya melangkah ke podium, diiringi raut khidmat dan tatapan gelisah, ia mengetuk mikrofon beberapa kali. Dirasa sesuai, ia berdehem, kemudian memandang ke seluruh rekan pers di ruangan tersebut. Tanpa preambule dan membeberkan maksud pidato nya kali ini, rekan pers telah paham, masyarakat AS, serta dunia juga telah paham; malapetaka antariksa yang selama ini ditakutkan AS akhirnya datang.

“Delapan belas Juli sembilan belas enam puluh sembilan,” buka nya. “takdir telah dituliskan, bahwa manusia yang kita kirim ke bulan untuk misi damai, akan tetap berada di bulan dalam damai.”

“Manusia pemberani ini, Neil Armstrong dan Edwin Aldrin, tahu bahwa tidak ada harapan bagi mereka untuk pulang. Tapi mereka juga paham ada harapan bagi umat manusia dalam pengorbanan mereka.”

“Kedua manusia ini gugur dalam mencapai tujuan mulia umat manusia: pencarian akan kebenaran dan pengetahuan.”

“Keluarga dan teman akan berkabung; bangsa dan negara akan berkabung; manusia di seluruh dunia akan berkabung; bumi pertiwi,..” Nixon berhenti sejenak, kemudian dengan nada yang ditinggikan, “…bumi pertiwi, yang telah dengan berani mengirim kedua anak nya ke dunia antah berantah,…” suara Nixon kemudian merendah, seakan berbisik, “…juga akan berkabung.”

“Dalam penjelajahan mereka, mereka mengajak manusia merasa satu; dalam pengorbanan mereka, mereka mengikat semakin kuat persaudaraan antar manusia.”

“Pada masa lalu, manusia menatap langit dan melihat pahlawan mereka dalam rasi bintang. Di masa modern, kita melakukan hal yang sama, namun pahlawan kita adalah manusia nyata yang hebat.”

“Yang lain akan mengikuti jejak mereka, dan mereka pasti akan menemukan jalan pulang. Pencarian manusia tidak akan ditinggalkan. Namun manusia ini adalah yang pertama, dan mereka akan tetap terpatri di hati kita.”

“Bagi setiap manusia yang menatap ke bulan di masa yang akan datang, tahu bahwa ada satu tempat di sudut dunia yang selamanya manusia.”


Setidaknya begitulah pidato darurat yang telah disiapkan, jikalau misi Apollo 11 tidak sukses. Jika ada kesalahan teknis, kecelakaan, malfungsi roket/ulang alik ataupun hal lain yang katastrofik dan membuat Neil Amstrong dan kru lain tidak dapat kembali ke bumi, selamat atau tidak, sudah ada pidato yang cukup membesarkan hati orang-orang yang ditinggalkan oleh sang astronot, dan cukup heroik pula isinya. Cukup unik mengamati pidato yang baru dirilis tahun 1999 ini; mengapa pemerintah AS sampai sejauh itu membuat pidato jaga-jaga bagi misi Apollo 11?

Memang wajar bagi pemerintah membuat pidato cadangan yang berisi belasungkawa bagi sebuah misi riskan bernilai miliaran dolar. Terlepas dari prosedur dan birokrasi AS yang mengharuskan pemerintah menyiapkan pidato cadangan, isi pidato yang nampak heroik dan mengatasnamakan umat manusia tersebut dapat mengungkap cerita lain atmosfer dan gejolak perang dingin. Space race hanyalah bagian kecil dari proyek besar persaingan AS dan Uni Soviet selama beberapa dekade.

Salah satu alasan besar disiapkannya teks pidato itu adalah karena waktu itu NASA sendiri belum benar-benar mengetahui keadaan di bulan. Ilmuwan NASA sendiri tidak yakin jika pendaratan di bulan dapat dilakukan. Pada 1960an NASA masih berjalan sesuai komando militer, sehingga operasi/misi sulit seperti pendaratan di bulan lebih banyak yang tidak mendukung. Bagi militer, kegagalan misi adalah sesuatu yang memalukan; ditambah prinsip militer yang realistis dan memikirkan untung-rugi, misi pendaratan bulan bukan lah hal yang ingin dicapai NASA dalam waktu dekat.

Namun tetap saja misi pendaratan di bulan tetap dilanjutkan, alasannya? Jelas, Moskow.

Dalam persaingan luar angkasa, AS dapat dikatakan relatif tertinggal dibanding Uni Soviet. Pada 1957, Soviet berhasil mengorbitkan satelit pertama di luar angkasa, Sputnik. Pada 1959, Yuri Gagarin dari Rusia menjadi manusia pertama yang berhasil menembus atmosfer; di tahun yang sama satelit Soviet Luna 2 berhasil mencapai bulan. AS tentunya kelabakan; membiarkan Soviet menang sama saja kalah dalam perang teknologi, artinya kalah dalam persaingan besar Barat-Timur. Di sini lah ide mendaratkan manusia di bulan muncul.

Tentu saja misi pendaratan di bulan bukan barang murah. Namun demi mengalahkan Soviet dalam space race, semua fokus misi ruang angkasa kemudian dialihkan ke misi pendaratan bulan. “Selain untuk itu,” ujar presiden Kennedy, “janganlah kita menghamburkan dana sebesar ini karena aku tidak terlalu tertarik dengan ruang angkasa.” Pragmatis, memang. Misi ruang angkasa, bagi pemerintah AS, tujuan utamanya bukanlah misi perdamaian atau pencapaian pengetahuan dan teknologi melainkan politik demi bersaing dengan Soviet.

Singkat cerita, persaingan politik berkedok sains seharga miliaran dolar ini berjalan dengan semestinya dan para astronot dapat menjejakkan kaki di satelit bumi. Walaupun diawali dengan niatan politis, misi Apollo 11 tidak dapat dipungkiri menjadi batu loncatan bagi manusia untuk mengeksplorasi ruang angkasa lebih luas lagi. Terlepas dari tujuan pemerintah AS dan NASA waktu itu, pengorbitan Yuri Gagarin dan pendaratan di bulan menandai era baru manusia space faring species.

Untungnya, alih-alih mendengarkan pidato belasungkawa nan heroik, dunia mendengar telepon presiden Nixon kepada Neil Amstrong ketika di bulan.

“…berkat kalian, langit sekarang menjadi bagian dari dunia manusia,” ujar Nixon bangga. [.]